-->

Matinya Transportasi Sungai Bilah - Sungai Barumun Ketika Jalan Trans Pesisir Labuhanbatu Terbuka Perjalanan ke Rantau Prapat Semakin Mudah

Dulu Sungai adalah satu-satunya jalan dari hilir ke huu Sungai Barumun maupun Sungai Bilah. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat Panai Hilir, Panai Tenga

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Oleh: Harunsyah Arsyad

Dulu Sungai adalah satu-satunya jalan dari hilir ke huu Sungai Barumun maupun Sungai Bilah. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat Panai Hilir, Panai Tengah, Panai Hulu, dan Bilah Hilir hidup di atas transportasi air.  Mau ke Rantauprapat? Wajib naik boat kayu 4-6 jam menyusuri Sungai Barumun → Sungai Bilah. Masa itu boat "Film Ria" dan sekitar 15-20 boat lain adalah "bus" dan "truk" nya orang Panai dan Bilah dahulu.

Data Ekonomi Era 1980-an:

- Frekuensi: 15-20 boat berangkat dari Tangkahan Negeri Lama tiap hari

- Komoditas: 60% karet rakyat, 30% hasil kebun, 10% penumpang + sembako 

- Waktu tempuh: Sei. Berombang→ Rantauprapat = 1 hari penuh

Titik Balik Datangnya " Si Kuning -Oranye" PT. Kuk dong 1992-1995

Inilah awal segalanya berubah. Tahun 1992-1995, Pemerintah menunjuk PT. KUKDONG ENGINEERING & CONSTRUCTION sebagai kontraktor utama pembuka Jalan Trans Pesisir Labuhanbatu: Aek Nabara - Tanjung Sarang Elang - Sei Berombang. Proyek ini juga mencakup pembangunan jembatan modular di Bandar Durian / Simpang Halimbe dan Aek Beringin.

Fakta Lapangan Proyek:

1.  Kontraktor: PT. Kukdong Engineering & Construction 

2.  Cakupan: Jalan + Jembatan Trans Pesisir. Termasuk Labuhanbatu Utara

3.  Panjang Ruas: ± 68 Km

4.  Alat Berat: Tidak didatangkan dari Korea. PT. Kukdong memakai armada sewaan standar proyek di Indonesia dengan dominasi warna Kuning Terang untuk Excavator, Bulldozer, Motor Grader, Vibratory Roller merek Komatsu, Caterpillar, Kobelco. Dan warna Oranye/Jingga untuk Dump Truck dan Excavator Hitachi untuk pengerukan rawa pesisir.

Tujuan: Membuka 14.000 Ha lahan sawit dan menghubungkan 23 desa terisolir. Masyarakat menyambut gembira: "Bontagh layi baghulah maghasakan maghdeka kita baya". Rupanya nikmat kemerdekaan itu selama ini belum menyentuh mereka di daerah pesisir Labuhanbatu yang terisolir.

Dampak Langsung : Sungai Kalah Telak dengan Aspal

Setelah jalan tembus tahun 1995, ekonomi Panai berbalik 180 derajat.

Aspek Sebelum 1990 - Era Boat Setelah 1996 - Era PT. Kukdong

Waktu ke Rantauprapat 1 hari via sungai menjadi 3-4 jam darat. 

Ongkos angkut 1 ton TBS Rp 350.000 via boat Rp 120.000 via truk. 

Frekuensi boat 15-20 unit/hari 2-3 unit/hari

Investor masuk  perusahaan sawit. 

Sumber: Wawancara Tokoh Angkutan Sungai Negeri Lama 2018, Arsip Bappeda Labuhanbatu, Truk menang telak: lebih cepat, lebih murah, tidak nunggu pasang surut.

Proses "Kematian" Bertahap 1996 - 2010

1.  1996-2000: Eksodus Pedagang  

Gudang di Tangkahan tutup. Pengumpul pindah ke pinggir jalan trans.

2.  2001-2005: Kolaps Operator  

Biaya dok 1 boat = Rp 20 juta/tahun. Operator "Film Ria" tutup seiring tutup pula bioskop di Sei. Berombang.

3.  2006-2010: Tahap Sisa  

Tinggal 2-3 boat untuk desa tanpa akses jalan.

Data BPS Labuhanbatu 2010: Armada angkutan sungai di Panai Hulu turun 87,3% dibanding 1995. Sebuah Paradoks Pembangunan.

Kita bukan menyalahkan PT. Kukdong. Jalan trans ini membuka isolasi. 

Positif: Harga TBS naik 3x, 23 desa terhubung, lahir ekonomi baru.  

Negatif: Hilang 300+ lapangan kerja nahkoda & buruh dermaga. Identitas "orang sungai" mulai pudar.

Bukanlah maksudnya mematikan yang lama agar yang baru hidup. Tapi inilah realita zaman. 

Kesimpulan : Mengubur Dermaga, Membuka Jalan

Hari ini dermaga-dermaga kayu Sungai Bilah dan Sungai Barumun, mulai dari Negeri Lama, Tanjung Haloban, Sijawi Jawi, dan sekitarnya. Begitu pula Tangkahan Amer-Ika di Tanjung Sarangolang tinggal kenangan. 

Alat berat kuning-oranye PT. Kukdong sudah lama pergi. Yang tertinggal aspal 68 Km dan semakin sepinya Sungai Bilah Sungai  Barumun.

Tugas kita sekarang: Jangan sampai sejarah "Transportasi Air Negeri Lama - Sei. Berombang dan daerah-daerah pesisir Labuhanbatu lainnya" ini ikut terkubur bersama hilangnya dermaga Negeri Lama. 

Sumber: Arsip PU Bina Marga Sumut 1993, Data Bappeda Labuhanbatu, Wawancara Masyarakat,

Share:
Komentar

Berita Terkini