MEDAN – Sumatera Utara (Sumut) mulai mematangkan persiapan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-32 tahun 2026. Forum kerja sama ekonomi tiga negara tersebut diharapkan menjadi momentum strategis untuk membawa potensi unggulan Sumut masuk dalam peta pertumbuhan ekonomi kawasan.
Melalui Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Provinsi Sumatera Utara, pemerintah daerah tengah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menyiapkan gagasan dan program yang akan diusulkan dalam blueprint IMT-GT lima tahun ke depan.
Kepala Bagian Kerja Sama Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Sumut Dr. Ahmad Yamin, mengatakan IMT-GT merupakan forum strategis yang membahas berbagai peluang kerja sama dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
“IMT-GT ini membahas berbagai hal strategis yang dapat memberikan perkembangan ekonomi kawasan. Ada delapan working group yang akan membahas isu, program, dan proyek yang nantinya dituangkan dalam blueprint lima tahun ke depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagai tuan rumah, Sumatera Utara memiliki peluang besar untuk mengusulkan berbagai program unggulan agar dapat masuk dalam agenda kerja sama kawasan.
Menurutnya, kunci utama bukan hanya mengusulkan program, tetapi bagaimana gagasan tersebut memiliki nilai manfaat bersama dan mampu menarik perhatian negara anggota lainnya.
“Bagaimana kita menjual ide dan proyek kita agar diterima kawasan. Tidak ada dominasi, tetapi harus ada benang merah yang memberikan dampak pertumbuhan bersama,” katanya.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah bidang pertanian (agriculture), khususnya komoditas kopi Sumatera Utara yang dinilai memiliki potensi besar namun belum sepenuhnya mendapatkan nilai tambah di pasar internasional.
Yamin mencontohkan, kopi asal Sumut selama ini memiliki kualitas dan nama besar, namun masih menghadapi tantangan dalam hal branding ketika masuk ke pasar luar negeri.
“Kopi kita punya nama, punya kualitas. Tapi ketika masuk ke luar, kadang dilakukan blending sehingga identitas asalnya tidak terlalu terlihat. Ini yang ingin kita dorong agar produk unggulan kita memiliki posisi lebih kuat,” jelasnya.
Selain pertanian, sektor pariwisata juga menjadi program strategis yang akan didorong dalam IMT-GT, termasuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi unggulan berbasis kawasan.
“Danau Toba sebagai pusat objek kaldera dunia juga menjadi bagian dari potensi yang bisa kita dorong dalam kerja sama ini,” ujarnya.
Tidak hanya itu, sektor produk halal juga menjadi perhatian. Menurut Yamin, terdapat peluang besar untuk menyamakan standar sertifikasi halal antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand agar dapat mempermudah perdagangan produk antarnegara.
“Misalnya Malaysia dan Thailand memiliki produk halal dengan sertifikasi mereka sendiri. Ini tentu perlu ada penyelarasan standar agar ketika produk masuk ke Indonesia tidak terjadi perbedaan yang menjadi hambatan,” katanya.
Ia juga menyebutkan, sektor investasi menjadi bagian penting dalam kerja sama IMT-GT. Dengan keterbatasan anggaran pemerintah, kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan investor menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pembangunan.
“Keuangan pemerintah terbatas, salah satu solusinya adalah kerja sama. Baik antar daerah maupun kerja sama pemerintah dengan swasta. Di situlah peran pemerintah sebagai fasilitator agar investasi dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Dalam persiapan menuju pertemuan tingkat menteri IMT-GT ke-32 yang akan digelar pada September 2026, Sumut telah melakukan berbagai koordinasi bersama organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, serta pihak terkait lainnya.
Yamin berharap, momentum Sumut sebagai tuan rumah dapat dimanfaatkan maksimal untuk melahirkan program yang tidak hanya menguntungkan daerah, tetapi juga memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi kawasan tiga negara.
“Harapan kita, ide dan program yang kita bawa bukan hanya bagus untuk Sumatera Utara, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi Indonesia, Malaysia, dan Thailand,” pungkasnya.
