Oleh : Harusnyah Arsyad
Kita tinggalkan sejenak Kampung Tanjung yang mulai ramai dikunjungi dan semakin banyak didatangi pendatang untuk bermukim. Mereka datang dari berbagai penjuru, mulai dari hulu Aek Doras yang kini berada di wilayah Tapanuli dan Samosir, hulu Sungai Silau yang kini masuk wilayah Simalungun, hingga sepanjang pesisir Timur Tanah Andalas.
Para pendatang itu datang dari Aceh, Langkat, Deli, Serdang, Bedagai, Lima Laras (Batubara), Kualuh, Panai, Bilah, Siak, Dharmasraya di Minangkabau, Bangka, Mataram dan Siliwangi di Jawa, bahkan dari Banjar di Kalimantan serta Bugis di Sulawesi.
Mereka tertarik menetap karena posisi Kampung Tanjung sangat strategis dalam jalur perdagangan. Hubungan dagang dengan berbagai negeri, khususnya tanah seberang Semenanjung, dapat ditempuh dengan mudah melalui Selat Malaka.
Pada masa itu, laut dan sungai menjadi sarana transportasi utama. Jalur darat masih sangat sulit ditempuh karena harus berjalan kaki atau menggunakan kuda dengan menembus hutan, mendaki gunung, menuruni lembah dan menyeberangi sungai.
Namun, kita tinggalkan dahulu Kampung Tanjung dengan segala dinamika dan romantika kehidupannya. Termasuk kabar bohong yang disebarkan Ongah Gombung hingga membuat sebagian masyarakat percaya bahwa Simardan adalah anak durhaka yang mendapatkan celaka.
Cerita itu kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Para lelaki membicarakannya melalui kombur-kombur di kedai kopi, sementara kaum perempuan ikut menyebarkannya ketika bertandang ke rumah jiran atau sanak saudara.
Kita tinggalkan dahulu segala kebiasaan masyarakat pesisir pada masa itu. Mari kita mundur beberapa waktu ke belakang, kembali kepada peristiwa amuk Selat Malaka.
Raja Rompak Menemukan Jalan Hidup Baru
Ketika Badogol alias Beng Dong Ghuong menjatuhkan Raja Rompak, ayah angkat Simardan, ke laut, nyawanya sebenarnya nyaris berakhir. Namun kehendak Yang Maha Kuasa berkata lain.
Saat tercebur ke laut, Raja Rompak masih sempat meraih sepotong kayu besar dari pecahan peti yang hancur akibat badai. Dengan kayu itu ia bergelayut di tengah lautan, terombang-ambing mengikuti ganasnya gelombang.
Tubuhnya yang semakin lemah akhirnya dihanyutkan arus hingga sampai ke sebuah tanjung yang berdekatan dengan sebuah selat kecil, yang sekarang dikenal sebagai Selat Panjang. Tanjung kecil itu kini dikenal sebagai Sinaboi di wilayah Riau Daratan.
Pada masa itu, Sinaboi hanya dihuni beberapa rumah panggung milik masyarakat pesisir. Rumah-rumah tersebut berdiri di atas air laut di tepi pantai, bertiang nibung, berdinding bambu dan beratap nipah. Setelah mengalami peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu, Raja Rompak mulai menyadari buruknya jalan kehidupan yang selama ini ditempuhnya.
Ia kemudian meninggalkan kehidupan lamanya yang penuh kekerasan dan kejahatan. Raja Rompak menanggalkan seluruh atribut keduniawiannya dan memilih jalan hidup baru sebagai seorang biksu. Ia tinggal di sebuah kelenteng kecil di kampung tersebut.
Kebutuhan hidupnya sehari-hari diperoleh dari bantuan masyarakat setempat. Penduduk di sana merupakan para pendatang dari pesisir Tiongkok yang membawa kepercayaan leluhur mereka dari negeri asal.
Negeri Simardan Semakin Maju
Sementara itu, jauh di Pulau Bintan, negeri perdagangan yang dibangun Simardan terus berkembang. Beberapa tahun setelah peristiwa amuk Selat Malaka, Simardan telah menjalin hubungan dagang dengan hampir seluruh negeri di pesisir Timur Tanah Andalas.
Hubungannya juga meluas ke negeri-negeri di pesisir Barat Tanah Semenanjung serta pulau-pulau kecil yang tersebar di kawasan Selat Malaka. Hingga suatu hari datanglah utusan dari Kerajaan Tumasik menghadap Simardan.
Tumasik merupakan sebuah kerajaan di sebuah pulau yang dipisahkan selat kecil dari ujung Tanah Semenanjung. Negeri itu kelak dikenal sebagai Singapura. Utusan tersebut membawa undangan dari Raja Tumasik agar Simardan berkenan menghadiri sebuah pesta besar kerajaan.
Pesta itu dirangkaikan dengan Pertemuan Besar Raja-Raja Negeri Sekawasan Selat Malaka. Para raja dari berbagai negeri di Nusantara turut diundang. Demikian pula para saudagar dan mitra dagang dari berbagai negeri yang memiliki hubungan perdagangan dengan kawasan tersebut.
Pada masa itu, Tumasik telah menjadi salah satu bandar penting karena letaknya yang sangat strategis. Negeri pulau tersebut berada di jalur pelayaran yang menghubungkan kawasan Laut China dengan Lautan Hindia melalui Selat Malaka.
Karena itu, kapal-kapal dari berbagai negeri kerap singgah di Tumasik. Lambat laun, tempat tersebut berkembang menjadi bandar perdagangan yang ramai. Kemakmuran Tumasik kemudian menarik perhatian berbagai kekuatan besar yang memiliki kepentingan dagang di kawasan tersebut.
Kondisi itu membuat Raja Tumasik mulai memikirkan masa depan kerajaan dan keselamatan rakyatnya. Ia khawatir kemakmuran yang dimiliki Tumasik justru mengundang kekuatan dari luar untuk menguasai negerinya.
Berhari-hari sang raja memikirkan jalan keluar. Hingga suatu hari, ketika berjalan-jalan di taman istananya, yang dalam kisah ini dikaitkan dengan kawasan Raffles Park di Singapura, sebuah gagasan muncul di benaknya. Ia ingin menjodohkan putri tunggalnya dengan Simardan.
Simardan, Saudagar yang Disegani di Selat Malaka
Nama Simardan sudah tersohor di kawasan Selat Malaka. Ia bukan hanya saudagar muda yang kaya raya, tetapi juga dikenal sebagai seorang pemuda yang gagah berani dan memiliki pengaruh besar di jalur pelayaran kawasan tersebut.
Namanya semakin terkenal setelah berhasil menumpas kelompok bajak laut yang selama bertahun-tahun menjadi momok para pelaut dan saudagar. Keberhasilan Simardan bukan semata-mata karena mengejar hadiah yang pernah dijanjikan para raja.
Ia bergerak karena merasa memiliki tanggung jawab menjaga jalur pelayaran yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekaligus tempat ia membangun kejayaannya. Di balik itu semua, terdapat pula dendam terhadap Badogol yang telah mengkhianati dan mencelakakan ayah angkatnya, Raja Rompak.
Kini Simardan telah menjelma menjadi seorang saudagar muda yang kaya raya dan berhasil membangun sebuah negeri perdagangan yang maju di Pulau Bintan. Raja Tumasik melihat posisi Simardan sebagai kekuatan yang penting bagi masa depan kerajaannya.
Namun, muncul pula kekhawatiran. Bagaimana dengan Kerajaan Samudera Pasai di ujung Barat Andalas dan kerajaan-kerajaan besar lainnya di kawasan Timur?
Menurut kabar yang sampai kepadanya, kedua kekuatan besar tersebut juga berusaha mendekati Simardan karena membutuhkan pengaruh dan kekuatannya, terutama dalam menjaga jalur Selat Malaka.
Karena itulah Raja Tumasik menggagas pertemuan besar tersebut. Pesta akbar itu bukan sekadar acara kerajaan. Di baliknya tersimpan rencana diplomasi untuk mempertemukan para penguasa dan tokoh penting kawasan sekaligus mencari dukungan atas rencana menjodohkan putrinya dengan Simardan.
Berbagai persiapan pun dilakukan.
Tempat penginapan para tamu disiapkan. Makanan dan minuman pesta ditentukan. Aneka hiburan dan pertunjukan dipersiapkan, begitu pula berbagai pertandingan, perlombaan serta tempat-tempat yang akan dikunjungi para tamu.
Simardan Mengingat Sang Ibu
Sahabatnya itu diminta berlayar menuju hulu Aek Doras bersama lima orang pengawal. Tujuan utama mereka adalah sebuah negeri kecil di tepian Aek Doras yang letaknya lebih ke hulu dari Kampung Tanjung.
Negeri itu dalam kisah ini dikenal sebagai Bandar Pulo.
Simardan mengetahui bahwa raja pertama yang membuka negeri tersebut merupakan adik kandung mendiang ayahnya. Dahulu, kedua bersaudara itu meninggalkan kampung asal mereka yang berada di hulu Aek Doras, di tepian Tao Toba.
Mereka membawa keluarga masing-masing dan berangkat menggunakan rakit menyusuri Aek Doras. Perjalanan itu tidak mudah. Arus sungai deras, penuh liku, jeram dan bebatuan, terutama di bagian hulu. Namun mereka tetap bertekad meninggalkan kampung halaman dan mencari kehidupan baru di tempat lain.
Sebab, setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia, kehidupan mereka justru dipenuhi penderitaan. Abang tertua mereka berniat menguasai seluruh areal perladangan peninggalan orang tua yang berada di tepian Tao Toba, yang dalam kisah ini dikaitkan dengan kawasan Porsea.
Untuk menyingkirkan kedua adiknya, ia menebarkan fitnah hingga keduanya tidak lagi disukai sebagian masyarakat. Merasa terus dizalimi, kedua bersaudara itu akhirnya meninggalkan kampung leluhur. Mereka mengembara mencari lahan baru untuk membuka kehidupan.
Sang adik kemudian membuka areal perladangan baru dan bermukim di sana bersama keluarganya. Permukiman itu kelak berkembang menjadi cikal bakal Kerajaan Bandar Pulo. Sementara sang abang, yang tak lain adalah ayah Simardan, membuka perladangan di daerah yang lebih ke hilir Aek Doras.
Kawasan tersebut berada di tepian sungai, di sebuah teluk dengan lubuk yang sangat dalam. Dalam kisah ini, tempat itu dikenal sebagai Teluk Dalam. Dari hulu Aek Doras menuju kawasan tersebut, perjalanan harus melewati sebuah tanjung yang terdapat batu besar, yang kemudian dikenal sebagai Aek Batu.
Di sekitar Teluk Dalam itulah ayah dan ibu Simardan pertama kali membuka hutan untuk dijadikan perladangan setelah meninggalkan kampung asal mereka. Hingga akhirnya sang ayah meninggal dunia karena sakit.
Ia dimakamkan di sana bersama sejumlah benda peninggalan yang dibawanya dari kampung asal, berupa gelang, pisau dan tombak. Benda-benda tersebut sebelumnya merupakan warisan orang tuanya dan digunakan sebagai perlengkapan sekaligus senjata untuk membela diri.
Sebagai bentuk penghormatan, benda-benda yang selalu dibawanya semasa hidup turut dimakamkan bersama jasadnya.
Mencari Jejak Sang Ibu
Setelah ayah Simardan meninggal, sang ibu menyadari bahwa tempat tinggal mereka masih terlalu sepi. Selain itu, lokasinya cukup jauh dari Kampung Tanjung, tempat ia biasa menjual hasil hutan dan hasil ladang sekaligus membeli berbagai kebutuhan hidup.
Akhirnya, sang ibu membawa Simardan meninggalkan perladangan tersebut. Ia kemudian membangun sebuah gubuk sederhana yang menghadap langsung ke sebuah teluk di balik Kampung Tanjung, di sebelah selatan.
Di sanalah perjalanan hidup Simardan bersama ibunya berlanjut. Kini, setelah menjadi saudagar besar dan memiliki negeri sendiri, ingatan terhadap masa lalu kembali muncul. Simardan tidak tahu apakah ibunya masih hidup atau telah tiada.
Karena itu, ia meminta sahabatnya mencari kabar tentang sang ibu. Bila masih hidup, ia meminta agar ibunya dibawa pulang bersamanya. Simardan telah menyiapkan tempat untuk sang ibu di negeri barunya.
Ia bahkan berencana membangun sebuah istana untuk mereka di sebuah pulau kecil di seberang Pulau Bintan, yang dalam kisah ini dikaitkan dengan Pulau Penyengat. Namun jika sang ibu telah meninggal dunia, Simardan meminta agar dibuatkan sebuah tanda di tempat tersebut sebagai pengganti makam yang tidak diketahuinya.
Sebelum kembali dari Bandar Pulo, rombongan itu juga diminta singgah di Teluk Dalam. Simardan berpesan agar mereka mencari makam ayahnya. Jika makam tersebut ditemukan, ia meminta agar makam sang ayah diperbaiki dan diberi tanda agar tidak hilang ditelan zaman.
Terakhir, Simardan menitipkan sebuah pesan untuk Raja Bandar Pulo. Ia meminta sahabatnya memperkenalkan diri dan menunjukkan gelang yang diwarisinya dari ayahnya melalui sang ibu. Gelang tersebut sengaja dititipkan kepada rombongan sebagai tanda pengenal agar Raja Bandar Pulo mengetahui hubungan darah Simardan dengan keluarganya.
Kini, perjalanan utusan Simardan menuju hulu Aek Doras pun dimulai. Di satu sisi, Simardan bersiap menghadiri pertemuan besar para penguasa di Tumasik. Di sisi lain, ia sedang berusaha membuka kembali jejak masa lalu yang telah lama terputus: mencari ibunya, menemukan makam ayahnya, sekaligus menelusuri kembali asal-usul keluarganya.
(Bersambung)