Sudah tiga hari Ongah Gombung, si Raja Ulok, makan dan tidur gratis di kedai kopi Wak Bagan. Kedai itu disebut Kedai Wak Bagan karena pemiliknya, seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan tahun, tinggal di ujung tanjung yang berdekatan dengan tangkahan atau bagan tempat perahu-perahu berlabuh.
Anehnya, sejak Ongah Gombung tinggal di kedai itu, warung Wak Bagan tidak pernah sepi. Justru semakin hari semakin ramai didatangi orang.
Melihat keadaan tersebut, Wak Bagan semakin yakin bahwa ramainya pelanggan itu ada kaitannya dengan jimat yang dibawa Ongah Gombung. Keyakinan itu membuat keinginannya untuk memiliki jimat tersebut semakin kuat.
Apalagi, Ongah Gombung sebelumnya sempat menawarkan jimat itu kepada beberapa orang. Banyak yang berminat memilikinya. Wak Bagan pun khawatir kalau jimat tersebut lebih dahulu jatuh ke tangan orang lain.
Siang itu matahari mulai meninggi. Menjelang tengah hari, kedai kopi Wak Bagan sedang ramai-ramainya. Sebagian pelanggan datang sekadar melepas dahaga, sementara sebagian lainnya mampir untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.
Di tengah keramaian itu, melintaslah di depan kedai seorang pengemis yang sebagian anggota tubuhnya lumpuh dan kedua matanya tidak dapat melihat. Ia dipandu seorang anak muda.
Keduanya berjalan dari satu tempat ke tempat lain meminta belas kasihan orang-orang yang mereka jumpai. Sekilas Ongah Gombung melihat mereka. Tiba-tiba ia memanggil keduanya. “Masuklah kemari,” kata Ongah Gombung.
Pengemis itu menghentikan langkahnya. Dengan dipandu anak muda yang bersamanya, ia kemudian masuk ke dalam kedai. Ongah Gombung lalu meminta beberapa orang yang berada di warung untuk mengosongkan sebuah meja dan membersihkannya.
Setelah meja itu kosong, atas arahan Ongah Gombung, beberapa orang kemudian membantu membaringkan tubuh si pengemis yang lumpuh dan buta tersebut di atas meja.
Suasana kedai yang semula riuh perlahan berubah hening. Para pelanggan mulai memperhatikan apa yang hendak dilakukan Ongah Gombung.
Ongah Gombung kemudian mengambil sebuah uncang kecil dari balik bajunya. Uncang itu dibukanya perlahan. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah batu hitam berukuran sebesar kelereng.
Batu itu kemudian digosok-gosokkannya ke sekujur tubuh si pengemis, mulai dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun. Gerakannya dilakukan berulang-ulang, sementara mulutnya komat-kamit seolah sedang membaca mantra.
Sesekali Ongah Gombung menghentikan gerakannya. Kedua telapak tangannya dijumpakan sejajar di depan dada. Ia duduk dalam sikap seperti orang sedang bersemedi, seakan-akan tengah mengumpulkan tenaga dalam sebelum mengalirkannya ke tubuh si pengemis.
Para pelanggan semakin terpaku. Tak lama kemudian, tiba-tiba tubuh si pengemis terlempar dari atas meja. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sontak terkejut.
Di luar dugaan, pengemis yang sejak tadi tampak lumpuh itu perlahan mulai menegakkan tubuhnya. Ia berdiri tanpa bantuan orang lain. Beberapa saat kemudian, ia mencoba melangkahkan kakinya. Seketika kedai kopi Wak Bagan dipenuhi suara orang-orang yang terperangah menyaksikan kejadian tersebut.
Ongah Gombung kemudian mendekati si pengemis.
Ia meniupkan napasnya tepat ke ubun-ubun pengemis tersebut. Setelah itu, ditiupkannya pula napasnya ke kedua mata dan telinga sang pengemis. Namun, ketika menghembuskan napas ke telinga si pengemis, Ongah Gombung diam-diam membisikkan sesuatu.
Tak seorang pun menyadari percakapan rahasia itu. Ongah Gombung meminta agar si pengemis dan anak muda yang mendampinginya segera meninggalkan tempat tersebut. Keduanya telah mengetahui tempat yang harus dituju.
Di sanalah mereka akan bertemu kembali dan menerima upah atas peran yang telah mereka mainkan. Rupanya, semua yang terjadi sejak awal telah direncanakan. Pengemis yang dikatakan lumpuh dan buta itu bukanlah pasien yang disembuhkan secara ajaib. Ia bersama anak muda yang mendampinginya merupakan bagian dari komplotan Ongah Gombung.
Aksi tersebut sengaja dibuat untuk meyakinkan orang-orang di kedai bahwa Ongah Gombung benar-benar memiliki kesaktian luar biasa.
Dan siasat itu berhasil. Terutama terhadap Wak Bagan. Keyakinan Wak Bagan terhadap kesaktian Ongah Gombung dan jimat yang dibawanya semakin bertambah. Namun, tanpa disadari Ongah Gombung, kabar tentang jimat itu telah menarik perhatian orang lain.
Kala Purba Mengincar Jimat
Malam harinya, ketika kedai kopi Wak Bagan mulai sepi dan sebagian besar orang telah terlelap, seorang tamu tak diundang datang menyatroni kedai tersebut. Ia tidak datang untuk minum kopi. Ia datang untuk mengintai.
Orang itu merupakan pendatang baru di Kampung Tanjung. Dahulu, ia datang ke kampung tersebut dengan menumpang sebuah perahu layar milik seorang saudagar Kampung Tanjung.
Saudagar itu memang sudah berulang kali berlayar dari Kampung Tanjung menuju Tanah Deli, yang pada masa itu berada di kawasan sekitar Labuhan, untuk mencari berbagai barang dagangan yang kemudian dibawa kembali ke Kampung Tanjung.
Pendatang baru itu berasal dari daerah pegunungan yang sekarang dikenal sebagai Tanah Karo.
Namanya Kala Purba.
Nama Kala diberikan oleh kedua orang tuanya karena sebuah peristiwa yang terjadi ketika ia dilahirkan. Saat ibunya sedang berjuang melahirkan dan dibantu oleh seorang dukun beranak, tanpa sengaja sang ibu melihat seekor kalajengking merayap di batang cangkul milik suaminya. Cangkul tersebut biasa diletakkan di dekat pintu, di salah satu pojok rumah.
Peristiwa itu kemudian dianggap sebagai pertanda. Setelah anak laki-laki tersebut lahir, orang tuanya memberinya nama Kala. Sementara Purba merupakan nama leluhur yang kemudian tetap digunakan oleh keturunannya sebagai nama keluarga di belakang nama mereka.
Sejak pertama kali tiba di Kampung Tanjung, Kala Purba memang telah memiliki niat untuk menjadi seorang jagoan atau centeng. Ia berharap dengan menjadi orang yang disegani, dirinya akan lebih mudah mencari penghidupan di kampung tersebut.
Namun, malam itu pikirannya tertuju pada sesuatu yang lain. Dari pembicaraan orang-orang di Kampung Tanjung, Kala Purba mendengar bahwa ada seorang tamu yang menginap di kedai kopi Wak Bagan. Orang itu, kata mereka, bukan orang sembarangan.
Ia disebut sangat sakti karena memiliki sebuah jimat. Bagi Kala Purba, kabar itu merupakan kesempatan. Jika jimat tersebut benar-benar sakti, tentu nilainya sangat tinggi. Maka malam itu ia memutuskan untuk mencurinya.
Dengan hati-hati Kala Purba mendekati rumah pemilik kedai kopi. Ia kemudian merusak jendela dan masuk ke dalam rumah. Langkahnya diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara. Dalam kegelapan malam, Kala Purba bergerak menuju kamar tempat Ongah Gombung tidur.
Sesampainya di kamar, ia melihat Ongah Gombung sedang tertidur pulas. Napasnya terdengar berat, bahkan sesekali terdengar dengkuran.
Kala Purba semakin yakin bahwa inilah saat yang tepat. Ia mendekati tempat tidur. Dengan perlahan tangannya meraih sesuatu yang berada di bawah bantal Ongah Gombung. Sebuah uncang kecil. Tanpa membangunkan si Raja Ulok, Kala Purba mengambil uncang tersebut.
Ia menggenggamnya erat. Ia tidak tahu bahwa benda kecil yang baru saja dicurinya itu akan menyeret dirinya ke dalam sebuah persoalan yang jauh lebih besar.
(Bersambung)
