-->

Kisah AKBP Yayang Rizki Pratama dan Keamanan yang Tumbuh dari Masyarakat

Tidak banyak polisi yang dikenal karena cabai dan kolam lele.Nama AKBP Yayang Rizki Pratama adalah salah satunya. Sosoknya kerap terlihat tanpa jarak:

Editor: PoskotaSumut.id author photo


MEDAN – Tidak banyak polisi yang dikenal karena cabai dan kolam lele.Nama AKBP Yayang Rizki Pratama adalah salah satunya. Sosoknya kerap terlihat tanpa jarak: duduk di warung kopi bersama pemuda, meninjau kebun kecil di pekarangan warga, atau sekadar bercanda dengan jurnalis yang meliputnya. Di balik seragam dan pangkatnya, Yayang percaya satu hal sederhana:

keamanan tak selalu lahir dari patroli, sering kali ia tumbuh dari rasa memiliki dan harapan. Dari kantor polisi ke kebun cabai beberapa tahun lalu di Asahan, sebuah ide yang terdengar “tidak biasa” lahir:

Polisi menanam cabai bersama masyarakat. Program itu diberi nama Polnabe – Polisi Menanam Cabai. Bagi Yayang, cabai bukan semata tanaman.

Cabai adalah: harga dapur yang sering memicu emosi, sumber penghasilan kecil bagi ibu-ibu, ruang bertemu polisi dan warga tanpa ketegangan. Di kebun cabai itu, orang datang bukan untuk melapor kasus, tetapi untuk bercerita tentang anak, pekerjaan, dan harapan.

Program sederhana itu menjadikannya dikenal luas, bahkan diusulkan untuk Hoegeng Awards 2023. Tapi bagi Yayang, penghargaan bukan tujuan. Ia hanya ingin warga melihat polisi tidak selalu identik dengan sirine dan borgol.

Bertugas, berpindah, tetapi satu hal tak berubah: mendekat

Kariernya berkelok dari satu kota ke kota lain:

Kasat Reskrim Tanjungbalai

Kasat Reskrim Pelabuhan Belawan

Kasat Reskrim Binjai

bertugas di Ditreskrimsus Polda Sumut

Di tempat-tempat itu ia menangani banyak perkara besar, bahkan yang menyita perhatian nasional. Namun di luar ruang pemeriksaan, ia tetap menyisakan waktu duduk bersama warga, tokoh agama, dan pemuda setempat.

Bagi Yayang, merangkul sering kali lebih efektif daripada menggertak. Anak muda, jurnalis, aktivis dirangkul dalam satu meja

Menjelang Pemilu 2024, Yayang dipercaya memimpin Polsek Medan Baru. Ia melahirkan Polnabe Reborn.

Tidak lagi hanya cabai, tidak lagi hanya kebun, kini konsepnya meluas menjadi komunitas anak muda, kegiatan sosial, usaha kecil produktif, peternakan lele di Sarirejo, Medan Polonia

Di situ, polisi duduk satu meja dengan jurnalis, aktivis, dan warga. Berdiskusi tanpa mikrofon, menyusun kegiatan tanpa seremoni besar.

Keamanan, bagi Yayang, bukan proyek. Ia adalah hubungan. Dua melati emas dan tugas baru

Alumnus Akpol 2008 itu kini menyandang pangkat AKBP dan bertugas di Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Mabes Polri setelah mengikuti Sespimmen Dikreg 65 gelombang 2.

Pangkat boleh naik. Jabatan boleh berganti. Namun, satu keyakinan yang dibawanya tetap sama.  Polisi tak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan. Polisi yang memilih jalan memberdayakan

Di banyak tempat, polisi dikenal saat melakukan penangkapan. Yayang justru diingat saat,  mengajak warga menanam, memotivasi anak muda, mendengarkan keluh kesah ibu-ibu, menghidupkan kolam lele yang menjadi sumber penghasilan

Ia seperti ingin mengatakan bahwa keamanan tidak bisa dipaksakan. Ia harus dirawat seperti tanaman yang butuh air dan perhatian.

Bagi AKBP Yayang Rizki Pratama, seragam hanyalah atribut. Pengabdian yang sesungguhnya adalah saat masyarakat merasa.

“polisi itu ada — bukan untuk menakuti, tetapi untuk menemani.”

Share:
Komentar

Berita Terkini