MEDAN – Stand Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) tidak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi budaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan seni, sejarah, pariwisata, hingga ekonomi kreatif yang dimiliki Sumatera Utara.
Staf UPTD Taman Budaya Sumatera Utara, Naadila Farhana didampingi Dina, menjelaskan bahwa stand tersebut merupakan kolaborasi antara Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif dengan dua Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), yakni UPTD Museum Negeri Sumatera Utara dan UPTD Taman Budaya Sumatera Utara.
"Di stand ini kami menampilkan koleksi dari tiga unsur, yaitu dinas, UPTD Museum, dan UPTD Taman Budaya. Masing-masing menghadirkan koleksi serta produk unggulan yang dimiliki," ujarnya.
Dari sisi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif, pengunjung dapat memperoleh berbagai informasi mengenai destinasi wisata di Sumatera Utara melalui booklet pariwisata, serta informasi mengenai status Toba Caldera UNESCO Global Geopark yang kembali mendapatkan pengakuan UNESCO.
Selain itu, dipamerkan pula berbagai produk ekonomi kreatif berbahan dasar ulos, seperti tas, topi, dan aneka kerajinan tangan yang menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Sementara itu, UPTD Taman Budaya Sumatera Utara menghadirkan berbagai alat musik tradisional, di antaranya Taganing dari budaya Batak Toba, serta hasil karya peserta workshop seni yang diselenggarakan pada Mei hingga Juni 2026.
"Kami juga memamerkan hasil workshop seni rupa berupa lukisan bertema budaya Nias, khususnya tradisi lompat batu atau Hombo Batu, serta karya batik dengan motif ornamen dari berbagai etnis di Sumatera Utara, seperti Batak Toba, Mandailing, Angkola, Melayu, Nias, dan etnis lainnya," jelas gadis berparas manis ini.
Tidak hanya itu, UPTD Museum Negeri Sumatera Utara turut menampilkan sejumlah koleksi bersejarah, seperti Tongkat Tunggal Panaluan, pustaha Batak, topeng tradisional, replika nisan kuno, hingga replika batu nisan Syekh Rukunuddin yang berasal dari Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Menurut Nadila, kehadiran benda-benda tersebut bertujuan memperkenalkan sejarah dan warisan budaya Sumatera Utara kepada masyarakat, sekaligus mengajak pengunjung untuk datang langsung ke Museum Negeri Sumatera Utara agar dapat melihat koleksi secara lebih lengkap.
Lebih dari sekadar pameran, stand tersebut juga menjadi media edukasi. Pengunjung dapat memperoleh buku mengenai budaya etnis di Sumatera Utara, termasuk budaya Batak Toba dan Karo, sebagai upaya menambah wawasan masyarakat mengenai keberagaman budaya daerah.
"Yang kami berikan bukan hanya produk atau benda koleksi, tetapi juga ilmu pengetahuan tentang budaya, sejarah, dan potensi pariwisata Sumatera Utara," katanya.
Dina juga memperkenalkan berbagai program pembinaan seni yang rutin dilaksanakan UPTD Taman Budaya Sumatera Utara. Setiap tahun, Taman Budaya menggelar workshop dan bengkel seni yang terbuka bagi pelajar, mahasiswa, seniman, maupun masyarakat umum.
Program tersebut mencakup lima cabang seni, yaitu teater, sastra, film, musik, dan seni rupa, dengan seluruh materi mengangkat tema-tema budaya lokal Sumatera Utara.
"Kami ingin masyarakat mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan budaya dan kesenian daerah. Karena itu, setiap kegiatan selalu mengangkat kekayaan budaya Sumatera Utara, baik yang bersifat benda (tangible) maupun warisan budaya tak benda (intangible)," pungkasnya.
