-->

Harga Semen "Menggila" di Panglong Seputaran Sergai, APH dan Pemerintah Diminta Bertindak

Lonjakan harga semen yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat sejumlah pemborong dan pemilik bangunan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai)

Editor: PoskotaSumut.id author photo


SERDANG BEDAGAI – Lonjakan harga semen yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat sejumlah pemborong dan pemilik bangunan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) kelimpungan. Kenaikan harga yang mencapai lebih dari 50 persen itu bahkan memaksa sebagian proyek pembangunan dihentikan sementara untuk menghindari kerugian.

Berdasarkan pantauan di sejumlah toko material bangunan (panglong) di wilayah Sei Rampah, Sei Bamban, dan Teluk Mengkudu, Senin (6/7/2026), harga semen kini menembus Rp85.000 per zak. Selain harganya yang melonjak tajam, pasokan semen di sejumlah toko juga dilaporkan mulai sulit diperoleh.

Sugito, seorang pemborong yang sedang mengerjakan pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) di Desa Sei Bamban, mengaku kenaikan harga tersebut sangat memberatkan para pelaksana proyek. Menurutnya, harga semen sebelumnya masih berada di kisaran Rp50.000 per zak, sehingga lonjakan yang terjadi dalam waktu singkat membuat biaya pekerjaan membengkak jauh dari perhitungan awal.

"Barangnya juga mulai sulit didapat. Kondisi ini jelas merugikan para pemborong karena harga yang sekarang sudah jauh di atas perhitungan dalam bestek pekerjaan. Kami berharap aparat penegak hukum dan pemerintah, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun Bagian Ekonomi, segera turun ke lapangan untuk memastikan apakah kenaikan harga ini murni karena mekanisme pasar atau ada dugaan permainan harga," ujar Sugito.

Ia menilai pengawasan perlu segera dilakukan, mengingat saat ini banyak proyek pembangunan yang sedang berjalan, termasuk pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih yang ditargetkan selesai dalam waktu dekat.

Keluhan serupa disampaikan Benny Lubis, seorang pemborong yang tengah mengerjakan proyek pembangunan perumahan di kawasan Tebing Syahbandar, Serdang Bedagai.

Menurut Benny, kenaikan harga semen membuat pihaknya memilih menghentikan sementara aktivitas pembangunan selama dua hingga tiga hari sambil menunggu kondisi harga kembali stabil.

"Kami memutuskan menghentikan pekerjaan sementara karena kalau diteruskan, kami pasti merugi. Pemilik rumah hanya tahu hasil akhirnya, sementara biaya material terus naik. Saat ini pekerjaan yang banyak dilakukan tukang adalah pengecoran dan pemasangan pasangan baru yang semuanya membutuhkan semen dalam jumlah besar," katanya.

Benny menjelaskan, dalam perencanaan anggaran proyek, harga semen masih berkisar Rp74.500 per zak. Namun dalam waktu singkat harga kembali melonjak hingga mencapai Rp85.000 per zak, sehingga biaya pembangunan meningkat drastis.

"Kalau dipaksakan, bisa-bisa anggaran habis hanya untuk membeli semen dan kami kesulitan membayar upah para pekerja. Karena itu, kami sudah bermusyawarah dengan para tukang dan mereka memahami kondisi yang terjadi," tambahnya.

Dampak kenaikan harga semen juga dirasakan pada proyek pelebaran jalan di kawasan Firdaus, Kecamatan Sei Rampah. Seorang mandor proyek yang enggan disebutkan namanya mengaku pihak pelaksana cukup terkejut dengan lonjakan harga material tersebut.

Menurutnya, pimpinan proyek telah menginstruksikan agar stok semen yang masih tersedia dimanfaatkan semaksimal mungkin, terutama untuk pekerjaan saluran drainase yang menjadi bagian utama proyek.

"Kami diminta menghabiskan stok semen yang masih ada agar pekerjaan yang menggunakan semen tidak tertunda. Harapannya target penyelesaian proyek tetap bisa tercapai sesuai jadwal," ujarnya.

Para pemborong berharap pemerintah daerah segera melakukan pemantauan terhadap distribusi dan harga semen di pasaran. Mereka juga meminta adanya langkah konkret apabila ditemukan indikasi penimbunan atau praktik yang menyebabkan harga material bangunan melonjak tidak wajar, sehingga tidak menghambat pembangunan maupun merugikan masyarakat.

Share:
Komentar

Berita Terkini