Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad
Nama Gunung Krakatau tidak muncul begitu saja. Nama ini adalah hasil perpaduan bahasa kuno, suara alam, dan kelirunya para pelaut asing selama ratusan tahun.
Ada 3 teori utama di balik asal usul nama ini
1. Bahasa Sanskerta: "Karkaá¹aka" si Kepiting Laut
Nama "Krakatau" diyakini berakar dari bahasa Sanskerta yaitu kata karka atau karkaá¹aka yang artinya "kepiting" atau "lobster".
Kemungkinan besar pada masa lampau perairan di sekitar pulau itu memang banyak dihuni hewan bercangkang tersebut, sehingga penduduk menamainya berdasarkan ciri khas itu.
2. Onomatope: Tiruan Bunyi Letusan
Teori kedua menyebutkan nama itu berasal dari bunyi alam. "Krakatau" adalah bentuk onomatope, yaitu peniruan suara. Bisa jadi ini adalah suara letusan awal gunung atau gemuruh alam yang didengar penduduk setempat dan pendatang, lalu ditirukan menjadi nama.
3. Pelesapan dari "Rakata"
Nama asli pulau ini diduga kuat adalah Rakata. Buktinya sampai sekarang masih ada Pulau Rakata yang merupakan sisa tubuh Krakatau.
Seiring waktu, pelaut asing kesulitan melafalkan "Rakata". Dari sanalah muncul berbagai variasi: Rakata, Krakatao, Krakatoe, Krakatau, hingga Krakatoa.
JEJAK PENULISAN NAMA KRAKATAU DALAM SEJARAH
Perjalanan ejaan nama Krakatau bisa kita lacak dari 3 fase penting:
1. Naskah Lokal Pertama - Abad ke-15
Rujukan tertulis paling awal ada di naskah bahasa Sunda Kuno berjudul *Bujangga Manik yang ditulis akhir abad ke-15. Di dalamnya daerah ini disebut sebagai "pulo Rakata" yang artinya "Pulau Rakata, sebuah gunung di tengah laut".
Ini bukti bahwa masyarakat Nusantara sudah mengenal gunung ini jauh sebelum orang Eropa datang.
2. Catatan Barat Pertama - Tahun 1584 / 1611
Di dunia Barat, nama pulau ini pertama kali muncul di peta pelayaran. Kartografer Belanda "Lucas Janszoon Waghenaer" menuliskannya dengan ejaan *"Pulo Carcata"*.
3. Ejaan "Krakatau" Pertama - Tahun 1658
Penulisan dengan ejaan modern "Krakatau" pertama kali dicatat secara resmi oleh penjelajah Belanda Wouter Schouten saat ia melintasi pulau itu pada Oktober 1658.
Bonus: Lahirnya "Krakatoa" karena Salah Ketik - 1883
Ejaan "Krakatoa" yang sekarang populer di dunia internasional justru lahir dari kesalahan. Setelah letusan dahsyat 1883, media massa Inggris seperti koran _The Times_ salah ketik saat memberitakan peristiwa itu. Dari typo itulah "Krakatoa" menyebar luas dan jadi nama global.
Jadi, dari Rakata di kitab Sunda, jadi Carcata di peta Belanda, jadi Krakatau di catatan resmi, dan akhirnya jadi Krakatoa, karena salah ketik koran.
Satu gunung, empat nama, dan satu letusan yang mengubah peta dunia.
