-->

Cerita Bersambung Simardan, Kisah Sikantan: Badogol Menjatuhkan Raja Rompak ke Tengah Amukan Badai

Bersamaan dengan tenggelamnya kapal Sikantan di muara Sungai Barumun dan Sungai Bilah, di Selat Besar dekat Tanjung Bangsi, badai dahsyat masih mengam

Editor: PoskotaSumut.id author photo


Bersamaan dengan tenggelamnya kapal Sikantan di muara Sungai Barumun dan Sungai Bilah, di Selat Besar dekat Tanjung Bangsi, badai dahsyat masih mengamuk tanpa ampun.

Di atas geladak kapal bajak laut milik Raja Rompak, suasana semakin kacau. Angin bertiup begitu kencang, menerbangkan apa saja yang tidak terikat kuat. Ombak besar bergulung-gulung, menghantam lambung kapal dan membuat seluruh badan kapal berderak hebat.

Raja Rompak berdiri di dekat anjungan sambil berteriak memberi perintah kepada anak buahnya.

"Turunkan semua layar! Cepat! Matikan seluruh lampu!"

Para kelasi segera bergerak menjalankan perintah. Layar-layar yang masih terbentang diturunkan satu per satu. Lampu-lampu yang menyala juga segera dipadamkan.

Raja Rompak memahami betul bahaya yang mengancam kapal di tengah badai seperti itu. Jika lampu atau benda yang mudah terbakar terlepas dan jatuh ke lantai kayu, percikan api sedikit saja dapat berubah menjadi malapetaka. Api bisa dengan cepat membakar kapal beserta seluruh isinya, sementara mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri di tengah lautan yang sedang mengamuk.

Kepada nakhoda, Raja Rompak kembali memberikan perintah.

"Awasi haluan! Jangan biarkan ombak menghantam kapal dari samping!"

Sebagai seorang yang telah lama hidup di laut, ayah angkat Simardan itu sangat memahami watak gelombang. Baginya, hantaman ombak dari depan masih jauh lebih mudah dihadapi dibandingkan bila gelombang datang menghantam lambung kapal dari kedua sisinya.

Jika dihantam dari samping, kapal akan oleng hebat ke sisi yang berlawanan. Air laut dapat dengan mudah menerobos masuk ke geladak dan memenuhi lambung kapal. Jika tidak segera dikendalikan, kapal akan kehilangan keseimbangan dan akhirnya terbalik atau tenggelam.

"Jangan lawan ombak!" teriak Raja Rompak lagi. "Ikuti alunannya! Biarkan kapal bergerak seperti sabut kelapa yang dipermainkan gelombang!"

Nakhoda memahami maksudnya.

Kapal harus sebisa mungkin diposisikan mengikuti arah datangnya gelombang. Dengan begitu, kapal tidak perlu memaksakan diri melawan kekuatan laut yang jauh lebih besar. Biarlah kapal naik turun mengikuti gelombang.

Biarlah ia hanyut sementara, selama haluan tetap terjaga dan kapal tidak sampai dipukul ombak dari samping. Di tengah amukan badai yang semakin menjadi-jadi dan malam yang kian larut, kapal lanun Raja Rompak benar-benar terlihat seperti sebongkah sabut kelapa kecil yang dipermainkan lautan.

Sesekali kapal itu muncul di puncak gelombang yang menggunung. Kemudian lenyap. Seolah-olah telah ditelan oleh gulungan air laut. Beberapa detik kemudian, kapal kembali terlihat ketika terdorong naik oleh gelombang berikutnya.

Seluruh anak buah kapal dilanda kepanikan. Namun, keadaan yang begitu genting ternyata tidak menyurutkan niat Beng Dong Ghuong alias Badogol. Rencana pertamanya untuk melenyapkan Raja Rompak bersama sang koki memang telah gagal.

Hidangan makan malam yang telah diberi racun itu diyakininya telah diterbangkan angin dan tersapu ke laut bersama barang-barang lainnya ketika badai mulai mengamuk. Tetapi Badogol tidak menyerah.

Dalam benaknya hanya ada satu tujuan: Raja Rompak harus mati. Ia hanya membutuhkan kesempatan. Dan kesempatan itu datang ketika perhatian Raja Rompak tertuju sepenuhnya kepada nakhoda dan para kelasi.

Raja Rompak sedang berdiri di sisi kapal sambil berteriak memberi petunjuk, berusaha menjaga haluan agar tetap mengikuti arah gelombang. Saat itulah Badogol bergerak.

Dengan gerakan yang seolah tidak disengaja, ia menggeser sebuah peti kayu yang berada di dekat Raja Rompak. Kuisan kakinya dilakukan dengan cepat.

Namun, agar tidak menimbulkan kecurigaan, Badogol segera membuat tubuhnya seolah-olah kehilangan keseimbangan akibat kapal yang sedang dihantam gelombang. Peti kayu itu meluncur deras.

Brak!

Tanpa sempat menghindar, peti tersebut menghantam kedua betis Raja Rompak dan meluncur hingga mengenai bagian pahanya. Tubuh sang raja lanun kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, Raja Rompak terjungkal melewati bibir kapal.

Tubuhnya tercebur ke tengah gelombang yang sedang mengamuk, disusul serpihan peti kayu yang pecah dihantam kerasnya air laut.

"Raja!"

Teriakan para anak buah kapal pecah bersamaan. Suasana yang semula sudah mencekam berubah menjadi kepanikan.

Beberapa orang langsung berlari ke sisi kapal untuk mencari keberadaan majikan mereka. Bahkan tanpa menunggu perintah, beberapa kelasi secara spontan melompat ke laut untuk menyelamatkan Raja Rompak.

"Pegang tali!"

Para kelasi yang masih berada di atas kapal segera melemparkan tambang-tambang ke permukaan laut. Tali-tali itu menjulur ke tengah gelombang yang bergulung liar. Para kelasi yang telah terjun ke laut segera berusaha meraih dan memegang tali tersebut. Tambang itu menjadi satu-satunya pengaman bagi mereka agar tidak terseret jauh oleh arus dan gelombang.

Selain untuk menjaga keselamatan para penyelam, tali-tali tersebut juga dipersiapkan untuk menarik Raja Rompak apabila berhasil ditemukan.

Namun, jika pencarian tidak membuahkan hasil dan tenaga para kelasi yang berada di laut mulai terkuras, tali itu akan menjadi jalan terakhir untuk menarik mereka kembali ke atas kapal. Di bawah sana, laut benar-benar seperti neraka.

Gelombang menjulang tinggi, angin meraung, hujan menghantam wajah, sementara pandangan hampir tidak terlihat dalam pekatnya malam. Tidak seorang pun tahu di mana tubuh Raja Rompak terlempar.

Para kelasi terus berteriak memanggil namanya.

"Raja Rompak!"

"Raja!"

Tetapi suara mereka segera ditelan suara badai. Di tengah kegelapan laut, tubuh Raja Rompak tidak terlihat lagi. Sementara itu, di atas geladak kapal, Badogol berdiri di antara anak buah kapal lainnya. Wajahnya dibuat cemas.

Matanya diarahkan ke laut seolah-olah ia benar-benar sedang mengkhawatirkan keselamatan sang majikan. Tidak seorang pun mengetahui bahwa peti kayu yang menghantam Raja Rompak bukanlah kecelakaan. Tidak seorang pun mengetahui bahwa tangan tak terlihat di balik musibah itu adalah Badogol.

Dan tidak seorang pun menyadari bahwa, di tengah badai yang mengamuk, seorang pengkhianat baru saja melancarkan percobaan pembunuhan yang jauh lebih berbahaya daripada racun di meja makan. Bersambung...

Share:
Komentar

Berita Terkini