BERASTAGI - Guna menekan angka pencemaran lingkungan sekaligus mengedukasi warga terkait pemanfaatan limbah nonorganik, masyarakat Desa Gongsol bersama mahasiswa lintas komunitas menggelar aksi bersih lingkungan di kawasan Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Minggu (31/5). Tumpukan sampah plastik yang berserakan di sejumlah titik desa dikumpulkan untuk diolah menjadi ecobrick.
Hari itu, sampah yang biasanya berakhir di pembakaran atau mengotori parit-parit desa, naik kelas. Lewat sentuhan kreativitas, warga dan mahasiswa menyulapnya menjadi ecobrick: bata ramah lingkungan yang kelak akan menjadi fondasi fasilitas publik desa.
"Tantangan yang kami hadapi adalah membangun pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap pengolahan sampah plastik melalui ecobrick, karena tidak semua peserta maupun warga telah familiar dengan metode tersebut. Oleh karena itu, kami melakukan pendekatan yang komunikatif dan memberikan pendampingan secara langsung selama kegiatan berlangsung," kata Rafiq Khalid Izzulhaq, selaku Ketua Panitia PEKOMSI 2026
Tangan-tangan mereka cekatan. Potongan-potongan limbah plastik nonorganik mulai dari bungkus jajanan hingga kantong kresek bekas dimasukkan helai demi helai ke dalam botol plastik kosong. Menggunakan sebilah tongkat kayu kecil, plastik-plastik itu ditekan sekuat tenaga hingga memadat.
Hari itu, sampah yang biasanya berakhir di pembakaran atau mengotori parit-parit desa. Lewat sentuhan kreativitas, warga dan mahasiswa menyulapnya menjadi ecobrick: bata ramah lingkungan yang kelak akan menjadi fondasi fasilitas publik desa.
Aksi nyata bertajuk Penyuluhan Komunikasi Sosial (Pekomsi) 2026 ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (HMJ IKO) FISIP UMSU, berkolaborasi dengan komunitas Tangan Edukasi.
"Berdasarkan observasi awal, kami melihat bahwa kesadaran pengelolaan sampah masih perlu ditingkatkan, sementara mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani yang lebih fokus pada aktivitas pertanian. Karena itu, kami ingin membangun kesadaran lingkungan melalui generasi muda sebagai agen perubahan," kata Adrin Satria Nugroho, ketua HMJ IKO FISIP UMSU
Dengan memisahkan sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik), sebuah kesadaran baru pun lahir. Dampaknya sangat membuka mata mereka mulai menyadari bahwa sampah tidak boleh dibuang begitu saja. Jika masyarakat memahaminya dengan benar, sampah-sampah tersebut terutama sampah kering bisa didaur ulang dan diubah menjadi barang yang kembali bernilai guna, bukannya menumpuk mengotori tanah subur desa mereka.
Selain dampak ekologis yang nyata, kehadiran Tangan Edukasi Indonesia di Desa Gongsol juga menjadi jembatan emosional bagi anak-anak yang sering ditinggal bertani oleh orang tuanya. Melalui wadah kerelawanan ini, generasi muda Sumatera Utara yang tergabung sebagai relawan aktif berbagi kebahagiaan, bermain, dan membimbing anak-anak desa untuk mengekspresikan kreativitas mereka.
