Foto: Ilustrasi angkutan sungai di Tangkahan Negeri Lama - Sei Berombang dengan Boat "Film Ria" era di bawah 80an dahulu
Oleh: Harunsyah Arsyad
Nama Labuhanbatu tidak bisa dilepaskan dari sungai.
Jauh sebelum jalan raya membelah wilayah Labuhanbatu, sebelum kendaraan bermotor menjadi alat transportasi utama, masyarakat di daerah ini sudah menggantungkan kehidupan dan aktivitas perdagangan pada jalur air.
Sungai bukan sekadar tempat mengalirnya air. Di masa lalu, sungai adalah jalan raya, jalur perdagangan, sekaligus penghubung antarkampung.
Bahkan, ada kisah yang menyebutkan bahwa nama Labuhanbatu sendiri lahir dari aktivitas di tepi sungai.
Dari "Pelabuhan Batu" Menjadi Labuhanbatu
Pada sekitar tahun 1862, Angkatan Laut Belanda di bawah pimpinan Bevel Hebee disebut memasuki wilayah hulu Labuhan Bilik melalui Sungai Barumun. Di kawasan yang kini dikenal sebagai Sei Rakyat, mereka membangun sebuah tempat pendaratan berupa dermaga sederhana dari susunan batu beton.
Konstruksinya dibuat untuk kebutuhan pendaratan yang cepat, tetapi tetap kokoh. Jika diibaratkan dengan masa sekarang, bentuknya kurang lebih seperti konstruksi jembatan darurat yang dibangun pasukan zeni untuk kepentingan mobilitas pasukan dan logistik.
Masyarakat kemudian menyebut tempat tersebut sebagai "Pelabuhan Batu".Nama itu lama-kelamaan berubah dalam penyebutan masyarakat menjadi Labuhanbatu.
Dari kawasan inilah aktivitas perdagangan dan pemerintahan kolonial Belanda kemudian berkembang. Saat itu, Rantauprapat belum menjadi pusat kota seperti sekarang.
Ketika Sungai Menjadi "Jalan Tol Air"
Wilayah Labuhanbatu Raya secara geografis diapit oleh tiga sungai besar, yakni Sungai Barumun, Sungai Bilah dan Sungai Kualuh. Di sepanjang aliran sungai tersebut tumbuh berbagai kampung masyarakat, khususnya masyarakat Melayu pesisir Labuhanbatu Raya.
Sebelum jaringan jalan darat berkembang menuju Tanjung Sarang Elang di Panai, Tanjung Leidong maupun Kampung Mesjid di Kualuh, sungai menjadi jalur utama yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Bisa dikatakan, pada masa itu sungai merupakan "jalan tol air" bagi masyarakat Labuhanbatu. Sampan, perahu, boat dan rakit hilir-mudik membawa manusia maupun berbagai hasil bumi.
Dari hulu menuju hilir, masyarakat membawa karet, hasil hutan, hasil pertanian dan berbagai komoditas lainnya.Ketika kembali, mereka membawa kebutuhan sehari-hari dan sembako. Aktivitas ekonomi pun tumbuh mengikuti aliran sungai.
Rantauprapat Mulai Bergeliat
Memasuki perkembangan perkebunan pada masa kolonial, wajah Labuhanbatu mulai berubah. Perkebunan karet dan kelapa sawit berkembang setelah investor Eropa memperoleh hak konsesi dari kerajaan-kerajaan lokal, di antaranya Kesultanan Pinang Awan, Kesultanan Bilah dan Kesultanan Panai.
Dari perkembangan perkebunan itulah kawasan yang kemudian dikenal sebagai Rantauprapat mulai tumbuh. Pada awalnya, kawasan tersebut merupakan emplasemen, pondok-pondok perkebunan dan tempat transit hasil perkebunan.
Pemerintah kolonial kemudian membangun berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari jalan, jembatan, jalur kereta api, pelabuhan, rumah sakit, sekolah, kantor pemerintahan, jaringan listrik hingga fasilitas air.
Jalur kereta api bahkan menjadi penghubung penting antara kawasan perkebunan dengan wilayah lain hingga menuju Pelabuhan Belawan di Tanah Deli. Namun, jauh sebelum transportasi darat berkembang, sungai tetap menjadi urat nadi utama pergerakan barang dan manusia.
Pintu 10 dan Riuhnya Perdagangan di Sungai Bilah
Salah satu kawasan yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan adalah Ruko Pintu 10 di tepian Sungai Bilah. Kawasan tersebut berkembang sebagai tempat bertemunya pedagang, pembeli, pengumpul hasil bumi, pengirim barang hingga para pelaku jasa ekspedisi.
Ratusan sampan, boat dan rakit datang dari hulu maupun hilir.
Aktivitas perdagangan berlangsung ramai. Hasil perkebunan, hasil hutan dan hasil pertanian dipertukarkan dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Dari suasana pertemuan para perantau dan pedagang yang berkumpul dan "berapat-rapat" itu pula berkembang cerita mengenai asal-usul penyebutan Rantauprapat.
Terlepas dari berbagai versi mengenai asal-usul nama tersebut, satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa Sungai Bilah memiliki peran penting dalam pertumbuhan awal kawasan Rantauprapat.
Labuhan Bilik, Bandar di Muara
Jika Rantauprapat berkembang di bagian hulu, maka Labuhan Bilik tumbuh sebagai bandar penting di kawasan muara. Pelabuhan tersebut berada di kawasan pertemuan Sungai Bilah dan Sungai Barumun.
Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun fasilitas pelabuhan dengan persetujuan pihak Kerajaan Panai yang ketika itu berpusat di kawasan Sungai Raja, yang kini dikenal sebagai Sei Rakyat.
Pelabuhan tersebut dilengkapi dermaga besi dan berbagai kantor pendukung, antara lain syahbandar, douane atau kepabeanan, ekspedisi dan kepolisian pantai. Karena terdapat berbagai bangunan dan ruang pelayanan di sekitar pelabuhan, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Labuhan Bilik.
Perkembangan pelabuhan baru itu perlahan menggeser posisi pelabuhan Kerajaan Panai di Sungai Raja. Labuhan Bilik pun berkembang menjadi bandar perdagangan yang memiliki hubungan dengan berbagai negeri di seberang Selat Malaka, termasuk Penang, Malaka dan Singapura.
Geliat Perdagangan dari Seberang Selat Malaka
Seiring berkembangnya pelabuhan, para pedagang dari berbagai daerah ikut berdatangan. Komunitas Tionghoa menjadi salah satu kelompok yang kemudian memainkan peranan penting dalam aktivitas perdagangan di Labuhan Bilik.Kedai-kedai dan bangunan perdagangan berlantai dua bermunculan di sekitar kawasan pelabuhan.
Suasana bandar pun semakin ramai.
Komoditas dari pedalaman Labuhanbatu dikumpulkan untuk kemudian dibawa menuju pelabuhan dan dipasarkan ke luar daerah. Di antara komoditas yang diperdagangkan adalah karet, padi, kopra, pinang, damar, gaharu dan jernang.
Pada sekitar tahun 1895, Labuhan Bilik bahkan berkembang menjadi pusat pemerintahan Controleur Labuhanbatu. Dari bandar inilah berbagai komoditas Labuhanbatu berlayar menuju Penang, Malaka, Port Klang dan Singapura. Pelabuhan juga dilengkapi fasilitas pendukung, termasuk tempat perbaikan atau dock kapal.
Dengan demikian, Labuhan Bilik bukan sekadar pelabuhan lokal.Ia pernah menjadi salah satu pintu penting yang menghubungkan Labuhanbatu dengan dunia perdagangan di kawasan Selat Malaka.
Ketika Jalan Darat Mulai Menggeser Sungai Perubahan zaman kemudian membawa perubahan besar.
Ketika jalan darat mulai dibangun menuju berbagai wilayah seperti Tanjung Sarang Elang, Kampung Mesjid dan Tanjung Leidong, serta jembatan-jembatan mulai menghubungkan kawasan yang sebelumnya dipisahkan sungai, ketergantungan masyarakat terhadap transportasi air perlahan berkurang.
Transportasi darat dianggap lebih cepat, lebih fleksibel dan lebih efisien. Di Rantauprapat, peran Sungai Bilah sebagai jalur utama transportasi juga semakin berkurang akibat pendangkalan dan sedimentasi.
Sungai yang dahulu dipenuhi sampan dan boat pengangkut hasil bumi tidak lagi seramai masa lalu. Namun, bukan berarti kehidupan sungai benar-benar mati.
Sungai Masih Hidup di Pesisir
Di sejumlah kawasan pesisir Labuhanbatu Raya yang relatif jauh dari jangkauan pembangunan jalan darat, sungai masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Di Labuhan Bilik, Sei Berombang dan Tanjung Sarang Elang, boat kayu hingga kini masih digunakan masyarakat.
Perahu-perahu tersebut menjadi sarana transportasi untuk menghubungkan permukiman, kawasan pertanian dan perkebunan rakyat, termasuk desa-desa yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Suara mesin boat yang membelah permukaan Sungai Barumun, Sungai Bilah maupun Sungai Kualuh masih menjadi pemandangan yang tidak asing bagi masyarakat pesisir.
Sungai yang Melahirkan Peradaban
Labuhanbatu hari ini memang sudah berubah.
Jalan raya, kendaraan bermotor dan berbagai moda transportasi modern telah mengambil alih sebagian besar fungsi sungai.
Namun, sejarah tidak boleh membuat kita lupa bahwa Labuhanbatu pernah bergerak sepenuhnya di atas air.
Sungai melahirkan nama.
Sungai menghidupkan perdagangan.
Sungai membantu melahirkan kota.
Dan sungai pula yang menjadi bagian penting dari tumbuhnya peradaban Labuhanbatu.
Sebelum jalan raya hadir, masyarakat Labuhanbatu telah memiliki "jalan tol" sendiri.
Jalannya adalah sungai.
Hingga kini, ketika suara mesin boat terdengar menyusuri Sungai Barumun, Sungai Bilah dan Sungai Kualuh, sesungguhnya suara itu bukan sekadar suara mesin perahu.
Ia seperti suara masa lalu yang masih mengingatkan kita tentang bagaimana Labuhanbatu tumbuh dan berkembang dari air.
