Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) punya concern yang tinggi dalam menangani permasalahan stunting. Komitmen kuat ini menjadi landasan utama bagi Pemkab Sergai dalam upayanya mengentaskan stunting yang sudah jadi tantangan nasional.
Bupati Sergai H. Darma Wijaya secara tegas menyampaikan kesungguhan pemerintah daerah dalam mengatasi stunting. Melalui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sergai, dr. Yohnly Boelian Dachban, Senin, (18/9/2023), Bupati menjabarkan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk memastikan pengentasan stunting dapat mencapai hasil yang maksimal.
dr. Yohnly mengungkapkan salah satu bukti dari komitmen tersebut terihal saat Bupati Sergai H.Darma Wijaya dan Wakil Bupati Sergai H.Adlin Umar Yusri Tambunan baru-baru ini mengadakan “Diseminasi Audit Kasus Stunting” di Aula Sultan Serdang, Komplek Kantor Bupati Sergai, Sei Rampah, pada Kamis (24/8/2023) yang lalu.
Ia menjelaskan bahwa stunting, sebagai bagian dari Double Burden Malnutrition (DBM), memiliki dampak yang signifikan, baik dari segi kesehatan maupun produktivitas ekonomi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
dr. Yohnly juga menyoroti bahwa percepatan penanganan stunting telah diatur dalam Peraturan Presiden No. 72 tahun 2021. Salah satu kegiatan yang menjadi prioritas dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI) adalah melaksanakan audit stunting.
Lebih lanjut, dr. Yohnly menjelaskan bahwa audit kasus stunting melibatkan identifikasi risiko dan penyebab risiko pada kelompok sasaran, berdasarkan surveilans rutin atau sumber data lainnya.
Kegiatan diseminasi audit kasus stunting ini, ucapnya, merupakan serangkaian langkah dalam usaha mengidentifikasi faktor risiko dan penyebabnya di kalangan keluarga. Pendekatan ini didasarkan pada data surveilans rutin, termasuk data pengukuran di posyandu, Elektronik-Pencacatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), dan sumber data lainnya.
"Proses diseminasi audit kasus stunting ini diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan stunting di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat kecamatan, desa, hingga individu. Dengan demikian, kita dapat menggambarkan data mengenai permasalahan yang muncul. Selain itu, kegiatan ini juga diinginkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kualitas tim pendamping keluarga serta tim asuhan gizi di Puskesmas dalam mengaplikasikan ilmu, materi, atau rekomendasi dari para ahli. Dengan begitu, semua masalah yang dihadapi dapat ditindaklanjuti sesuai dengan potensi dan sumber daya yang tersedia," ungkapnya.
Dalam pandangannya, surveilans keluarga berisiko stunting memiliki peran penting dalam mendeteksi faktor risiko stunting secara dini. Proses ini melibatkan tim pendamping keluarga, tenaga kesehatan, serta kader posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB).
"Kami menyambut positif kegiatan diseminasi audit kasus stunting ini. Audit kasus stunting sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi penyebab dan faktor risiko stunting, memperbaiki tata kelola yang tidak sesuai standar, meningkatkan mutu, dan mengurangi risiko. Selain itu, audit ini juga berkontribusi dalam memenuhi harapan masyarakat terkait pelayanan yang diberikan, dengan tujuan meningkatkan kesehatan, merubah perilaku, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi," tambahnya.
Tentu ke depannya Bupati dan Wakil Bupati Sergai berharap bahwa hasil diseminasi audit kasus stunting ini tidak hanya memberikan dampak yang terukur selama pelacakan kasus dan diseminasi saja, tetapi juga setelah proses diseminasi berlangsung. Harapannya adalah adanya komitmen bersama untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat dan mutu pelayanan, guna mempercepat penurunan kasus stunting.
Pada kesempatan tersebut, mantan Direktur RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya percepatan pencegahan stunting melalui pendampingan keluarga.
Menurutnya, komitmen tersebut menjadi sangat penting karena dengan adanya komitmen yang kuat dari pemerintah daerah, lintas sektor, swasta, organisasi profesi, dan seluruh masyarakat, penurunan stunting melalui pendampingan keluarga dapat menjadi prioritas bersama. Hal ini memungkinkan mobilisasi sumber daya yang diperlukan untuk penurunan stunting, serta mengatasi hambatan dan kendala yang mungkin muncul di lapangan, sehingga dapat tercapai percepatan penurunan stunting.
"Kami harus akui bahwa mencapai target angka stunting sebesar 14% pada tahun 2024 merupakan tantangan yang tidak mudah. Meskipun demikian, saya yakin bahwa rekomendasi dari tim ahli akan dijalankan dan dikelola dengan cermat. Oleh karena itu, mari kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk mendukung upaya percepatan pencegahan dan penanggulangan stunting di Sergai," ungkapnya.
Dirinya berharap agar kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dan diakui sebagai kolaborasi bersama untuk meningkatkan kesadaran tentang partisipasi dalam mencapai target angka stunting sebesar 14% pada tahun 2024. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sergai di bawah kepemimpinan H. Darma Wijaya dan H. Adlin Umar Yusri Tambunan telah secara aktif berusaha menangani permasalahan stunting.
Kontribusi TP-PKK dalam Mencegah Stunting di Kabupaten Sergai
Hal yang sama berlaku untuk peran Ketua TP PKK Kabupaten Sergai yang sangat optimis dalam menangani permasalahan stunting. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melibatkan para kader PKK dari Kecamatan hingga Desa untuk menyosialisasikan tentang stunting.
Ketua TP PKK Sergai, Ny. Hj Rosmaida Darma Wijaya, melalui inisiatifnya, mengajak orang tua untuk membudayakan konsumsi ikan. Melalui program Gemarikan, diharapkan anak-anak di Sergai akan lebih menyukai makanan berbahan dasar ikan, baik dalam bentuk ikan utuh maupun olahan ikan yang kreatif.
Sebagai mitra pemerintah daerah, TP PKK Sergai terus melakukan upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk memonitor pertumbuhan anak selama 1.000 hari pertama kelahiran. Secara medis, stunting adalah kondisi di mana tubuh dan otak dianggap tidak berkembang secara optimal.
Oleh karena itu, stunting dapat dicegah sebelum anak mencapai usia 2 tahun.
"Kami berharap bahwa para kader PKK, melalui kegiatan Gempur Stunting, dapat bekerja sama dengan Puskesmas dalam pemantauan kesehatan anak-anak untuk mencegah stunting," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak anak masih dalam kandungan. Selain memberikan asupan gizi yang memadai, ibu hamil juga diimbau untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi terkait kehamilannya, mendukung ASI eksklusif, dan terus memantau tumbuh kembang anak di Posyandu.
"Para kader PKK dan Posyandu diharapkan terus bersinergi dan bekerja sama dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting melalui program Kampung KB, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga Balita, Posyandu Balita, Posyandu Remaja, dan dapur sehat untuk mengatasi stunting," tambah dr. Yohnly.
Komiten 2030: Sergai Bebas Stunting
Berlandaskan pada standar World Health Organization (WHO), prevalensi stunting dalam suatu wilayah diukur dengan batasan jumlah keseluruhan kasus penyakit pada suatu waktu, yang ditetapkan sebesar 20%.
Secara nasional, menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting mengalami penurunan signifikan, dari 30,8% pada tahun 2018 menjadi 24,4% pada tahun 2021.
Perkembangan serupa terlihat dalam lingkup Kabupaten Sergai. Pada tahun 2019, prevalensi stunting di Kabupaten Serdang Bedagai mencapai 36,2%, namun pada tahun 2021, angka tersebut menurun drastis menjadi 20%.
Dalam konteks ini, Kabupaten Sergai telah menetapkan target prevalensi stunting di bawah 14% pada tahun 2024, dengan visi mencapai nihil stunting pada tahun 2030.
Pihak terkait diimbau untuk aktif berpartisipasi dalam upaya mengatasi stunting. Camat, Kepala Desa, tenaga kesehatan, Kader PKK, Posyandu, hingga bidan diminta untuk mengimplementasikan program-program yang telah disusun sebagai bagian dari strategi untuk menurunkan angka stunting.
"Posyandu juga harus terus dilakukan. Dengan langkah tersebut, kita dapat mengidentifikasi balita yang berisiko terhadap stunting, memudahkan upaya pencegahan," tutur Kadis Kesehatan dr. Yohnly Boelian Dachban.



