Pagi itu, dua tim hasil undian yang akan saling berhadapan di partai puncak telah berkumpul di lapangan. Masing-masing tim membentuk lingkaran di sisi lapangannya. Di situ mereka diberikan arahan oleh kapten masing-masing. Mereka saling mengatur strategi.
Tampak di lapangan, Simardan mengarahkan dua rekannya untuk bermain bertahan saja. Tak perlu menyerang, hanya melayani lawan sampai terkuras habis tenaganya.
Di pihak lain, tim Aceh yang dipimpin seorang panglima kerajaan yang juga mahir bermain sepak raga, menginstruksikan kepada timnya agar bermain fokus dengan penuh konsentrasi. Menyerang sedari awal tanpa memberi peluang sedikit pun bagi lawan untuk menyerang balik.
Mereka juga diminta sedapat mungkin menghindari bola jatuh kepada Simardan, baik di kaki, kepala, ataupun badannya. Simardan harus dijaga dan jangan diberi kesempatan untuk mengendalikan permainan.
Sementara itu, di luar lapangan, di dekat salah satu sisi tempat pertandingan, Sang Puteri Tumasik telah diizinkan sang ayahanda duduk di sebelahnya.
Ia diperbolehkan ayahnya duduk di situ setelah berhasil meyakinkan sang ayah bahwa dirinya sudah siap mental, akan tetap tegar apa pun yang terjadi pada hasil pertandingan nantinya.
Setelah sang ayah meyakini kesiapan puterinya, barulah sang raja mengizinkan puteri tercintanya menonton lebih dekat, hampir bersisian dengan lapangan tempat pertandingan.
Di depan tempat duduk puteri dan raja itu sengaja dikosongkan, dibebaskan dari halangan apa pun agar mata mereka bebas menyaksikan permainan. Dua dayang-dayang masih tetap setia memayungi sambil mengipasi sang puteri.
Sepasang mata jeli sang puteri yang hitam indah dan berbinar-binar sudah sedari tadi tak lepas memperhatikan setiap gerak laku Simardan. Sesekali pula sudut matanya mencuri pandang pada gestur tubuh Sang Raja Aceh yang duduk di meja kehormatan di seberang mereka.
Ia tampaknya sudah mulai tak tenang. Duduknya gelisah.
Sang puteri hatinya sudah tak sabar menunggu pertandingan dimulai. Walau duduknya masih ditenangkan di sebelah ayahnya, ia yang juga mulai tampak gelisah. Mulutnya terlihat komat-kamit seakan sedang berdoa.
Disapu-sapunya pundak anaknya supaya dapat menahan diri, bersikap tenang, dan tetap tegar. Tanpa sungkan, sang puteri lalu menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya, seakan meminta dilindungi dan diberikan kekuatan.
Tak lama kemudian, terlihat kedua tim sudah mulai memasuki lapangan.
Di lapangan, anggota tim Aceh masing-masing menadahkan kedua telapak tangannya. Mereka berdoa menurut adab dalam agama Islam yang menunjukkan bahwa mereka semua adalah Muslim.
Sementara itu, tampak pula Simardan berlutut di tanah menghadap ke selatan, ke arah kampungnya. Dalam hatinya, ia meminta restu kepada sang ibu yang jauh di sana untuk memberinya kekuatan.
Cara seperti ini sudah biasa ia lakukan selama ini bila memulai sesuatu tugas berat ataupun sedang menghadapi sebuah ujian.
Tibalah sudah waktunya permainan dimulai.
Tim Aceh terus-menerus menggempur dan menekan tim Simardan tanpa memberi kesempatan untuk membalas. Pukulan-pukulan keras pada bola atau smash dilakukan dengan penempatan bola yang tidak menuju Simardan.
Saat bola raga dari anyaman rotan itu berada di pihak Simardan, mereka berlama-lama memainkannya, mengulur-ulur waktu sesuai arahan Simardan.
Pada masa itu belum ada peraturan permainan sepak takraw seperti sekarang, yang hanya memperbolehkan maksimal tiga kali sentuhan bola oleh satu tim saat bola berada di zona lapangan mereka.
Bila bola sedang dikuasai Simardan, ia pun mengeluarkan seluruh keahlian dan kemampuannya dalam mengolah bola. Seni dan kemampuan bermainnya memang berada jauh di atas yang lain.
Bila bermain dengan bola, tampak ia seakan-akan sedang menari-nari, menyeimbangkan bola di sekujur tubuhnya yang atletis itu.
Kadang bola itu dimainkan di kaki, lalu ke dada, kemudian ke kepala, kembali lagi ke paha. Bahkan terkadang bola rotan itu sampai pula ke pundak dan tengkuknya. Bola itu bagaikan sudah dijinakkan, lalu dikendalikannya sesuka hatinya.
Setelah berlama-lama mempermainkan bola itu, lalu diseberangkannya tanpa niat mengambil poin. Bila bola mati di pihak lawan, maka setelah bola diseberangkan, bola pun akan mati pula di pihak Simardan.
Bila bola mati di pihak Simardan, maka Simardan akan mematikan bola lawan dengan pukulan mautnya yang amat keras, yang tak pernah akan dapat dikembalikan oleh pihak lawan.
Begitulah terus diperbuat Simardan.
Sejak pertandingan dimulai, sampai saat itu belum satu pun poin diperoleh kedua belah pihak. Tim Aceh pun sudah sering meminta waktu kepada juri untuk diberi jeda minum. Mereka terlihat sudah sangat kepayahan.
Sang puteri pun tampak gelisah duduknya. Sesekali ia bangkit dari tempat duduk untuk memperbaiki posisinya. Matanya yang indah mulai terlihat berkaca-kaca. Ia terisak, tetapi menyembunyikannya di balik tengkuk ayahnya yang juga mulai tak tenang.
Rupanya, di seberang mereka, ekor mata Raja Aceh diam-diam juga memperhatikan gelagat mereka. Lain pula halnya dengan Simardan. Sejak awal, ia memang menghindari untuk beradu pandang dengan sang puteri.
Matahari pun mulai meninggi, hampir tepat di atas ubun-ubun.
Para juri yang berjumlah tiga orang itu satu orang di tengah berdiri di atas sebuah bangku di belakang tiang jaring, sementara dua lainnya masing-masing berdiri di belakang lapangan tim yang sedang berlaga saling berpandangan.
Seolah-olah mereka memberi isyarat bahwa pertandingan sudah dapat dihentikan sejenak guna memberikan waktu istirahat, makan siang, serta keperluan lainnya bagi para pemain dan juga segenap penonton.
Akhirnya, mereka pun mendatangi pihak pelaksana pertandingan untuk merundingkannya.
Setelah berunding dan mendapat persetujuan dari Raja Tumasik dan Raja Aceh selaku kapten yang tidak bermain, pertandingan itu akhirnya dihentikan sementara.
Dengan kesepakatan bersama, pertandingan akan dilanjutkan kembali setelah air laut mulai naik pasang pada hari itu, yaitu pada sore harinya.(Bersambung)


