MEDAN – Di tengah ramainya pengunjung yang berburu kuliner, wahana permainan, dan hiburan di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara menghadirkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar ruang pamer, hall ini menjadi panggung kreativitas yang memperlihatkan kemampuan dan inovasi para pelajar SMA, SMK, dan SLB dari berbagai daerah di Sumatera Utara.
Di bawah koordinasi Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Sumut sekaligus Koordinator Hall Disdik PRSU, Dr. M. Basir S. Hasibuan, M.Pd., hall tersebut membawa pesan sederhana bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang keterampilan, kreativitas, dan keberanian untuk berkarya.
Di bawah pembinaan Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara Alexander Sinulingga, S.STP., M.Si., Hall Disdik menghadirkan partisipasi tujuh SMK, empat SMA, serta sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang menampilkan beragam karya dan pertunjukan setiap hari.
Pengunjung tidak hanya disuguhi hasil karya, tetapi juga dapat menyaksikan langsung proses kreatif para pelajar. Mulai dari melukis, membuat pola, membatik, hingga menenun kain secara tradisional.
Salah satu daya tarik utama adalah mesin tenun milik SMK Berastagi yang ditempatkan di tengah hall. Mesin tersebut terus beroperasi selama pameran berlangsung sehingga pengunjung dapat melihat secara langsung proses mengubah benang menjadi kain tenun bernilai seni.
Selain itu, panggung seni di Hall Disdik setiap hari dipenuhi penampilan pelajar dari berbagai sekolah. Band, penyanyi solo, tari tradisional, hingga pertunjukan seni lainnya silih berganti menghibur pengunjung dan menjadi ruang bagi siswa menampilkan bakat serta kepercayaan diri mereka.
Tidak hanya bidang seni, Hall Disdik juga memperkenalkan berbagai kompetensi vokasi yang dimiliki siswa SMK, mulai dari layanan terapi, pijat, penelitian sederhana, hingga produk-produk kewirausahaan seperti sabun, sampo, pakaian, aksesori, serta aneka kerajinan tangan hasil karya siswa.
Menurut Dr. M. Basir S. Hasibuan, kehadiran Hall Disdik di PRSU bukan sekadar memamerkan hasil belajar, tetapi menjadi ruang bagi pelajar untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus menguji kualitas karya yang mereka hasilkan.
"Kami ingin anak-anak memiliki keberanian menunjukkan kemampuannya. Ketika karya mereka mendapat apresiasi dari masyarakat, rasa percaya diri akan tumbuh dan menjadi motivasi untuk terus belajar serta berinovasi," ujar Basir, Kamis (16/7/2026) malam.
Ia berharap masyarakat tidak hanya datang melihat-lihat, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap karya para pelajar. Menurutnya, setiap lukisan, kain tenun, lagu, hingga produk yang dipamerkan merupakan hasil proses belajar yang panjang dan layak mendapatkan penghargaan.
"Dukungan sederhana dari masyarakat bisa menjadi penyemangat bagi lahirnya generasi kreatif Sumatera Utara," katanya.
Basir menilai Hall Disdik menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh di mana saja, termasuk di tengah kemeriahan PRSU. Suara musik, denting alat tenun, aroma kuliner hasil praktik siswa SMK, hingga tepuk tangan pengunjung berpadu menjadi ruang belajar yang nyata bagi para pelajar.
Ia optimistis, apabila ruang-ruang kreativitas seperti ini terus diperluas, Sumatera Utara akan melahirkan lebih banyak wirausahawan muda, seniman, desainer, peneliti, hingga inovator yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
"Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan, dan keberanian untuk berkarya. Sekolah harus mampu melahirkan generasi yang siap menciptakan lapangan kerja, melestarikan budaya, dan membawa nama Sumatera Utara melalui kreativitasnya," pungkasnya.
