-->

Erikson L Tobing Pertanyakan Perawatan Lapangan Merdeka Medan Bernilai Miliaran

Warga Kota Medan kembali angkat suara mengenai kondisi Lapangan Merdeka, salah satu ruang publik bersejarah yang terletak di pusat kota. Meski proyek

Editor: PoskotaSumut.id author photo


MEDAN – Warga Kota Medan kembali angkat suara mengenai kondisi Lapangan Merdeka, salah satu ruang publik bersejarah yang terletak di pusat kota. Meski proyek revitalisasi besar-besaran telah rampung dan resmi dibuka pada awal 2025, sejumlah warga menilai perawatan lapangan itu masih jauh dari harapan dan tidak mencerminkan biaya besar yang telah digelontorkan pemerintah.

“Ini bukan sekadar lapangan biasa, tapi simbol kebanggaan warga Medan,” ujar Pemerhati Pembangunan Infrastruktur Sumatra Utara Erick L Tobing, yang datang bersama keluarga untuk berolahraga dan menyampaikan uneg-unegnya kepada pemerintah kota. 

Ia menyoroti kebersihan dan pemeliharaan fasilitas umum yang menurutnya kurang diperhatikan oleh pihak berwenang. “Sudah mahal dibangun, tapi tak terawat,” tambahnya.

Anggaran Revitalisasi Fantastis

Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Medan mengembalikan fungsi kawasan itu sebagai ruang terbuka hijau, ruang publik, sekaligus cagar budaya. Pekerjaan fisik ini telah dilaksanakan sejak 2022 dan melibatkan beberapa tahapan besar. 

Menurut keterangan resmi Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Medan, total nilai kontrak proyek revitalisasi mencapai sekitar Rp 497 miliar dengan skema multiyears. Seluruh anggaran itu mencakup perbaikan struktur bawah tanah (basement dua lantai), fasilitas parkir, museum, galeri seni, panggung rakyat, sistem drainase, serta tata cahaya dan ruang terbuka hijau di atasnya. 

Sebelumnya, anggaran direalisasikan secara bertahap melalui APBD Kota Medan sejak tahun 2022 dengan rincian awal sekitar Rp 91 miliar untuk tahap awal yang mencakup penggalian basement, dilanjutkan ratusan miliar rupiah di tahun berikutnya. 

Harapan dan Kritik Publik

Saat peresmian pada 19 Februari 2025, yang bertepatan dengan masa jabatan terakhir Wali Kota Medan saat itu Bobby Nasution, pembangunan disambut dengan antusias oleh sebagian pihak karena diharapkan mampu menghidupkan kembali fungsi sosial ruang publik sekaligus mendorong perekonomian lokal melalui fasilitas UMKM dan area budaya. 

Namun, seiring berjalannya waktu, keluhan warga bermunculan. Selain masalah kebersihan dan perawatan fasilitas, warga juga mencatat persoalan kecil seperti ketertiban parkir di sekitar kawasan yang masih diwarnai jukir liar dan kurangnya pengawasan petugas terkait, meski tarif parkir resmi sudah diatur melalui Perda. �

Erick Tobing, yang datang dengan anak-anaknya untuk berolahraga, menegaskan bahwa lapangan seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan membanggakan bagi warga, bukan justru menjadi contoh minimnya pengelolaan ruang publik. Ia berharap pemerintah kota, khususnya wali kota saat ini Pak Riko Waas, dapat menindaklanjuti permasalahan tersebut dan meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan fasilitas yang telah dibangun.

Tanggapan Pemerintah

Hingga berita ini diturunkan, pernyataan resmi dari Pemkot Medan terkait keluhan perawatan Lapangan Merdeka belum dirilis. Namun sejak diresmikan, pemerintah setempat berkali-kali menekankan pentingnya fungsi kawasan ini sebagai ruang terbuka hijau dan pusat interaksi sosial masyarakat Medan.

Catatan Sejarah dan Persepsi Publik

Lapangan Merdeka bukan sekadar area olahraga dan rekreasi. Kawasan ini juga historis  menjadi sahabat tonggak kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara dan selama bertahun-tahun menjadi pusat kegiatan publik. Masyarakat berharap revitalisasi yang menelan anggaran puluhan miliar ini tidak hanya menjadi monumen fisik semata, tetapi benar-benar berfungsi sebagai ruang publik yang terawat, berdaya guna, dan layak untuk generasi mendatang.

Share:
Komentar

Berita Terkini