Malam itu Ongah Gombung tidur dengan lelap di rumah pemilik kedai kopi. Keesokan paginya, setelah sarapan di kedai yang menjadi bagian depan rumah tersebut, wajah Ongah Gombung tampak segar. Ia kembali duduk-duduk di warung sambil menghadap ke jalan.
Kedua kakinya diselonjorkan di atas sebuah bangku panjang. Tubuhnya bersandar lurus ke dinding. Di tangannya tergenggam segelas kopi panas yang diberi gula aren.
Di atas meja di hadapannya terletak seikat kecil rokok daun yang terbuat dari pucuk nipah. Di sampingnya ada sebuah uncang kecil dari kain yang bagian atasnya telah terbuka. Di dalam uncang itu tersimpan tembakau kering berwarna cokelat kehitaman. Aromanya khas dan menyengat hidung bila tercium dari dekat.
Ongah Gombung kemudian mengambil selembar rokok daun dari ikatannya, lalu mengambil selembar lagi. Kedua gulungan kecil itu dibuka dan dikembangkan hingga menjadi lembaran kecil yang terbentang. Keduanya disusun berlapis dan sedikit bertindihan.
Dari dalam uncangnya, ia mengambil sejemput tembakau, kemudian meletakkannya di atas daun tersebut. Dengan cekatan, daun dan tembakau itu dilintingnya menjadi sebatang rokok.
Rokok daun itu lalu diselipkannya di antara kedua bibirnya yang hitam dan tebal. Saat bibirnya terbuka, tampak barisan giginya yang tidak beraturan. Beberapa gigi seri terlihat bertumpuk, tidak rata, dan berwarna kuning kehitaman akibat noda getah tembakau yang lama melekat di sela-selanya.
Setelah rokok terselip di bibir, Ongah Gombung bangkit menuju tungku dapur tempat air untuk membuat kopi dan teh direbus. Ia mengambil sebatang kayu bakar yang ujungnya masih menyisakan bara merah. Dengan bara itu, disulutnya rokok daun yang terselip di bibir.
Sekali disentaknya, asap pun mengepul. Ia mengisap dalam-dalam hingga bara rokok menyala. Asap keluar dari kedua lubang hidungnya yang agak mekar. Setelah itu ia kembali ke bangku panjang. Duduk bersandar ke dinding, kedua kakinya kembali diselonjorkan. Matanya liar memandang ke arah jalan, seolah sedang menunggu sesuatu.
Matahari mulai meninggi.
Satu per satu pengunjung berdatangan ke kedai kopi tersebut. Kebanyakan adalah para nelayan yang hendak melaut. Mereka bercampur dengan pedagang dan orang-orang yang hendak pergi ke pasar, termasuk mereka yang baru selesai berbelanja.
Bangku-bangku di kedai pun mulai terisi.
Ada yang memesan kopi, teh, dan minuman lainnya. Sebagian memesan makanan ringan berupa penganan tradisional yang dimasak dengan cara dikukus, seperti lepat, ketupat, ombus-ombus, ubi rebus dan pisang rebus.
Ada pula gorengan yang dimasak menggunakan minyak kelapa pantai, hasil olahan penduduk setempat. Semakin lama kedai itu semakin ramai. Melihat pengunjung sudah mulai penuh, Ongah Gombung pun mulai menjalankan rencananya.
Ia mulai mangulok mambongak membual.
Di hadapan orang-orang yang sedang menikmati kopi dan makanan pagi, Ongah Gombung mulai membesar-besarkan dirinya. Bualannya mengalir deras. Ia menceritakan bahwa dirinya telah berhasil dan berjaya selama berada di perantauan.
Menurut ceritanya, keberhasilannya itu tidak terlepas dari sebuah ajimat yang diperolehnya dengan susah payah dari sebuah hutan rimba. Ia juga mengatakan bahwa saat itu dirinya sedang berjuang mengobati luka yang ada di tubuhnya.
Cerita itu kemudian dibumbuinya dengan berbagai kisah tentang ilmu pengobatan yang katanya telah dipelajarinya dari sejumlah orang sakti.
Salah seorang gurunya, menurut pengakuannya, adalah seorang sakti yang memelihara seekor monyet putih dan seekor anjing hitam. Kedua binatang itu, katanya, bukan binatang biasa karena dapat mengerti setiap pembicaraan tuannya.
Ongah Gombung terus mengarang cerita.
Ia mengatakan orang sakti itu memiliki seorang anak laki-laki yang sangat nakal. Anak tersebut sering membentak dan menghardik ibunya apabila keinginannya tidak segera dipenuhi.
Karena kenakalannya semakin menjadi-jadi, bahkan sampai mengancam akan membunuh ibunya sendiri, sang ibu akhirnya mengusir anak tersebut dari rumah.
"Entah ke mana perginya anak itu. Sampai sekarang tidak tahu lagi di mana rimbanya," demikian kira-kira bual Ongah Gombung.
Ia kemudian melanjutkan kombur malotup dan bualnya. Orang-orang yang berada di kedai mulai tertarik. Bahkan semakin banyak yang datang hanya untuk mendengarkan ceritanya. Memang Ongah Gombung pandai berbicara. Kata-katanya menarik untuk didengar. Ia tahu bagaimana membuat orang betah berlama-lama mendengarkan ocehannya.
Dengan kepiawaiannya berbicara, ia mampu meyakinkan orang-orang seolah-olah mereka sedang terhipnotis oleh cerita yang disampaikannya, meskipun semuanya hanyalah bualan kosong. Tanpa terasa, rokok daun yang dihisapnya hampir habis satu ikat.
Ia menghisapnya sambung-menyambung tanpa berhenti. Semakin banyak orang yang mendengar, semakin menjadi-jadi pula komburnya. Cerita Ongah Gombung kemudian berubah menjadi semakin menyeramkan.
Ia mengatakan bahwa orang sakti yang menjadi gurunya itu setiap bulan purnama harus mengambil korban seorang anak untuk dijadikan tumbal dan dipersembahkan kepada jembalang penguasa wilayah tersebut.
Darah korban, katanya, akan diminum oleh sang guru untuk menambah kesaktiannya. Mendengar cerita itu, orang-orang mulai merapat. Beberapa di antara mereka berbisik-bisik.
"Pantaslah belakangan ini banyak anak yang hilang di daerah ini."
Ada pula yang mengingat kejadian baru-baru itu, ketika seorang anak dilaporkan hilang. Beberapa hari kemudian anak tersebut ditemukan kembali di sebuah kampung lain dalam keadaan kumal dan linglung.
Bisik-bisik para pengunjung rupanya terdengar oleh Ongah Gombung. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dengan spontan, ia meramu cerita yang baru didengarnya menjadi bagian dari bualannya sendiri.
Dengan penuh percaya diri, seolah-olah benar-benar mengetahui kejadian tersebut, Ongah Gombung mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya, di sebuah kampung di pinggiran Kampung Tanjung, dirinya telah membebaskan seorang anak yang menjadi sandera makhluk halus.
Anak itu, katanya, semula akan dijadikan korban oleh seorang orang sakti.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, orang sakti tersebut tidak lain adalah gurunya sendiri. Menurut Ongah Gombung, karena sang guru tidak mau melepaskan anak tersebut, ia terpaksa melawan gurunya seorang diri.
Pertarungan hebat pun terjadi. Orang sakti itu dibantu dua binatang peliharaannya, seekor monyet putih dan seekor anjing hitam.
"Ilmu kami sebenarnya berimbang," bual Ongah Gombung.
Namun, katanya, ia akhirnya mampu mengungguli ketiganya karena menggunakan ajimat sakti yang diperolehnya dari hutan rimba. Anak yang hendak dijadikan korban itu akhirnya berhasil dibebaskannya.
Setelah itu, Ongah Gombung mengaku memilih pergi menghindar. Ia mengatakan tidak tega membunuh gurunya sendiri meskipun sang guru telah berbuat kejahatan. Cerita itu pun selesai. Namun, justru sejak saat itulah cerita tersebut mulai hidup di tengah masyarakat.
Dari mulut ke mulut, berkembanglah kisah tentang seorang ibu tua yang tinggal di sebelah selatan Kampung Tanjung dan memiliki seorang anak laki-laki yang durhaka. Anak laki-laki itu, menurut cerita yang beredar, telah pergi merantau entah ke mana setelah diusir oleh ibunya sendiri.
Sementara sang ibu, karena menyesal telah mengusir anaknya, mengalami goncangan jiwa hingga menjadi gila. Ia kemudian disebut-sebut membenci anak-anak. Konon, setiap anak yang masuk atau tersesat ke wilayahnya akan dijadikan korban untuk persembahan ritual dan menambah kesaktian.
Cerita yang pada awalnya hanyalah hasil rekayasa Ongah Gombung—si raja kombur—perlahan-lahan menyebar ke tengah masyarakat Kampung Tanjung dan sekitarnya. Dari waktu ke waktu, ceritanya berubah. Setiap orang yang menceritakannya menambahkan bagian-bagian baru sesuai dengan imajinasinya.
Hingga akhirnya, kisah itu menjadi begitu akrab di telinga masyarakat. Nama tokohnya pun kemudian dikenal luas sebagai Simardan, Anak Durhaka. Padahal, cerita yang sebenarnya tidaklah demikian. (Bersambung)