-->

Pupuk Organik Benteng Tani Mampu Ubah Pola Pikir Petani Soal Hasil Panen

Saat ini pola pikir kebanyakan Petani terkait penggunaan pupuk guna meningkatkan hasil panen nya,masih dilakukan secara instan. Tanpa memperdulikan

Editor: PoskotaSumut.id author photo


SERDANG BEDAGAI – Saat ini pola pikir kebanyakan Petani terkait penggunaan pupuk guna meningkatkan hasil panen nya,masih dilakukan secara instan. Tanpa memperdulikan apakah kultur tanah sebagai media tanam,berubah Keras dan berpengaruh negatif karena mempergu nakan pupuk konvensional.

Ini yang dipaparkan oleh Robinhat Sitepu yang sejak dua dekade ini bergulat mempelajari pupuk organik, sekaligus sebagai Pemilik PT Karunia Rotorindo Tani,dengan bendera Benteng Tani saat berbicara didepan para ahli pertanian dari berbagai perguruan tinggi, saat panen raya Padi Organik Tahun ke 6 Musim Tanam ke-13 di Dusun 3 Desa Jambur Pulau,kecamatan Perbaungan kabupaten Serdang Bedagai (Sergai),Senin (26/1/2026).

"Kami sudah mempelajari pupuk organik ini sejak tahun 2006, perjalanan membangun pertanian organik di Indonesia adalah perjuangan panjang yang tidak instan dan penuh tantangan, terutama dalam mengubah pola pikir petani yang selama puluhan tahun bergantung pada pupuk kimia.Masalah utamanya satu: mindset, dimana selama ini petani hanya berpikir secara instan” ujarnya.

Pupuk kimia yang bereaksi cepat membuat pupuk organik dianggap lambat dan tidak praktis, lanjut Robin, kondisi itu mendorong pihaknya pada 2016 mengambil langkah berani dengan menghentikan penjualan dan fokus melakukan riset mendalam terhadap berbagai pupuk organik yang beredar di pasaran.

“Hampir semua petani mengeluhkan hal yang sama: pupuk organik lambat respon. Dari situ kami bertanya, apakah mungkin menciptakan pupuk organik yang ramah lingkungan, tapi cepat bereaksi seperti kimia. Setelah penelitian,tanah sebagai media tanam keras dan rusak akibat pupuk kimia dan tentunya untuk menyuburkan tanah kembali perlu dirangsang dengan bakteri dan ini secara organik” kata Robin.

Melalui proses panjang riset, uji lapangan, dan penyempurnaan formula, pada 2019 lahirlah Pupuk Benteng Tani. Produk ini diformulasikan berbasis organik, namun diperkaya dengan hormon tanaman, GPT, asam amino, dan eco enzyme, sehingga mampu memberikan respon cepat pada tanaman sekaligus memperbaiki struktur dan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

“Ini yang kami sebut pupuk organik rasa kimia, tapi tetap aman bagi tanah, tanaman, dan manusia,” tegasnya.

Pupuk Organik Benteng Tani saat ini sudah dikenal di empat provinsi di Sumatera,bahkan kita sudah melakukan kerjasama dengan Universitas Pertanian Malaysia (UPM) yang berada di Negeri Selangor Malaysia,dan saat ini sudah hadir utusan dari UPM ditempat ini,imbuhnya 

Robin juga membuktikan efektivitas Benteng Tani. Pada pertanaman padi organik yang hanya dikombinasikan dengan kopi dan kotoran ternak, pertumbuhan tanaman setara dengan pertanian kimia. Sejumlah petani bahkan sempat meragukan karena hasilnya dinilai “terlalu bagus” untuk ukuran organik.

Tak hanya berorientasi bisnis, PT Karunia Rotorindo Tani juga mendirikan Yayasan Tata Peduli Tani Nusantara. Melalui yayasan tersebut, pupuk organik dan edukasi pertanian telah disalurkan secara gratis kepada lebih dari 5.000 petani di empat provinsi.

Sedangkan Duta Organik Asia,  Soekirman yang juga Dosen Pertanian yang dikenal Orang Jawa tapi Ahli Budaya Batak menegaskan,bahwa pertanian organik merupakan solusi jangka panjang atas kerusakan tanah, krisis iklim, dan ketergantungan petani terhadap input kimia. Ia menekankan bahwa meski tidak instan, pertanian organik terbukti menekan biaya produksi, menjaga kesuburan tanah, serta meningkatkan kesehatan petani dan konsumen.

“Organik bukan sekadar metode bertani, tetapi gerakan menjaga bumi dan kedaulatan pangan,” tegas Soekirman, seraya mendorong agar praktik organik yang telah berhasil dapat direplikasi secara luas di Sumatera Utara dan daerah lain di Indonesia.

Soekirman yang juga mantan Bupati dan sebelumnya Wakil Bupati di Sergai ini menambahkan,kami baru bekerjasama dengan Benteng Tani Pupuk Organik sekitar dua tahun lalu,tapi kami sudah merasakan hasilnya dilahan milik Petani organik di Lubuk Bayas,Dolok Masihul dan beberapa daerah lainnya di Sergai.

"Disini kami paparkan grafik penanaman padi organik sejak tahun 2020 hingga awal 2026,artinya tahun ke 6  musim tanam ke 13,berikut grafik dan datanya. Ini juga tidak terlepas kerjasama dan peran dari BMKG,karena kita bisa mengetahui kondisi cuaca dan prakiraan yang dikeluarkan oleh BMKG Stasiun Klimatologi,guna pola tanam selanjutnya. Sebagai yang terlihat dalam grafik ini,ada Kohe (Kotoran Hewan), POC (Pupuk Organik Cair) dari Benteng Tani dan hasilnya perhektar kali ini diper kirakan 7,1 Ton/hektar dengan total biaya termasuk upah  panen dan Pajak sekitar Rp 10.812,526",papar Soekirman.

Kadis Pertanian Sergai,Deddy Iskandar dalam sambutannya menjelaskan kalau lahan pertanian padi saat ini ada 30.000 hektar di Sergai.

Deddy juga mengakui kalau saat ini sulit merubah mindset petani dari mempergunakan pupuk kimia kepada pupuk organik.

"Petani hanya mengejar cepat panen dan kalau bisa pastinya bagus serta harga gabah yang tinggi,tanpa pernah memper hitungkan kerusakan alam yang sudah dibuatnya. Pemerintah tidak mampu merubah persepsi ini,karena lahan yang dipergunakan adalah milik pribadi", tandas Deddy.

Secara simbolis dipandu Duta Organik Soekirman,para Peneliti dan Ahli Pertanian dari berbagai Perguruan Tinggi di Medan,Dinas Pertanian - Ketapang Provsu dan lainnya lakukan panen padi organik. ( biet )

Share:
Komentar

Berita Terkini