-->

Kala Purba dan Jimat Rante Babi, Akhir Tragis Ongah Gombung

Setelah berhasil melarikan uncang Ongah Gombung yang berisi jimat, Kala Purba tergesa-gesa mengendap-endap keluar dari kedai kopi melalui tingkap yang

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                         Ditulis Oleh : Harunsyah Arsyad 

Setelah berhasil melarikan uncang Ongah Gombung yang berisi jimat, Kala Purba tergesa-gesa mengendap-endap keluar dari kedai kopi melalui tingkap yang sebelumnya telah dirusaknya. Ia kemudian kabur meninggalkan kampung, masuk ke dalam hutan dan menghilang dalam kegelapan malam.

Setelah merasa cukup aman, Kala Purba berhenti dan beristirahat di bawah sebuah pohon rindang di tepi hutan. Dengan penuh kehati-hatian, ia mencoba membuka uncang yang telah dicurinya.

Dari dalam uncang itu dikeluarkannya sebuah benda kenyal dan berlendir berbentuk seperti kalung. Kala Purba yakin benda itulah jimat yang selama ini disebut Ongah Gombung sebagai rante babi.

Tanpa berpikir panjang, benda tersebut segera dikalungkannya ke leher.

Tidak lama setelah dikenakan, kulit leher Kala Purba mulai memerah dan terasa sangat gatal. Ia pun menggaruk-garuk lehernya untuk menghilangkan rasa gatal yang semakin menjadi-jadi.

Awalnya ia menggaruk perlahan. Namun karena rasa gatal tidak kunjung hilang, garukannya semakin keras. Bukannya rasa gatal menghilang, lehernya justru terasa semakin panas dan perih.

Rupanya, lendir dari benda yang diyakininya sebagai jimat tersebut telah masuk ke dalam daging lehernya yang terluka akibat terus-menerus digaruk.

Jimat yang disebut Ongah Gombung sebagai rante babi ternyata hanyalah akar-akaran dari sejenis pohon yang tumbuh di hutan. Akar tersebut mengandung racun dan telah dilumuri dengan lendir sejenis ikan buntal, ditambah getah kayu jelatang serta daun dan kulit pohon beracun lainnya.

Sekeliling leher Kala Purba mulai mengalami luka yang cukup dalam. Darah kental berwarna merah kehitaman mengucur akibat racun yang mulai bekerja.

Malam hampir berganti pagi.

Kala Purba masih terus bergelinjang kesakitan di tempat yang sepi itu. Kondisinya semakin payah menahan rasa gatal, panas dan perih pada luka di lehernya. Akhirnya, ia jatuh tak sadarkan diri. Dalam keadaan tidak sadar, leher Kala Purba perlahan mulai mengeras dan membiru. Racun kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya.

Sesaat kemudian tubuhnya mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya terdiam tak bergerak. Kala Purba pun meninggal dunia seorang diri di tempat tersebut, tanpa seorang pun mengetahui nasibnya.

Uncang Ongah Gombung Hilang

Tak lama kemudian, matahari pagi di ufuk Timur mulai menampakkan sinarnya.Pagi itu Ongah Gombung, si raja kombur, bangun agak kesiangan. Ia segera bergegas bangkit dari tempat tidurnya.

Seperti kebiasaannya setiap pagi, Ongah Gombung mengangkat bantal yang digunakannya untuk tidur guna memastikan uncang-uncangnya masih berada di tempat.

Namun pagi itu ia terkejut. Satu uncang kecil miliknya telah hilang.Menjadi hebohlah kedai kopi Wak Bagan. Ongah Gombung mencak-mencak penuh amarah. Kejadian itu disaksikan orang-orang yang sedang lalu-lalang maupun para pelanggan yang berada di sekitar kedai.

Wak Bagan, sang juragan kedai kopi, merasa tidak enak hati dengan kejadian tersebut. Orang-orang pun akhirnya mengetahui bahwa tamunya telah kehilangan sebuah barang di dalam kedainya.

Untuk menutup rasa malunya, Wak Bagan berjanji akan membantu mencari barang yang hilang itu.

Sebagai gantinya, Ongah Gombung diperbolehkan tinggal, makan dan tidur sepuasnya di rumah Wak Bagan sampai jimatnya ditemukan kembali.


Namun hari demi hari berlalu.

Jimat si raja kombur tidak juga ditemukan.

Ongah Gombung pun terus tinggal di sana. Ia makan dan tidur gratis, bahkan mulai berlaku sesuka hatinya di kedai tersebut.

Lama-kelamaan Wak Bagan menjadi bosan melihat tingkah si tukang ulok.

Tingkah Ongah Gombung semakin hari semakin menjadi-jadi hingga membuat Wak Bagan merasa muak.

Akhirnya, Wak Bagan menyusun sebuah rencana.

Bersama beberapa orang yang dibayarnya, ia mengatur siasat untuk menyingkirkan Ongah Gombung dari tempat tersebut.

Mereka mengetahui bahwa jimat rante babi yang selama ini dibanggakan Ongah Gombung telah hilang.

Mereka pun menganggap si raja kombur tidak lagi memiliki kesaktian seperti yang selama ini dibangga-banggakannya.

Mengintip di Tepian Sungai Silau

Suatu sore, seperti kebiasaannya selama tinggal di rumah Wak Bagan, Ongah Gombung berjalan-jalan ke pasar sekadar mencuci mata.

Setelah puas berkeliling, ia kemudian pergi mandi ke tepian Sungai Silau, tepatnya di sebuah cekungan di salah satu sisi sungai di Kampung Tanjung.

Namun sebelum mandi, Ongah Gombung kembali melakukan salah satu kebiasaan buruknya.

Ia mengendap-endap menuju sebuah tempat tersembunyi di balik semak-semak dan rumpunan bambu yang tumbuh di tepian sungai.

Tempat itu merupakan kawasan yang biasa digunakan anak-anak dara dan kaum perempuan untuk mandi serta mencuci pakaian.

Kawasan tersebut secara turun-temurun dipahami sebagai tempat yang tabu bagi kaum lelaki.

Para perempuan yang sedang mandi dan bercengkerama di sungai itu tidak menyadari keberadaan Ongah Gombung. Mereka asyik bercanda dan tertawa bersama.

Dari balik rumpunan bambu, Ongah Gombung mengintip aktivitas mereka. Ia begitu asyik dengan kebiasaan buruknya hingga lupa bahwa dirinya berada di tempat yang terlarang bagi kaum lelaki.

Namun tanpa disadari Ongah Gombung, sejak tadi ada empat pasang mata yang mengawasi gerak-geriknya dari kejauhan.

Keempat orang itu kemudian bergerak mendekat secara perlahan.

Ongah Gombung sama sekali tidak menyadari kedatangan mereka.

Tiba-tiba mereka menyergapnya.

Ongah Gombung terkejut dan tidak sempat melakukan perlawanan. Mulutnya disumpal dan matanya ditutup menggunakan kain yang telah disiapkan.

Kedua tangan dan kakinya kemudian diikat erat.

Si raja kombur yang selama ini gemar membanggakan keberanian dan kesaktiannya kini benar-benar tidak berdaya.

Keempat orang tersebut kemudian menyeret Ongah Gombung ke tepian Sungai Silau.

Di tempat tersembunyi di bawah rumpunan bambu, Ongah Gombung akhirnya dihabisi. Tubuhnya dibenamkan ke dalam Sungai Silau, kemudian ditinggalkan begitu saja dalam keadaan mengambang di pinggir sungai.

Tak seorang pun tahu bagaimana persisnya akhir perjalanan si raja kombur pada petang itu

Yang tersisa hanyalah kisah tentang seorang Ongah Gombung yang semasa hidupnya gemar membual, mengaku sakti dan menjadikan cerita-cerita tentang dirinya sebagai bahan kebanggaan.

Kini, semua itu berakhir di tepian Sungai Silau, di bawah rumpunan bambu yang sunyi.

(Bersambung)

Share:
Komentar

Berita Terkini