-->

TITI GANTUNG MEDAN: Saksi Bisu di Samping Stasiun Besar Medan yang Melihat Medan Berubah Selama 140 Tahun

Titi Gantung bukan sekadar jembatan penyeberangan. Ia bagaikan mesin waktu yang membelah sejarah Kota Medan. Membentang kokoh di samping Stasiun Keret

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Ket.Gambar : Diorama Titi Gantung Medan Dari Era Kolonial, Pasar Buku Bekas Era Pasca Kemerdekaan, dan Era Heritage Kota Medan

Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Titi Gantung bukan sekadar jembatan penyeberangan. Ia bagaikan mesin waktu yang membelah sejarah Kota Medan. Membentang kokoh di samping Stasiun Kereta Api Medan, infrastruktur bergaya Victoria klasik ini telah menyaksikan transformasi Medan dari kota perkebunan kolonial yang riuh hingga menjadi metropolis modern.

Perjalanan panjangnya terbagi dalam tiga fragmen zaman.

1. Masa Kolonial (1885): Dibangun untuk Keselamatan, Jadi Tempat Rendezvous Meneer dan Noni

Jembatan ini didirikan sekitar tahun 1885, bersamaan dengan pengembangan Stasiun Medan oleh perusahaan kereta api Belanda Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). 

Tujuannya murni keselamatan. Jalur rel saat itu membelah kota, memisahkan permukiman padat di sisi Timur dengan kawasan elite Esplanade (kini Lapangan Merdeka) di sisi Barat. Agar warga tidak menerobos rel dan tertabrak lokomotif uap, Belanda membangun jembatan layang baja.

Namun karena arsitekturnya yang anggun dengan pagar besi dan struktur rivet khas Eropa, fungsinya melenceng. Pada awal abad ke-20, Titi Gantung justru menjadi tempat rendezvous paling bergengsi.

Menjelang sore, para meneer dengan setelan jas putih, topi, dan cerutu, serta noni-noni Belanda dengan payung renda, akan berjalan-jalan di atas jembatan. Mereka menikmati angin sore sambil melihat lokomotif uap mengepulkan asap hitam di bawahnya. Jembatan keselamatan itu berubah menjadi panggung kelas sosial.

2. Era Emas Literasi (1980 - Awal 2000-an): Surga Buku Bekas Paling Legendaris di Sumatera

Memasuki era pasca-kemerdekaan, aristokrasi itu hilang. Titi Gantung berganti wajah total menjadi jantung literasi Kota Medan.

Puncaknya terjadi pada periode 1980-an hingga awal 2000-an. Di sepanjang badan jembatan, anak tangga, hingga kolong-kolong rel, menjamur ratusan lapak kecil pedagang buku bekas.

Bagi pelajar dan mahasiswa Sumut, berlaku mantra: "Ingat buku bekas, ingat Titi Gantung."

Di sini segalanya ada. Komik lawas, novel roman, buku kedokteran tebal yang harga barunya jutaan, diktat kuliah langka dari USU, UNIMED, UMSU, hingga skripsi dan tesis fotokopian. Semua dijual dengan proses tawar-menawar sengit yang khas, berdebu, penuh sesak, tapi menghidupkan.

Tempat ini secara tidak resmi telah mengantarkan ribuan anak Medan meraih gelar sarjana karena akses buku murah. Sebelum ada internet dan PDF, Titi Gantung adalah Google-nya mahasiswa Medan.

3. Titi Gantung Hari Ini: Dari Pasar Kumuh ke Cagar Budaya yang Estetik

Era keemasan itu berakhir pada tahun 2003. Seiring modernisasi Stasiun Medan dan program penataan kota, Pemerintah Kota Medan merelokasi para pedagang buku secara bertahap ke sisi Lapangan Merdeka dan Jalan Pegadaian.

Sejak itu, Titi Gantung dikembalikan ke marwah awalnya dan kini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Medan.

Wajahnya kini jauh lebih bersih, tertata, dan terang. Lampu-lampu ikonik bergaya klasik menerangi badan jembatan pada sore dan malam hari. Rel di bawahnya tidak lagi dilintasi lokomotif uap, tapi kereta api modern dan kereta bandara.

Kini fungsinya adalah sebagai jembatan penyeberangan yang aman dan destinasi wisata sejarah. Menjadi spot favorit untuk berburu foto, menikmati lanskap rel kereta api perkotaan, atau sekadar bernostalgia bagi mereka yang dulu pernah berburu buku di sana.

Tiga zaman, satu jembatan. Titi Gantung pernah menjadi simbol pembatas kelas kolonial, lalu menjadi simbol perjuangan literasi wong cilik, dan kini berdiri tegak sebagai identitas visual sejarah Kota Medan yang tidak lekang oleh waktu.

Share:
Komentar

Berita Terkini