MEDAN – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan bahwa penanganan sampah menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Kota (Pemko) Medan, seiring meningkatnya volume sampah dan keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Hal tersebut disampaikan Rico Waas saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Ketua Komisi D, Yuke Yurike, di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, Rabu (1/4/2026).
Turut mendampingi Wali Kota Medan dalam pertemuan tersebut antara lain Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdako Medan Citra Effendi Capah, Kepala Bappeda Ferry Ichsan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Melvi Marlabayana, serta Kepala Dinas Perkimcikataru John Ester Lase.
Produksi Sampah Medan Capai 1.500 Ton per Hari
Dalam sambutannya, Rico Waas menjelaskan bahwa Kota Medan sebagai kota terbesar di wilayah barat Indonesia memiliki tingkat kompleksitas tinggi, termasuk dalam pengelolaan sampah.
Dengan luas wilayah sekitar 265 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa pada malam hari serta meningkat hingga 4 juta jiwa pada siang hari, produksi sampah di Kota Medan saat ini mencapai 1.300 hingga 1.500 ton per hari.
Menurutnya, jumlah tersebut dapat meningkat signifikan saat terjadi bencana, seperti banjir yang melanda pada November lalu.
"Ketika banjir terjadi, produksi sampah bisa meningkat hingga 3.000 ton per hari, bahkan sempat mencapai 7.000 ton dalam sehari karena banyaknya barang rusak yang menjadi sampah," ujarnya.
TPA Terjun Terancam Overload pada 2029
Rico Waas mengungkapkan bahwa saat ini Kota Medan hanya memiliki satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yakni TPA Terjun, dengan luas sekitar 14 hektare.
Namun, dari total luas tersebut, hanya tersisa sekitar 2 hingga 3 hektare yang belum terisi, sementara timbunan sampah telah mencapai sekitar 600.000 ton.
"Kalau ini tidak segera diatasi, diperkirakan pada 2029 TPA Terjun akan mengalami overload. Ini tentu menjadi ancaman serius bagi lingkungan," tegasnya.
Pemko Medan Siapkan Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Rico Waas menyebutkan bahwa Kota Medan telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 kota di Indonesia yang mendapatkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Pemko Medan, kata Rico, telah menyiapkan lahan seluas sekitar 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah sekaligus pembangkit listrik.
"Kami sudah menyiapkan lahan sekitar 5 hektare. Nantinya energi yang dihasilkan dari pengolahan sampah akan dijual ke PLN," jelasnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah membutuhkan anggaran yang sangat besar.
Berdasarkan hasil studi banding ke Jakarta, pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) diperkirakan membutuhkan biaya hingga Rp1,7 triliun.
"Dengan APBD Kota Medan sekitar Rp7 triliun, tentu ini sangat berat jika hanya mengandalkan anggaran daerah. Karena itu, dukungan pemerintah pusat sangat kami harapkan," ungkapnya.
Gerakan Gotong Royong Libatkan 3.000 Personel
Selain pembangunan fasilitas pengolahan sampah, Pemko Medan juga terus mendorong gerakan kebersihan berbasis masyarakat.
Beberapa program yang telah dijalankan antara lain kegiatan gotong royong rutin “Sapa Warga” setiap Minggu serta “Gotong Royong Raya” yang melibatkan sekitar 3.000 personel dari 21 kecamatan untuk menangani titik-titik sampah kritis di Kota Medan.
Komisi D DPRD DKI Jakarta Soroti Perilaku Masyarakat
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengatakan bahwa persoalan sampah juga menjadi tantangan besar di Jakarta, meskipun didukung anggaran yang besar.
Ia menyebutkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari pengurangan di hulu hingga pengolahan di hilir.
"Yang paling sulit itu memilah sampah dari sumbernya. Ini yang terus kami dorong, termasuk melalui regulasi dan sosialisasi," ujarnya.
Yuke berharap kunjungan kerja tersebut dapat menjadi momentum untuk saling berbagi pengalaman serta mencari solusi bersama dalam mengatasi persoalan sampah di daerah masing-masing.
Kolaborasi Antar Daerah Jadi Kunci Solusi Sampah
Menutup pertemuan tersebut, Rico Waas menegaskan bahwa Pemko Medan terus berupaya menambah ketersediaan lahan guna mendukung pengelolaan sampah jangka panjang.
Ia berharap sinergi antar daerah dapat menjadi solusi dalam menghadapi persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
"Komunikasi dan kolaborasi antar daerah, baik eksekutif maupun legislatif, sangat penting. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama, yakni memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," pungkasnya.
