Pada malam yang sama, di tiga tempat berbeda, tiga peristiwa sedang berlangsung. Di sebelah utara, Simardan masih berjuang melawan badai. Dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, ia berusaha menyelamatkan perahu sekaligus seluruh penumpangnya. Di tengah gelapnya malam, sebuah pulau kecil mulai tampak samar-samar di kejauhan.
Dari atas perahu, pulau itu hanya terlihat seperti sebuah noktah hitam yang sesekali muncul dan menghilang di balik puncak gelombang. Noktah itu menjadi satu-satunya harapan. Jika mereka berhasil mencapai pantainya, mungkin mereka masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri dari amukan Selat Besar malam itu.
Sementara itu, jauh di sebelah timur, masih di perairan selat yang sama, di balik kuala Sungai Barumun yang dalam kisah ini berada di sekitar Tanjung Bangsi, perbatasan antara Sei Berombang-Labuhan Batu dan Panipahan-Riau, Raja Rompak sedang berjuang menghadapi maut. Sesaat sebelumnya ia tercebur dari kapal akibat perbuatan licik Badogol.
Namun, Raja Rompak ternyata belum menyerah. Dalam hempasan ombak yang gelap, tangannya berhasil meraih beberapa potongan kayu yang berasal dari serpihan sebuah peti yang pecah diterjang badai.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia bergelayut pada potongan kayu itu. Semalaman ia bertahan hanya untuk satu tujuan: tetap mengapung agar tidak ditelan laut. Kapalnya sudah jauh meninggalkan dirinya.
Ia pun hanyut semakin jauh, terpisah dari kapal dan anak buahnya, dibawa arus serta gelombang yang tak mengenal belas kasihan. Di tempat lain, jauh di selatan Kampung Tanjung, sebuah peristiwa yang tak kalah genting sedang berlangsung.
Di dalam sebuah gubuk tua di tepian teluk Aek Doras, emak Simardan tengah berusaha menyelamatkan nyawa seorang lelaki paruh baya yang ditemukan dalam keadaan terluka.
Menurut perkiraan sang nenek, lelaki itu telah mengalami luka tersebut lebih dari sehari sebelumnya. Selama itu pula ia tampaknya berusaha bersembunyi dan mengobati lukanya sendiri hingga akhirnya tak sadarkan diri di belakang gubuk.
Kini keadaannya semakin buruk. Darah yang keluar dari luka tusukan telah membuat tubuhnya sangat lemah. Luka tersebut juga tampak mulai memburuk dan menunjukkan tanda-tanda infeksi. Tubuhnya panas.
Napasnya berat. Sesekali kedua bola matanya terbelalak ke atas, menyisakan bagian putih matanya sebelum kembali terpejam.
Pertolongan yang dilakukan emak Simardan sejak petang belum menunjukkan perubahan berarti. Namun, perempuan tua itu tidak menyerah. Ketika hujan mulai turun dengan deras sejak senja, ia tampak menyiapkan sesuatu yang berbeda.
Sesajen di Tengah Hujan
Di dalam gubuk tua itu, emak Simardan mulai menata berbagai sajian. Ia percaya, ada sahabat-sahabatnya dari alam tak kasatmata yang dapat dimintai pertolongan.
Dupa mulai dibakar. Asapnya perlahan memenuhi ruangan sempit tersebut. Aroma kemenyan bercampur dengan udara lembap dari hujan yang masuk melalui celah-celah dinding gubuk.
Suasana seketika berubah. Si Merdeng dan Si Mardong tampaknya tidak menyukai aroma tersebut. Kedua hewan yang biasanya selalu berada di dekat emak Simardan itu segera berlari meninggalkan gubuk.
Si Mardong memilih berlindung di bawah kolong rumah. Sementara Si Merdeng memanjat pohon di sekitar kebun. Tak lama kemudian, dari dalam gubuk terdengar suara emak Simardan. Ia mulai bersinandong.
Sebuah senandung yang terdengar seperti lantunan pemanggilan kepada jin jembalang dan para sahabatnya yang tak kasatmata.
Suara itu mula-mula terdengar pelan. Kemudian semakin jelas. Semakin lama, nadanya berubah menjadi berat dan dalam.
Bulu kuduk siapa pun yang berada di sekitar tempat itu mungkin akan berdiri mendengarnya. Hujan terus mengguyur. Angin berembus di antara pepohonan.
Namun, suara senandung dari dalam gubuk tetap terdengar. Lama-kelamaan suara emak Simardan semakin berat. Kemudian perlahan melemah.
Tiba-tiba terdengar seperti percakapan. Seolah-olah sang nenek sedang berbicara dengan seseorang. Atau bahkan dengan beberapa orang sekaligus. Padahal, tidak seorang pun terlihat memasuki gubuk itu.
Gubuk Dipenuhi Suara Aneh
Beberapa saat kemudian, suara dari dalam gubuk berubah menjadi riuh. Terdengar bunyi-bunyian aneh. Seperti suara langkah. Ketukan. Benturan.
Kemudian suara gaduh yang datang silih berganti. Namun, tidak terlihat siapa pun di dalam gubuk tersebut. Lelaki yang terbaring lemah di atas tikar tiba-tiba membuka mata. Ia seperti tersadar mendengar kegaduhan itu. Tatapannya kosong.
Tubuhnya berusaha bergerak, tetapi tenaganya tidak lagi cukup. Sesaat kemudian ia kembali jatuh tak sadarkan diri. Di bawah gubuk, Si Mardong tiba-tiba melolong panjang. Auuuuuuuu...
Lolongannya terdengar berkali-kali tanpa henti. Anjing hitam itu menengadahkan kepalanya ke langit. Rahangnya terbuka lebar. Air liur berbusa tampak keluar dari sela-sela giginya. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang dilihatnya, sesuatu yang tidak mampu dilihat oleh mata manusia biasa.
Sementara itu, Si Merdeng semakin ketakutan. Ia memanjat pohon sentul dan bersembunyi di balik cabang yang rimbun. Dari tempat persembunyiannya, kera putih itu hanya mengintip ke arah gubuk. Ia tidak berani turun.
Emak Simardan Naek Puako
Di dalam gubuk, keadaan emak Simardan semakin berubah. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, keadaan seperti itu dikenal sebagai naek puako—ketika seseorang dipercaya sedang berada dalam keadaan kerasukan atau kemasukan kekuatan dari alam gaib.
Tubuh perempuan tua itu mulai bergerak tidak seperti biasanya. Ia menari-nari. Tangannya memukul dinding. Sesekali ia menghentakkan tangan ke lantai bambu. Kemudian tubuhnya berguling-guling. Tak lama berselang, ia bahkan memanjat dinding gubuk. Gerakannya semakin liar.
Namun, beberapa saat kemudian semuanya kembali tenang. Emak Simardan duduk diam. Napasnya terdengar berat. Kepalanya tertunduk. Kemudian ia kembali berbicara dengan suara yang pelan dan dalam. Seolah-olah sedang melakukan percakapan dengan makhluk-makhluk yang tidak terlihat.
Dalam keadaan tersebut, emak Simardan kemudian menyampaikan maksud kedatangannya. Ia meminta pertolongan. Ada seorang lelaki terluka parah di dalam gubuknya. Ia ingin mengetahui siapa di antara para sahabat gaibnya yang sanggup menyembuhkan lelaki tersebut.
Sebagai imbalannya, ia telah menyiapkan sajian untuk mereka. Namun, sebelum persoalan lelaki terluka itu dibicarakan lebih jauh, muncul sebuah perkara lain.
Anak yang Hilang di Kebun
Dari percakapan tersebut, emak Simardan mengetahui bahwa beberapa anak sebelumnya telah memasuki kebunnya. Anak-anak itu mengambil buah-buahan tanpa izin. Salah seorang dari mereka bahkan kembali diam-diam setelah teman-temannya pulang.
Anak yang paling bandel itulah yang kemudian dikabarkan berada dalam tawanan para penghuni alam tak kasatmata tersebut. Emak Simardan pun mengetahui bahwa anak itu belum dikembalikan. Mereka bersedia melepaskannya dengan satu syarat.
Orangtua anak tersebut harus datang sendiri ke kawasan itu. Mereka harus memohon agar anaknya dilepaskan.
Selain itu, orangtuanya diminta membawa sajian berupa seekor ayam jantan putih dan kembang tujuh rupa. Ada pula satu janji yang harus disampaikan. Anak tersebut tidak boleh lagi mengulangi perbuatannya.
Setelah urusan itu dibicarakan, pembicaraan kembali beralih kepada lelaki paruh baya yang sedang terbaring tak berdaya.
Syarat untuk Menyelamatkan Sang Lelaki
Kali ini jawaban yang datang membuat emak Simardan terdiam. Para penghuni alam tak kasatmata itu menyatakan sanggup membantu mengobati lelaki yang terluka tersebut. Namun, pertolongan itu tidak diberikan cuma-cuma.
Ada syarat yang harus dipenuhi. Emak Simardan diminta menyediakan sepasang ayam. Seekor ayam jantan berwarna hitam. Seekor lagi ayam betina berwarna putih.
Selain itu, harus disediakan pula beras bertih—beras yang digongseng hingga kering dan merekah—yang ditempatkan di dalam sebuah mangkuk tanah.
Itulah syarat yang harus dipenuhi emak Simardan apabila ingin meminta pertolongan untuk menyelamatkan lelaki yang sedang berada di ambang maut tersebut.
Di luar gubuk, hujan masih turun deras. Angin terus menggerakkan dedaunan. Si Mardong masih meringkuk di bawah rumah sambil sesekali mengeluarkan suara lirih. Si Merdeng tetap bersembunyi di atas pohon sentul.
Sementara di dalam gubuk, emak Simardan harus menentukan pilihan. Ia hanya memiliki satu tujuan malam itu:
menyelamatkan nyawa seorang lelaki asing yang ternyata sedang diburu orang-orang Kampung Tanjung.
Namun, siapa sebenarnya lelaki itu?
Mengapa ia sampai terluka dan melarikan diri?
Dan benarkah pertolongan yang dijanjikan para penghuni alam tak kasatmata tersebut mampu menyelamatkannya?
Jawabannya akan membuka lembaran baru dalam perjalanan kisah Simardan. (Bersambung)
