DAIRI - Operasional Dapur MBG Palapa 3 sempat dihentikan sementara selama 14 hari sesuai ketentuan Standar Penyelenggara Program Gizi (SPPG) yang berlaku. Masa tenggang tersebut kini telah berakhir, dan keputusan untuk kembali beroperasi akan ditentukan oleh Koordinator Wilayah MBG, Pahlawan Nasution, setelah melalui proses evaluasi lanjutan.
Manajemen menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi merupakan musibah yang tidak pernah diharapkan dan menjadi pembelajaran penting untuk penguatan sistem ke depan.
SPPG Palapa 3 dikelola oleh Yayasan Vidya Wira Satya dengan Pana Akbar Simatupang sebagai perwakilan yayasan, serta Delphi Masdiana Ujung sebagai mitra operasional yang bertanggung jawab langsung terhadap pengelolaan dapur.
Dalam pemaparannya, Delphi menjelaskan bahwa dapur telah dirancang sesuai standar konsultan MBG, mulai dari tata letak ruang, alur distribusi kerja, hingga kelengkapan peralatan yang menjadi syarat operasional. Sebanyak 99 persen peralatan didatangkan dari vendor di Jakarta.
“Seluruh pembiayaan awal operasional didahulukan oleh mitra. Kami berkomitmen menjalankan dapur ini sesuai standar yang ditetapkan,” jelasnya.
Delphi memaparkan secara rinci alur kerja dapur yang mengacu pada SOP, dimulai dari:
Penerimaan dan pengecekan kualitas bahan baku, Penyimpanan sesuai standar keamanan pangan, Tahap persiapan dan pengolahan makanan, Pemorsian sesuai standar gizi, Distribusi ke sekolah penerima manfaat
Setiap tahapan didampingi oleh tenaga ahli gizi untuk memastikan komposisi nutrisi terpenuhi. Bahkan, setelah makanan tiba di sekolah, guru penerima melakukan pengecekan ulang sebelum menandatangani berita acara penerimaan.
Tenaga kerja yang terserap mencapai 47 orang relawan, ditambah tiga pendamping resmi dari MBG, yakni Kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi. Seluruh relawan telah menjalani uji kesehatan serta mengantongi sertifikat penjamah makanan.
Program ini melayani sekitar 3.276 penerima manfaat dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK. Menu yang disajikan berganti setiap hari, terdiri dari protein hewani seperti daging, ayam, ikan, ikan nila, dan telur, dilengkapi buah segar seperti pisang, salak, jeruk, kelengkeng, dan anggur. Paket makanan juga disertai susu dan camilan sehat.
Menurut manajemen, lebih dari 3.000 penerima manfaat dalam kondisi aman. Peristiwa yang terjadi disebut sebagai insiden yang tidak mencerminkan keseluruhan sistem kerja dapur.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Delphi Masdiana Ujung menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada siswa dan orang tua penerima manfaat
Saya sebagai putri daerah tidak pernah berniat mencelakai anak-anak penerima manfaat MBG. Ini sungguh musibah. Kami tidak mencari pembenaran dan tidak mencari kesalahan pihak mana pun. Kami bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya.
Delphi menegaskan, ke depan ia akan turun langsung melakukan pengawasan detail terhadap kebersihan dapur dan seluruh proses produksi.
“Evaluasi ini menjadi pembelajaran berharga. Kami akan lebih teliti, lebih hati-hati, dan meningkatkan pengawasan di setiap tahapan kerja,” tambahnya.
Perwakilan yayasan, Pana Akbar Simatupang, turut menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa secara moral dan material, tidak ada pihak yang menginginkan musibah terjadi.
“Mitra telah mengeluarkan modal besar untuk operasional ini. Dua tahun berjalan belum sepenuhnya pulih, dan ini baru tiga bulan operasional aktif. Kami juga sangat terpukul. Namun kami tidak ingin berhenti atau vakum. Kami ingin bangkit dan memperbaiki,” tegasnya.
Ia berharap, setelah masa evaluasi selesai sesuai ketentuan SPPG, Dapur Palapa 3 dapat kembali beroperasi dan menjalankan program dengan sistem yang lebih kuat.
Selain menjalankan misi pemenuhan gizi anak, keberadaan Dapur MBG Palapa 3 juga memberi dampak ekonomi lokal. Sejumlah pelaku usaha kini menjadi pemasok bahan baku tetap, sehingga menciptakan perputaran ekonomi yang berkelanjutan. Relawan yang terlibat pun memperoleh kesempatan kerja yang stabil.
Komitmen Ke Depan
Manajemen Dapur MBG Palapa 3 menegaskan komitmen untuk tetap profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Evaluasi yang dilakukan bukan sekadar formalitas, melainkan langkah sistematis untuk memperkuat manajemen risiko dan kualitas layanan.
“Kami akan bekerja sebaik mungkin sesuai tugas masing-masing, dikoordinasikan oleh kepala bagian. Ini bukan akhir, tetapi proses pembelajaran agar kami menjadi lebih baik,” tutup Delphi.
Dengan semangat perbaikan dan keterbukaan, Dapur MBG Palapa 3 berharap dapat kembali melayani ribuan siswa di Sidikalang dengan standar keamanan dan kualitas yang semakin terjamin.(capah)
