PALUTA–Kelangkaan BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar yang kerap terjadi di Kecamatan Halongonan Timur membuat masyarakat resah. Warga mendesak aparat penegak hukum dan Pertamina untuk bertindak tegas terhadap mafia dan pengecer ilegal BBM subsidi, Jum'at (11/9/2026).
Menurut warga, kelangkaan yang terjadi bukan semata karena kuota, melainkan karena penyelewengan di lapangan. Praktik penimbunan dan penjualan eceran dengan harga tinggi dinilai menjadi penyebab utama subsidi tidak tepat sasaran.
"Yang menikmati Pertalite dan Solar subsidi selama ini adalah para mafia dan pengecer. Alasan harus pakai barcode itu hanya permainan dan tetap tidak terawasi. Lebih baik kuotanya ditambah dan pengawasannya diperketat," ujar salah seorang perwakilan masyarakat Halongonan Timur.
Warga menilai, akibat ulah mafia dan pengecer ilegal, petani yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan mendapatkan BBM subsidi. Dampaknya, roda perekonomian di Halongonan Timur ikut terganggu.
Menanggapi hal tersebut, masyarakat Kecamatan Halongonan Timur menyampaikan 3 tuntutan utama:
1. Menambah kuota BBM subsidi Pertalite dan Solar sesuai kebutuhan riil di lapangan.
2. Memperketat pengawasan penyaluran oleh SPBU bersama Muspika, Polsek, dan Koramil Halongonan Timur.
3. Menindak tegas mafia dan pengecer ilegal BBM subsidi sesuai UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
"Kami minta Polres Paluta dan Pertamina jangan ragu menindak. Segel gudang penimbun, tutup lapak pengecer ilegal, dan cabut izin SPBU yang bermain. Jangan biarkan subsidi rakyat dinikmati oknum," tegasnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan agar BBM subsidi benar-benar sampai ke tangan yang berhak dan tidak menciptakan kesenjangan sosial di tengah masyarakat. (Haryan Harahap).
