-->

Ahmad Afandi Harahap Soroti Krisis Adab Generasi Muda dalam Pembinaan Ideologi Pancasila di Medan Tembung

Anggota DPRD Kota Medan, Ahmad Afandi Harahap, mengingatkan pentingnya penguatan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan di tengah perubahan sosial

Editor: PoskotaSumut.id author photo


MEDAN – Anggota DPRD Kota Medan, Ahmad Afandi Harahap, mengingatkan pentingnya penguatan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, khususnya di kalangan generasi muda.

Hal itu disampaikannya saat melaksanakan kegiatan Penyelenggaraan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Seroja, Komplek New Azalea, Kelurahan Tembung, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, Minggu (9/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Ahmad Afandi menegaskan bahwa wawasan kebangsaan bukan sekadar kemampuan menghafal Pancasila, tetapi merupakan cara pandang setiap warga negara dalam mengenali diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan bangsa dan kesatuan wilayah Indonesia.

Menurutnya, wawasan kebangsaan harus berlandaskan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

"Konsep wawasan kebangsaan ini bertujuan menanamkan nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air. Ini menjadi landasan bagi setiap warga negara untuk bertindak dan mengambil keputusan dengan mengutamakan kepentingan nasional," ujar Afandi.

Anak Berilmu Harus Dibarengi Adab dan Etika

Dalam kesempatan tersebut, Afandi menyoroti fenomena yang menurutnya semakin banyak ditemui di tengah masyarakat, yakni anak-anak yang memiliki kemampuan akademik tetapi kurang mendapatkan pendidikan mengenai adab dan etika.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran sangat besar dalam membentuk karakter anak.

"Sekarang banyak kita temui anak memiliki ilmu, tetapi tidak memiliki adab dan etika. Pendidikan bukan hanya didapat di sekolah, tetapi pendidikan juga ada di rumah," tegasnya.

Karena itu, Afandi mengajak para orang tua untuk tidak menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah.

Menurutnya, pembentukan karakter harus dimulai sejak lingkungan keluarga melalui keteladanan, pembiasaan dan pengajaran mengenai sopan santun, tanggung jawab, menghargai orang lain serta mencintai bangsa dan negara.

Ia menilai penguatan wawasan kebangsaan menjadi semakin penting karena terdapat kecenderungan sebagian generasi muda mulai kehilangan kepedulian terhadap nilai-nilai kebangsaan.

"Ini salah satu alasan kenapa pemerintah melaksanakan kegiatan wawasan kebangsaan dan ideologi Pancasila kepada masyarakat. Kita melihat sudah banyak generasi muda sekarang yang mulai tidak peduli dan kurang memiliki rasa cinta tanah air," katanya.

Afandi bahkan menyinggung persoalan sederhana yang menurutnya menjadi gambaran perlunya penguatan kembali pemahaman kebangsaan.

"Hal yang simpel saja, banyak anak muda sekarang tidak hafal Pancasila," ujarnya.

Warga Pertanyakan Hilangnya Pelajaran Sejarah

Dalam sesi dialog, warga juga menyampaikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Febiyolanda, warga Lingkungan 1 Benteng Hilir, Kelurahan Tembung, mempertanyakan keberadaan mata pelajaran sejarah di sekolah.

Ia menceritakan pengalamannya ketika baru-baru ini memulangkan buku milik anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Ia tidak menemukan buku sejarah di antara buku pelajaran yang dibawa pulang.

"Saya bertanya kepada gurunya, apakah di sekolah ini memang ada buku sejarah? Rupanya memang tidak ada pelajaran sejarah di sekolah. Saya sangat menyayangkan pelajaran sejarah sudah tidak ada lagi di sekolah. Mohon penjelasannya," ujar Febiyolanda.

Pertanyaan tersebut mendapat perhatian dalam forum karena pendidikan sejarah dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pembentukan karakter kebangsaan.

Sejarah bukan hanya tentang mengingat tanggal dan nama tokoh, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan perjuangan para pendahulu, proses terbentuknya Indonesia, serta nilai persatuan dan pengorbanan yang menjadi dasar berdirinya bangsa.

Harga Ayam Naik, Warga Kaitkan dengan Sila Keempat

Sementara itu, Siti Hajar, warga Gang Sepakat Lingkungan 1, Kelurahan Tembung, mengangkat persoalan lain yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, yakni kenaikan harga bahan pokok.

Ia mencontohkan harga daging ayam yang menurutnya mengalami kenaikan cukup signifikan ketika aktivitas sekolah kembali berlangsung.

"Waktu anak sekolah libur harga ayam Rp28 ribu, tapi saat anak sekolah masuk harga ayam jadi Rp40 ribu, Pak," keluhnya.

Siti Hajar mengaitkan persoalan tersebut dengan pengamalan sila keempat Pancasila, terutama bagaimana kebijakan pemerintah seharusnya lahir melalui proses yang berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut warga, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena kenaikan harga secara langsung berdampak terhadap kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wasbang Bukan Sekadar Seremonial

Kegiatan pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan tersebut menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan masyarakat.

Afandi menegaskan bahwa kegiatan Wasbang tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai-nilai Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, pemahaman terhadap Pancasila harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, menjaga persatuan, gotong royong, menaati aturan, menghargai perbedaan dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

"Kalau kita bicara Pancasila, jangan hanya hafal lima silanya. Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai itu kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Afandi juga mengajak masyarakat, khususnya orang tua, untuk bersama-sama membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, etika, rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap bangsa.

Kegiatan tersebut turut didampingi Ir. Harismi sebagai narasumber, H. Ahmad Faisal Nasution, S.H. selaku tokoh agama, serta Mhd. Yahya Nasution, S.E., Hendro Ferdianto dan Mhd. Syukri Nasution sebagai tokoh masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Afandi berharap semangat kebangsaan semakin tumbuh di tengah masyarakat Medan Tembung dan nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi hafalan, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Share:
Komentar

Berita Terkini