Oleh: Harunsyah Arsyad
Potret Labuhanbatu dari ketinggian: hamparan hijau sawit sejauh mata memandang
Kabupaten Labuhanbatu kini lebih mirip "lautan hijau". Dalam dua dekade terakhir, kelapa sawit menggantikan hutan, kebun karet, dan lahan pertanian warga.
Dari hulu Sungai Barumun di Labuhanbatu Selatan, hulu Sungai Bilah di Labuhanbatu Induk, hingga hulu Sungai Kualuh di Labuhanbatu Utara, sawit menjamur tanpa jeda.
1. Ekonomi Bergerak, Lahan Menyusut
Data BPS Labuhanbatu 2025 mencatat luas perkebunan sawit rakyat dan perusahaan mencapai lebih dari 180 ribu hektar. Angka itu naik hampir 3 kali lipat dibanding tahun 2005.
Bagi warga, sawit berarti kepastian. Saat harga Tandan Buah Segar (TBS) tembus Rp3.000/kg, banyak petani karet beralih haluan.
"Dari karet sebulan hanya dapat Rp2 juta. Pindah ke sawit bisa Rp5–6 juta. Biaya sekolah anak, berobat, semua dari sawit," kata seorang petani di Bilah Hulu.
Efek bergandanya terasa. Pabrik CPO bermunculan. Lapangan kerja terbuka. UMKM sparepart, bengkel, warung makan, hingga jasa angkutan ikut hidup karena roda ekonomi sawit berputar setiap 2 minggu sekali saat panen.
2. Konsekuensi di Balik Hijau Sawit
Namun "hijau" sawit menyimpan persoalan.
Pertama, Air. Sungai-sungai kecil banyak yang tercemar, mengalami pendangkalan, bahkan hilang. Limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan sedimentasi jadi keluhan warga di sepanjang Sungai Barumun, Sungai Bilah, dan Sungai Kualuh.
Kedua, Pangan. Lahan padi dan kebun sayur berkurang. Labuhanbatu yang dulu dikenal sebagai sentra beras dari Ledong–Kualuh, kini sebagian besar lahannya beralih jadi sawit.
Ketiga, Konflik. Sengketa lahan antara perusahaan, koperasi, dan masyarakat masih kerap terjadi, terutama di wilayah transmigrasi dan kawasan hutan negara.
"Kita tidak anti sawit. Tapi harus ada tata kelola. Jangan sampai anak cucu kita hanya kenal sawit, tapi kehilangan sungai dan sawah," ujar seorang aktivis lingkungan di Rantau Prapat.
3. Jalan Tengah: Menuju Sawit Berkelanjutan
Pemkab Labuhanbatu mulai mendorong sertifikasi ISPO untuk sawit rakyat. Tujuannya jelas: produktivitas naik, tapi tetap menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sempadan sungai.
Beberapa koperasi juga mulai menguji coba intercropping — menanam jagung dan pisang di sela-sela sawit. Harapannya, keragaman pangan bisa kembali.
Seorang dosen pertanian ULP Rantau Prapat menekankan pentingnya "zonasi".
"Ada zona untuk sawit, ada zona untuk hutan, ada zona untuk pangan. Kalau semua jadi sawit, kita rapuh saat harga anjlok," katanya.
Labuhanbatu tidak bisa lepas dari sawit. Itu sudah jadi tulang punggung ekonomi. Pertanyaannya sekarang: bisakah sawit hidup berdampingan dengan sungai, sawah, dan hutan?
Jika semua lahan berubah jadi sawit, kita mungkin cerah hari ini. Tapi bagaimana esok lusa? Saat bencana datang karena kerusakan alam, atau saat komoditas ini ditolak pasar internasional karena isu deforestasi. Ke mana kita menyandarkan ketahanan pangan?
DATA CEPAT SAWIT LABUHANBATU 2025
- Luas: ±180.000 Ha
- Produksi CPO: ±3,2 juta ton/tahun
- Pekerja: ±75.000 orang
- Masalah utama: Sedimentasi sungai, alih fungsi lahan pangan, konflik lahan
DUA SISI MATA UANG SAWIT
Sisi Positif: Penopang Kesejahteraan
1. Motor Ekonomi: Sawit menyumbang PDRB terbesar bagi Labuhanbatu, Labura, dan Labusel. Perputaran uang dari TBS menjaga daya beli masyarakat.
2. Pengentasan Kemiskinan: Lewat skema mandiri dan plasma, ribuan petani naik kelas. Hasil panen rutin membiayai anak sekolah hingga kuliah.
3. Penyerapan Tenaga Kerja: Dari buruh dodos, supir truk, pegawai PKS, hingga pengepul — ratusan ribu orang bergantung pada industri ini.
4. Stimulus Infrastruktur: CSR perusahaan membangun jalan, jembatan, dan fasilitas kesehatan di pelosok.
Sisi Negatif: Tekanan Lingkungan dan Sosial
1. Alih Fungsi Lahan & Deforestasi: Hutan tropis menyusut drastis. Keanekaragaman hayati lokal terancam.
2. Krisis Air dan Tanah: Sawit rakus air. Sumur warga kering saat kemarau. Kesuburan tanah turun akibat ketergantungan pupuk kimia.
3. Ancaman Banjir: Hilangnya hutan membuat daya serap air berkurang. Banjir di bantaran Sungai Bilah dan Barumun kini lebih sering terjadi.
4. Konflik Agraria: Perluasan lahan memicu sengketa tumpang tindih. Fluktuasi harga CPO global juga membuat ekonomi petani rentan.
KRONOLOGI: MENGAPA LABUHANBATU RAYA PENUH SAWIT
1. Era Kolonial - 1915
Setelah sukses di Deli, investor Belanda membuka kebun sawit komersial pertama di Labuhanbatu di Padang Halaban tahun 1915. Gelombang pekerja migran Jawa pun datang.
2. Pasca Kemerdekaan - 1960-an
Aset Belanda dinasionalisasi jadi PTPN. Lahan sawit negara diperluas masif di Membang Muda, Aek Nabara, hingga Negeri Lama.
3. Program PIR-Bun - 1980-an
Pemerintah lewat Bank Dunia menggulirkan Perkebunan Inti Rakyat. PTPN jadi "inti", rakyat jadi "plasma". Sistem ini sukses mengubah pola pikir: sawit lebih menguntungkan dan panennya rutin.
4. Serbuan Swasta - 1990-an
Konglomerasi nasional masuk. Contoh: PT Cisadane Sawit Raya buka lahan besar di Sei Tampang, Negeri Lama tahun 1990. PKS swasta tumbuh di tiap kecamatan.
5. Konversi Mandiri - 2000-an hingga Sekarang
Petani menebang karet tua dan menggantinya dengan sawit secara swadaya. Kini hampir 40% sawit Labuhanbatu dikelola petani mandiri.
Gabungan sejarah kolonial, peran negara, modal swasta, dan semangat warga inilah yang membuat Labuhanbatu Raya menjadi salah satu "mesin" CPO terbesar di Sumatera Utara.
