Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad
Tanjung Leidong, Kualuh Hilir, Labura memang surganya hasil laut. Tapi yang paling terkenal dan bikin ketagihan satu provinsi itu ada satu: Kerupuk Udang Ledong. Renyahnya bukan main, gurihnya tiada tanding, dan kalau digoreng baunya bisa ngundang satu rukun tetangga datang bawa piring.
Alkisah, Wak Badol baru pulang dari pasar borong tiga kaleng besar kerupuk udang mentah khas Ledong. Rencananya mau dibawa jadi oleh-oleh ke rumah menantunya di Medan.
Demi keamanan, kaleng itu dibungkus berlapis-lapis pakai plastik hitam besar, lalu diikat kencang pakai tali rapia kuning. Jadilah bentuknya bulat, hitam, dan kelihatan persis seperti paket selundupan kelas berat.
Karena bagasi bus KUPJ sudah penuh sesak, mau tak mau kaleng raksasa itu dipangku Wak Badol sepanjang jalan. Dan kita tahu sendiri kan jalan Kualuh itu isinya lubang dan goyangan maut. Jadilah kaleng itu bunyi "klentang-klentung" terus.
Di tengah jalan, naiklah seorang bapak-bapak berseragam parlente nampaknya sedang bertugas kesana dan mau pulang ke Medan. Dia duduk pas di sebelah Wak Badol. Dari awal dia sudah curiga. Matanya bolak-balik ngelirik bungkusan di pangkuan Wak Badol.
"Maaf Wak... itu isinya apa ya? Kok besar, hitam, dan berat kali. Kayak rahasia negara," tanya si bapak berbisik.
Wak Badol ini orangnya suka becanda tapi mukanya datar kayak papan. Dia lihat kesempatan emas buat menjahili.
"Oh ini? Sssttt... jangan kuat-kuat cakapnyo Pak. Ini Ledong," bisik Wak Badol nyaris hanya ujungnya saja terdengar sambil naikin alis.
Spontan si bapak pucat. Di telinganya yang lagi tegang itu, kata "Le...dong" kedengarannya seperti "Ledakan" atau "Meledak".
"Hah?! Nge... Bommm?! Maksudnya bisa meledak?!" suara si bapak mulai gemetar. Supir bus dari depan juga langsung pasang kuping lewat spion.
"Iyo Pak. Ini bahayo. Kalo kono miyak panas, dio langsung malodak! Daghi kocik biso mengimbang jadi bosagh kali! Makonyo haghus dijago botul," jawab Wak Badol serius. Dia memang lagi ngomongin proses goreng kerupuk.
Mendengar kata "minyak panas" dan "mengembang besar", tamatlah riwayat perasaan si bapak. Dia langsung menyimpulkan Wak Badol bawa bom kimia cair yang sensitif sama suhu panas.
"SUPIIR!!! PINGGIIR PIIIR!!! ADA BOM KIMIA DI BUS KITA! DIA BAWA BAHAN PELEDAK NGEBONG!!!" teriak si bapak histeris.
Bus KUPJ langsung ngerem mendadak sampai ban menjerit "Ciiiieeettt!". Satu bus panik. Ada yang mau loncat dari jendela, ada yang udah komat-kamit baca Yasin. Supir langsung buka pintu sambil teriak, "HAMBURRR! KELUAR SEMUA!"
Dalam 3 detik bus kosong melompong. Tinggal Wak Badol sendiri di dalam, masih duduk tenang memeluk kaleng kerupuk dengan wajah bingung.
Dari balik pohon mahoni, si bapak dan supir mengintip sambil pegang pengeras suara pinjaman dari warung. "PAK! LETAKKAN 'NGEBONG' ITU PELAN-PELAN DI LANTAI, LALU KELUAR DENGAN TANGAN DI ATAS!"
Wak Badol menghela napas. Dia robek plastiknya, buka tutup kaleng, lalu jalan keluar sambil pegang segenggam kerupuk udang mentah yang lebarnya sekepal.
"Alamak Pak... Ini Kaghupuk Ledong! Kaghupuk udang dari Kualuh Hiligh! Memang kalo kono miyak panas dio 'malodak' jadi bosar dan gaghing! Bukan pala bom!" teriak Wak Badol sambil mengunyah satu kerupuk mentah karena kesal. Keras, tapi tetap dia kunyah.
Suasana tegang langsung berubah jadi hening. Si bapak melongo. Supir menepuk jidat sekuat tenaga.
"BAH! KERUPUK NYA RUPANYA! TADI MACAM KUDONGAR 'GEBOM' PELEDAK!" teriak penumpang yang tadinya sudah pasrah mau mati.
Akhirnya perjalanan lanjut lagi. Buat nebus rasa bersalah karena bikin satu bus senam jantung, si bapak berseragam patungan sama supir beliin Wak Badol es tebu di rest area.
Wak Badol cuma senyum mesem. Modal sebut "Ledong" aja, satu bus bisa heboh. Itulah dia, kekuatan kerupuk kebanggaan Labura 😆
