-->

Cerita Bersambung Simardan : Badogol, Pendekar Kungfu dari Bagan Siapi-api

Melihat kemurkaan Raja Rompak, wajah sang nakhoda seketika berubah pucat pasi. Sekujur tubuhnya gemetaran menahan ketakutan. Keringat dingin mulai ber

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                       Ditulis Oleh :  Harunsyah Arsyad

Melihat kemurkaan Raja Rompak, wajah sang nakhoda seketika berubah pucat pasi. Sekujur tubuhnya gemetaran menahan ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuhnya.

Sementara itu, para anak buah kapal menundukkan kepala. Pandangan mereka tertuju kosong ke lantai. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara. Mereka semua diam terpaku, seolah takut sedikit saja bergerak atau berbicara akan semakin menyulut amarah sang majikan.

Raja Rompak kemudian menghardik mereka.

Ia memerintahkan agar pencarian terhadap Simardan segera dilakukan kembali. Perairan di sekitar pulau, termasuk pulau-pulau kecil dan gugusan karang yang berada di kawasan itu, harus disisir tanpa terkecuali.

Beberapa orang diperintahkan menggunakan perahu-perahu kecil semacam sekoci yang memang telah disiapkan di atas kapal untuk keadaan darurat. Mereka harus mencari Simardan, baik dalam keadaan hidup maupun sudah menjadi mayat.

Sebagian prajurit lainnya menggunakan perahu layar berukuran lebih kecil yang mampu membawa hingga delapan orang. Perahu-perahu itu juga dapat digerakkan dengan dayung.

Selama ini, perahu-perahu kecil tersebut sengaja disembunyikan di paluh-paluh yang terdapat di antara pulau-pulau karang. Keberadaannya harus dirahasiakan agar tidak terlihat oleh armada kerajaan yang sedang berpatroli ataupun kapal-kapal lain yang melintas di kawasan tersebut.

Perahu-perahu rahasia itu ditutupi dengan dedaunan dan ranting pepohonan serta semak belukar yang tumbuh di sekitar pulau. Dari kejauhan, keberadaannya nyaris tidak terlihat.

Biasanya, perahu-perahu tersebut digunakan ketika para prajurit melakukan penyamaran ke daratan untuk mencari informasi. Namun, sesekali perahu itu juga dipakai oleh kelasi dan anggota kapal lainnya ketika hendak turun ke daratan terdekat untuk bersenang-senang.

Setiap kali berhasil merompak kapal sasaran, juragan biasanya membagikan sebagian hasil rampasan kepada seluruh anak buah sesuai dengan bagian masing-masing. Mereka memperoleh kepingan emas, perak, perhiasan, maupun barang berharga lainnya yang dapat dijual atau ditukarkan dengan uang logam.

Hasil rampasan itu kemudian digunakan untuk berbagai kesenangan di daratan. Ada yang berjudi, minum arak, mencari hiburan, bahkan mendatangi tempat-tempat pelacuran. Namun malam itu suasana di atas kapal lanun sama sekali berbeda.

Hening, 

Mencekam.

Tak seorang pun berani banyak bergerak. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba terdengar suara Raja Rompak memanggil seseorang.

“Badogol!”

Seorang pemuda segera maju mendekat. Dialah salah seorang anak buah kepercayaan Raja Rompak, setelah Simardan.

Badogol sebenarnya bukan nama asli pemuda itu. Nama sesungguhnya adalah Beng Dong Ghuong. Ia berasal dari sebuah bandar kecil di pesisir timur Pulau Andalas, sebuah negeri pesisir yang berada di kawasan teluk dengan pantainya dipenuhi pepohonan mangrove, terutama kayu api-api.

Karena banyaknya pohon api-api yang tumbuh di sepanjang pantai, para pelaut kemudian mengenal bandar kecil itu dengan nama Bagan Siapi-api.

Beng Dong Ghuong merupakan keturunan Tionghoa. Kakeknya berasal dari daratan timur laut Tiongkok. Dahulu, sang kakek datang berlayar menyeberangi lautan hingga akhirnya menetap di kawasan pesisir tersebut. Ia kemudian membuka sebuah kampung nelayan. Dua generasi setelah kedatangannya, lahirlah Beng Dong Ghuong.

Nama itu rupanya cukup sulit diucapkan oleh Raja Rompak. Karena itu, sang raja lanun menyebutnya dengan nama yang lebih mudah menurut lidahnya.

“Badogol.”

Sejak saat itulah nama itu melekat kepadanya. Namun di balik wajahnya yang tenang, Badogol menyimpan masa lalu yang kelam.

Sebelum bergabung dengan Raja Rompak, ia dikenal sebagai bandit kampung. Ia bahkan pernah menjadi penjahat yang cukup ditakuti di kampung halamannya. Tubuhnya kuat, keberaniannya tinggi, dan ia dikenal sebagai seorang centeng yang sangat piawai dalam ilmu beladiri.

Badogol juga mahir memainkan berbagai senjata tajam, mulai dari pisau, pedang hingga tombak.

Namun ilmu beladiri yang dikuasainya berbeda dengan kebanyakan prajurit di kapal lanun Raja Rompak.

Gerakannya lebih banyak mengandalkan tenaga dalam, pengaturan napas, kekuatan kuda-kuda, serta kelenturan tubuh. Ilmu itu berasal dari daratan Tiongkok dan dikenal dengan nama kungfu.

Raja Rompak sendiri sangat memperhatikan kemampuan beladiri para anak buahnya.

Selama berada di kapal dan tidak sedang melakukan operasi di laut, para prajurit diwajibkan berlatih secara teratur. Mereka harus mengasah kemampuan tangan kosong sekaligus menguasai berbagai jenis senjata.

Raja Rompak juga mengajarkan kepada mereka strategi pertempuran di laut. Semua itu merupakan hasil pengalaman panjang yang diperolehnya sejak masih muda, ketika ia mulai menjalani kehidupan sebagai lanun.

Dalam berbagai adu tanding di atas kapal, hampir seluruh prajurit Raja Rompak pernah dikalahkan oleh Badogol. Hanya dua orang yang belum mampu ditaklukkannya.

Simardan dan Raja Rompak.

Badogol sendiri belum pernah berhadapan dengan Raja Rompak dalam arena adu tanding. Namun dengan Simardan, ia sudah pernah bertanding.

Pertarungan keduanya berlangsung sangat sengit. Pada babak pertama, mereka bertanding dengan tangan kosong. Keduanya terlihat sama kuat. Tak satu pun mampu memperoleh keunggulan berarti. Kemudian pertandingan dilanjutkan dengan menggunakan senjata.

Hari demi hari, kemampuan keduanya terus dibandingkan oleh para prajurit kapal. Dalam satu pertarungan yang berlangsung sejak pagi, Simardan dan Badogol kembali beradu tanding dengan sungguh-sungguh.

Puluhan jurus andalan telah mereka keluarkan. Mereka saling menyerang, menghindar, menangkis dan membalas. Gerakan keduanya begitu cepat hingga sulit diikuti mata.

Namun sampai sore menjelang, belum ada seorang pun yang mampu mengalahkan lawannya. Badogol mengandalkan kekuatan, tenaga dalam, kuda-kuda dan kelenturan tubuh yang telah ditempa bertahun-tahun.

Sementara Simardan memiliki kelebihan lain. Tubuhnya ringan dan gerakannya sangat lincah. Bakat itu sebenarnya telah terbentuk sejak masa kanak-kanak. Sejak kecil, Simardan gemar bermain bola keranjang. Kebiasaan itu tanpa disadarinya telah membentuk kelenturan tubuh, kekuatan kaki, serta refleks gerakannya.

Lompatannya tinggi, tetapi tetap ringan. Tendangannya kuat. Gerakan tubuhnya pun sulit ditebak. Dan pada penghujung pertarungan itulah kelebihan tersebut kembali menjadi penentu. Dalam sekejap mata, Simardan melakukan gerakan meringankan tubuh. 

Tubuhnya melompat tinggi ke udara, seolah-olah melayang. Kemudian ia melakukan salto, membalikkan tubuh dengan gerakan yang begitu halus dan ringan. Badogol terlambat menyadari arah serangan.

Sejurus kemudian, kaki kiri Simardan melesat dan menghantam tepat pergelangan tangan kanan Badogol. Pedang yang digenggamnya terlepas dan jatuh ke tanah. Belum sempat Badogol menguasai keseimbangannya, Simardan sudah bergerak kembali.

Secepat kilat, kaki kanannya menghantam rahang Badogol.

Buk!

Tubuh Badogol terhempas dan jatuh tersungkur mencium tanah. Suasana arena seketika hening. Badogol mencoba bangkit. Namun belum sempat ia berdiri sempurna, ujung pedang Simardan sudah menempel di lehernya.

Badogol terdiam. Ia tahu pertarungan telah berakhir. Dengan napas berat, akhirnya ia mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Sejak saat itu, Badogol mengakui bahwa di atas kapal lanun tersebut hanya ada dua orang yang belum pernah berhasil dikalahkannya.

Simardan.

Dan Raja Rompak. Kini, justru nama Simardan kembali disebut-sebut di tengah suasana kapal yang penuh ketegangan. Raja Rompak menatap Badogol tajam.

“Badogol...”

Pemuda itu mengangkat wajahnya. Apa yang hendak diperintahkan sang majikan kepadanya? (Bersambung)

Share:
Komentar

Berita Terkini