-->

Cerita Bersambung Simardan : Badai Besar di Selat Malaka

Senja itu, Beng Dong Ghuong alias Badogol tengah menyusun rencana busuk bersama koki kapal. Juru masak kapal lanun itu rupanya belakangan ini telah

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                        Ditulis Oleh : Harunsyah Arsyad

Senja itu, Beng Dong Ghuong alias Badogol tengah menyusun rencana busuk bersama koki kapal. Juru masak kapal lanun itu rupanya belakangan ini telah menjadi salah satu kaki tangan Badogol. Perlahan, penuh siasat dan tipu daya, Badogol berhasil memengaruhinya.

Semula, sang koki hanya merasa berutang budi kepada Badogol. Selama ini, ia kerap menerima tips dan berbagai pemberian berupa barang-barang berharga setiap kali Badogol kembali ke kapal setelah menyelesaikan urusan atau tugas majikannya di daratan.

Kebaikan yang terus-menerus diberikan itu akhirnya berubah menjadi ketergantungan. Kebutuhan yang awalnya sederhana lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, tumbuh pula keinginan untuk menikmati kehidupan yang serba mewah.

Sang koki pun akhirnya masuk dalam pengaruh Badogol. Menjelang malam, keduanya menjalankan rencana yang telah disusun. Mereka berencana meracuni Raja Rompak melalui santapan makan malamnya.

Untuk menjalankan siasat itu, sang koki sengaja menyiapkan menu istimewa berupa makanan kesukaan Raja Rompak, yakni sop sirip ikan hiu dan bebek ungkep yang dibumbui dengan rempah-rempah pilihan.

Di kapal lanun tersebut memang tersedia sebuah wadah khusus untuk menyimpan persediaan sirip ikan hiu. Bahan makanan itu dibeli dari para nelayan ketika anak buah kapal menyamar sebagai penduduk biasa dan turun ke daratan menggunakan perahu-perahu kecil.

Selain itu, di kapal juga terdapat kandang khusus yang dibuat bersekat-sekat untuk menyimpan beberapa ekor itik dan ayam. Persediaan tersebut merupakan bagian dari logistik kapal yang biasanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan selama satu purnama.

Namun, rencana jahat itu ternyata tidak pernah sampai ke meja makan.Sebab, malam itu alam memiliki kehendak lain.

Simardan Menghadapi Amukan Badai

Kita tinggalkan sejenak kapal lanun. Jauh di belakang sana, perahu Simardan telah meninggalkan Kuala Aek Doras. Perahu itu terus menyusuri Selat Malaka menuju utara, ke tanah seberang, dalam kegelapan malam tanpa sinar rembulan.

Langit tampak hitam pekat.

Bulan dan bintang sama sekali tidak terlihat karena tertutup awan hitam yang bergumpal dan berlapis-lapis di angkasa. Awan-awan itu bergerak dari arah tenggara, kemudian melambat ketika bertemu dengan gumpalan awan tebal lainnya.

Semakin lama, langit semakin gelap. Sesekali kilat menyambar. Cahaya putih menyilaukan membelah kegelapan, disusul dentuman halilintar yang menggelegar hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa gentar. Suasana di tengah laut berubah menjadi mencekam. Tiba-tiba arah angin berubah.

Angin tenggara yang sebelumnya bertiup relatif stabil dihantam angin kencang dari arah barat. Hembusan itu datang secara tiba-tiba dan begitu dahsyat. Perubahan arah angin tersebut menimbulkan turbulensi hebat di udara hingga ke permukaan laut.

Gelombang pun meninggi.

Ombak bergulung-gulung, saling berkejaran dan berbenturan. Pukulan antara gelombang satu dengan lainnya menciptakan suara gemuruh yang menakutkan. Perahu kecil Simardan terombang-ambing, bergerak ke depan dan belakang seperti kuda binal yang sedang meronta.

Melihat keadaan itu, Simardan segera bertindak. Ia melompat menuju tiang layar. Dengan cekatan dilepaskannya ikatan kain layar yang masih terkembang.

Tak lama kemudian layar berhasil diturunkan. Tiang layar yang diterjang angin akhirnya patah. Simardan segera mengambil alih kemudi. Juru mudi yang sebelumnya berada di buritan telah terpelanting ke sana kemari akibat guncangan hebat. 

Kini Simardan mengendalikan perahu seorang diri. Ia memerintahkan semua orang segera mengosongkan muatan yang dianggap dapat membebani perahu. Barang-barang bawaan dilemparkan ke laut.

Tempayan beserta isinya sudah lebih dahulu terbang entah ke mana. Kajang beratap nipah berikut kayu penyangganya yang selama ini menjadi tempat berlindung dari panas matahari dan dinginnya embun malam juga telah diterbangkan badai. Tak ada pilihan.

Keselamatan nyawa harus didahulukan.

Dengan seluruh kekuatan fisik dan pengalaman yang dimilikinya sebagai pelaut, Simardan berusaha mengendalikan perahu di tengah hujan badai. Ia tahu, melawan gelombang dalam keadaan seperti itu hanya akan membuat perahu semakin sulit dikendalikan. Tujuannya kini hanya satu: mencari tempat berlindung.

Berdasarkan pengalaman mengarungi Selat Besar, Simardan mengetahui bahwa beberapa mil di sebelah timur dari posisi mereka terdapat sebuah pulau kecil. Untuk menentukan arah, ia mengamati gerakan gelombang dan pergerakan awan. Setiap kali kilat menyambar, ia menggunakan cahaya sesaat itu untuk membaca keadaan di sekelilingnya.

Perlahan ia memastikan haluan perahu mengarah ke timur. Simardan memang telah banyak menghabiskan sebagian usianya di Selat Besar. Ia mengenal seluk-beluk perairan tersebut dan memahami perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Karena itu, meski keadaan sangat genting, ia berusaha tetap tenang.

Ia membiarkan perahu mengikuti alunan gelombang besar, tetapi kemudi tetap dijaganya agar tidak menyimpang dari arah tujuan. 


Kapal Lanun Kehilangan Jejak

Kita tinggalkan dahulu Simardan dan kawan-kawan. Kembali ke kapal bajak laut yang berada jauh di perairan pesisir timur Andalas. Rupanya cuaca buruk malam itu terjadi hampir merata di sepanjang Selat Besar, yang kelak dikenal sebagai Selat Malaka. Kapal lanun Raja Rompak pun tak luput dari amukan badai. Malam itu, sesuai perintah sang majikan, kapal lanun terus mengikuti pergerakan kapal Sikantan.

Menurut perhitungan mereka, jika perjalanan berlangsung sesuai perkiraan, kapal Sikantan seharusnya telah berada di kawasan laut bebas dan keluar dari jangkauan armada laut Kerajaan Malaka di tanah Semenanjung yang baru ditinggalkannya.

Kapal itu juga diperkirakan belum memasuki wilayah kekuasaan armada laut Kerajaan Siak di tanah Andalas. Siak merupakan tujuan perdagangan pertama Sikantan setelah menikahi seorang dara cantik jelita, putri saudagar kaya dari Negeri Malaka. Ia kini berlayar menggunakan kapal baru yang besar dan megah, hadiah dari ayah mertuanya.

Namun, cuaca buruk membuat kapal lanun kehilangan jejak. Sementara itu, kapal Sikantan telah memasuki sebuah kuala sungai besar untuk menghindari kejaran. Sedikit masuk dari kuala sungai tersebut, yang dalam kisah ini dikaitkan dengan kawasan Sungai Barumun, sang nakhoda membawa kapal bersembunyi di balik sebuah tanjung.

Tanpa sepengetahuan Sikantan, sang nakhoda mengambil inisiatif untuk menjauh dari kapal lanun. Ia membawa kapal memasuki sungai besar yang sama sekali belum dikenalnya. Di kawasan pertemuan dua sungai yang dalam kisah ini dikaitkan dengan Sungai Barumun dan Sungai Bilah nakhoda memerintahkan anak buahnya melabuhkan jangkar. Keputusan itu diambil demi keselamatan seluruh awak kapal.

Sikantan Bertemu Masa Lalunya

Sementara nakhoda dan para awak sibuk menghadapi badai, Sikantan sedang tertidur pulas. Sejak sore, ia bersama istrinya menghabiskan waktu di kamar khusus kapal setelah menjalani masa bulan madu. Suara badai yang semakin keras akhirnya membangunkan keduanya.

Sikantan dan istrinya bergegas naik ke geladak. Namun, begitu sampai di bawah tiang layar, Sikantan mendadak terdiam. Matanya menatap jauh ke arah daratan. Ia terkejut. Sangat terkejut. Di tengah gelapnya malam dan derasnya hujan, ia menyadari bahwa kapal mereka sedang berada tepat di seberang sebuah gubuk tua.

Gubuk itu adalah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya. Tempat yang selama bertahun-tahun sengaja dirahasiakannya dari semua orang, terutama dari istrinya dan keluarga sang istri.

Sikantan malu mengakui masa lalunya.

Setelah hidupnya berubah, setelah berhasil meraih kejayaan dan menikahi seorang gadis cantik putri saudagar kaya serta terpandang, sifatnya pun berubah. Ia menjadi sombong. Masa lalu yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya justru dianggap sebagai aib yang harus disembunyikan.

Ia lupa bahwa sebelum memiliki kapal megah, harta benda dan kehidupan mewah, ada seorang perempuan tua yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Perempuan itu adalah ibunya sendiri. Dan malam itu, tanpa sepengetahuan Sikantan, sang ibu sedang terbaring lemah di dalam gubuk tua tersebut.

Tubuhnya digerogoti sakit yang telah lama dideritanya. Ia telah lama menanti kepulangan anak tunggalnya. Anak yang pergi merantau ke tanah seberang untuk mengadu nasib. Malam itu hujan turun sangat lebat. Petir menyambar berkali-kali.

Sang ibu tidak dapat memejamkan mata. Di tengah kesakitan, ia hanya mampu memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Dalam hati yang rapuh, ia memohon agar sebelum ajal menjemput, Tuhan mempertemukannya kembali dengan putra tercinta. Walaupun hanya untuk sekejap. 

Kapal Megah Ditelan Badai

Badai semakin menggila. Ombak mempermainkan kapal lanun di perairan timur, di balik kawasan kuala Barumun, yang dalam kisah ini dikaitkan dengan sekitar perairan Tanjung Bangsi dekat Panipahan. Kapal Sikantan yang bersembunyi di balik tanjung—yang dalam kisah ini dikaitkan dengan kawasan Tanjung Lumba-Lumba di Sungai Barumun—juga tak luput dari terjangan gelombang.

Kedua kapal sama-sama dihantam badai. Tiang utama layar kapal lanun patah. Panji hitam berlambangkan tengkorak dengan tulang bersilang milik Raja Rompak terlepas dari tiangnya.

Begitu pula panji merah berlambangkan ayam jantan milik kapal Sikantan. Kedua panji itu diterbangkan angin, melayang di udara sebelum akhirnya jatuh ke tengah gelombang dan hilang ditelan laut. Drum-drum, peti-peti, bahkan bak mandi milik Raja Rompak turut tersapu badai.Kepanikan melanda kapal lanun.

Raja Rompak segera memerintahkan anak buahnya membuang muatan yang dianggap membebani kapal. Tak ada yang boleh dipertahankan jika dapat mengancam keselamatan. Di kapal Sikantan, nakhoda juga meminta izin kepada majikannya untuk membuang sebagian muatan, terutama barang dagangan yang memenuhi kapal.

Namun Sikantan menolak. Ia terlalu yakin pada kekuatan kapal barunya yang besar dan megah. Kesombongan bercampur dengan rasa tamak dan kikir membuatnya enggan kehilangan harta. Ia percaya badai akan segera berlalu. Namun, kehendak manusia tidak selalu sejalan dengan kehendak Tuhan.

Takdir Sikantan

Hujan semakin lebat. Ombak meninggi seperti gunung. Dua arus besar dari Sungai Barumun dan Sungai Bilah bertemu di kawasan tersebut, memperbesar kekuatan air yang sedang mengamuk. Kapal Sikantan tak lagi mampu bertahan. Gelombang besar menghantam badan kapal berkali-kali.

Dalam waktu singkat, kapal megah yang selama ini menjadi kebanggaan Sikantan mulai kehilangan keseimbangan. Akhirnya kapal itu tenggelam. Seluruh penumpang yang tidak berhasil menyelamatkan diri ditelan gelombang.

Bangkai kapal Sikantan kemudian terbawa arus hingga ke tengah Sungai Barumun. Dan pada saat yang hampir bersamaan, di dalam gubuk tua tepat di seberang lokasi itu, sang ibu juga sedang meregang nyawa. Perempuan tua itu mengembuskan napas terakhirnya. Sendirian.

Tanpa seorang pun menyaksikan kepergiannya. Ia pergi sebelum sempat melihat anak tunggalnya kembali. Takdir mempertemukan keduanya pada malam yang sama, tetapi tidak dalam sebuah perjumpaan sebagaimana yang selama ini didambakan sang ibu.

Rencana Racun yang Tak Pernah Terhidang

Sementara itu, di kapal lanun Raja Rompak, badai masih mengamuk. Cuaca buruk yang datang secara tiba-tiba itu jauh lebih dahsyat daripada badai yang biasanya mereka hadapi di Selat Besar.

Pengalaman dan kemampuan para pelaut pun seakan tidak berarti ketika berhadapan dengan amukan alam sebesar itu. Rencana Badogol akhirnya berantakan. Santapan makan malam yang telah dipersiapkan sang koki sebagai bagian dari siasat untuk meracuni Raja Rompak tidak pernah sampai ke hadapan sang raja.

Sop sirip ikan hiu dan bebek ungkep penuh rempah yang semula disiapkan sebagai jamuan istimewa berserakan di geladak.

Hidangan itu kemudian diterbangkan angin dan jatuh ke laut yang sedang mengamuk. Rencana pembunuhan yang disusun secara diam-diam pun gagal sebelum sempat dijalankan. Namun, Badogol belum berhenti. Kegagalan malam itu bukan berarti berakhirnya ambisi sang pengkhianat.

Lahirnya Pulau Sikantan

Waktu terus berjalan. Jauh setelah peristiwa tragis tersebut, bangkai kapal Sikantan yang berada di kawasan Sungai Barumun perlahan tertutup lumpur.

Lumpur itu terbawa arus sungai dari bagian hulu dan mengendap sedikit demi sedikit di sekitar bangkai kapal. Tahun demi tahun berlalu. Endapan lumpur semakin menebal. Dari sana perlahan terbentuk sebuah daratan baru.

Daratan itu kemudian berkembang menjadi sebuah pulau hasil proses pendeltaan. Pulau tersebut mulai ditumbuhi berbagai jenis tanaman seperti kelapa, pinang, nipah, mangga dan tumbuhan lainnya.

Sebagian bibit tumbuhan diyakini berasal dari buah-buahan yang terbawa arus dari hulu sungai. Buah-buah itu tersangkut di daratan baru, kemudian berkecambah dan tumbuh. Pulau tersebut pun terus meluas hingga membentuk kawasan seperti yang dikenal sekarang.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, terdapat pula kisah mengenai pohon mangga di Pulau Sikantan yang buahnya memiliki rasa berbeda. Buah pada cabang yang mengarah ke laut disebut-sebut terasa asam, sedangkan buah pada cabang yang mengarah ke darat terasa manis.

Penjelasan mengenai hal tersebut sebenarnya dapat dikaitkan dengan kondisi tempat tumbuhnya akar. Akar yang berada di sisi laut diduga lebih banyak mendapatkan pengaruh air asin dan kandungan garam, sedangkan akar yang berada di sisi darat memperoleh lebih banyak unsur hara dari tanah.

Perbedaan kondisi lingkungan tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan dan karakter buah.  Adapun kisah tentang kera putih yang disebut sebagai jelmaan istri Sikantan merupakan bagian lain dari legenda yang berkembang secara turun-temurun.

Cerita itu hidup dari mulut ke mulut dan menjadi bagian dari kekayaan folklor masyarakat setempat. Di antara sejarah, alam dan mitos, kisah Sikantan akhirnya terus hidup. Ia bukan sekadar cerita tentang sebuah kapal yang tenggelam.

Ia juga menjadi kisah tentang seorang anak yang melupakan asal-usulnya, seorang ibu yang menunggu kepulangan buah hatinya hingga akhir hayat, serta sebuah takdir yang mempertemukan keduanya tanpa sempat menghadirkan perjumpaan. (Bersambung)


Share:
Komentar

Berita Terkini