Jangan ulangi luka lama orang Medan: mencari uang dari parit.”
MEDAN - Hujan deras yang mengguyur Kota Medan beberapa hari terakhir kembali menyisakan genangan di sejumlah titik. Di kawasan Medan Utara hingga Belawan, air yang seharusnya mengalir ke laut justru menumpuk di jalan dan rumah warga. Bagi mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, pemandangan itu bukan lagi bencana luar biasa — tapi rutinitas yang terus berulang.“Kadang air masuk sampai dapur. Kalau hujan pas malam, kami sudah siap-siap angkat barang ke meja,” kata seorang warga Belawan Lama, dengan nada pasrah.
Fenomena itu, menurut pengamat lingkungan Jaya Arjuna, seharusnya tak perlu terjadi jika pemerintah benar-benar fokus pada solusi teknis yang tepat. Ia menilai bahwa kendala utama penanganan banjir di Kota Medan bukan terletak pada kompleksitas masalah, melainkan pada keseriusan dalam mengeksekusi tindakan di lapangan.
“Masalahnya kan cuma ketemu air di jalan atau kadang masuk rumah. Kok bisa? Tempat laluannya diisi sedimen. Ngatasinya? Angkat sedimennya. Pakai alat yang sesuai dengan karakteristik sedimen, volume, dan posisinya. Sudah. Tak usah banyak teori,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (11/11/2025).
Jaya menilai, persoalan banjir di Medan sudah terlalu lama didekati dengan rapat dan retorika, bukan tindakan nyata. Padahal, kata dia, penanganan bisa dilakukan dengan cepat jika pemerintah mau turun langsung dengan strategi yang tepat.
Banjir Rob Belawan dan Kebijakan yang Tak Arah
Ia juga mempertanyakan arah kebijakan Pemkot Medan dalam mengatasi banjir rob yang terus menerjang kawasan Belawan. Di wilayah pesisir itu, air pasang kerap naik hingga menenggelamkan halaman rumah warga.
“Apa yang direncanakan Ricco dan timnya untuk mengatasi banjir rob Belawan ini? Apa akan membiarkan mereka tiap hari direndam rob?” ungkapnya dengan nada kritis.
Menurutnya, masyarakat di kawasan utara sudah terlalu lama hidup dalam kondisi tergenang, sementara program penanganan yang dijanjikan pemerintah kerap tak kunjung terlihat hasilnya.
Lima Strategi Teknis
Sebagai solusi, Jaya menyebut sedikitnya lima metode teknis yang bisa diterapkan pemerintah dalam mengatasi banjir di kawasan Medan bagian utara:
-
Bendung dan pompa untuk menahan masuknya air laut ke daratan.
-
Kolam retensi atau detensi yang dilengkapi sistem pompa pembuangan.
-
Drainase vertikal, yakni memperbanyak sumur resapan agar air hujan cepat terserap.
-
Drainase horizontal untuk memperlancar aliran air ke sungai utama.
-
Pengerukan sedimen menggunakan alat mekanis sesuai karakteristik lapangan.
Namun, ia menegaskan tak ada satu metode pun yang bisa berdiri sendiri sebagai solusi tunggal. Semua harus dikombinasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Tidak ada satu metode yang sempurna untuk penanganan banjir sebuah kota. Itu fungsi tim untuk menentukan yang terbaik, melaksanakan, mengevaluasi selama pelaksanaan, dan tetap menyempurnakan,” katanya.
Indikator keberhasilan sesungguhnya, lanjutnya, sederhana: ketika hujan turun, tak ada wilayah yang tergenang. “Hasil akhir terbaik adalah bila hujan turun, tidak ada wilayah yang tergenang,” tegasnya.
Jangan Ulangi Luka Lama
Jaya juga mengingatkan agar pemerintah tak kembali menjadikan proyek penanganan banjir sebagai lahan penyalahgunaan anggaran.
“Jangan ulangi luka lama orang Medan: mencari uang dari parit,” ujarnya menutup pembicaraan.
Kalimat itu menampar keras. Sebab di balik setiap genangan, tersimpan kisah warga yang lelah berharap, dan jejak program yang entah ke mana hasilnya.
Selama air masih menunggu untuk mengalir, tampaknya banjir di Kota Medan belum akan benar-benar surut, baik secara harfiah maupun makna.
