MEDAN – Kritik terhadap implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) di sekolah, terutama yang melibatkan kegiatan berbiaya tinggi seperti studi tur dan praktik renang, mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi.
Yulhasni, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), menilai banyak praktik PjBL di lapangan telah bergeser dari tujuan awalnya. “PjBL seharusnya menjadi proses pembelajaran yang bermakna, bukan justru menjadi beban tambahan bagi siswa dan orang tua,” ujarnya, Sabtu (9/11/2025).
Menurutnya, konsep PjBL idealnya fokus pada integrasi kurikulum dan pengembangan keterampilan peserta didik, bukan pada kegiatan yang sarat dengan transaksi komersial atau pungutan biaya yang tidak transparan. Ia menyoroti praktik pemaksaan biaya, terutama pada kegiatan renang, yang bisa menimbulkan kecurigaan adanya pungutan liar (pungli).
“Kalau biaya dipaksakan dan tidak jelas peruntukannya, ini berpotensi merusak citra pendidikan sekaligus melanggar prinsip keadilan akses bagi semua siswa,” tegas Yulhasni.
Ia juga menilai perlu adanya evaluasi mendalam terhadap substansi pelaksanaan PjBL di sekolah. Banyak kegiatan seperti studi tur, lanjutnya, justru kehilangan nilai edukatif karena tidak memiliki keterkaitan yang kuat dengan materi pelajaran. “Alih-alih menjadi sarana belajar, studi tur seringkali hanya berakhir sebagai wisata tanpa arah pembelajaran yang terukur,” katanya.
Yulhasni menegaskan, model PjBL yang baik semestinya memanfaatkan sumber daya yang tersedia atau terjangkau oleh siswa. “Jika proyek menimbulkan risiko keselamatan atau membebani finansial secara signifikan, sekolah harus mencari alternatif yang lebih inklusif dan aman,” pesannya.
Ia pun mendesak sekolah dan dinas pendidikan agar lebih akuntabel serta memastikan setiap proyek benar-benar memperkuat pemahaman siswa. “Jangan hanya sekadar menggugurkan kewajiban kurikulum dengan kegiatan mahal yang justru berisiko,” pungkasnya.
