Oleh : Harunsyah Arsyad
Malam itu, hubungan antara dunia manusia dan alam gaib di sekitar gubuk tua Aek Doras seperti terbuka lebar.
Sang nenek Emak Simardan bukan sedang berhadapan langsung dengan seluruh penghuni alam gaib yang berkumpul di sekitar gubuknya. Ia berhubungan dengan sahabat-sahabat gaibnya, makhluk tak kasatmata yang selama bertahun-tahun telah dikenalnya dan dipercaya sebagai pendamping dalam kehidupan mistisnya.
Para sahabat gaib itulah yang malam itu menjadi perantara antara Emak Simardan dengan penguasa alam gaib Aek Doras. Di antara para makhluk tersebut terdapat satu sosok yang bertindak sebagai utusan Raja Kerajaan Gaib Aek Doras. Sang utusan menyampaikan kehendak rajanya kepada Emak Simardan.
Menurut penjelasan utusan tersebut, Raja Kerajaan Gaib Aek Doras adalah penguasa alam gaib yang dipercaya bersemayam di kawasan sungai Aek Doras. Ia memiliki bala tentara dan para jembalang yang menjadi pengikutnya. Karena itulah, permintaan yang disampaikan kepada Emak Simardan bukan semata-mata permintaan sahabat-sahabat gaibnya sendiri.
Sebagian merupakan syarat dari para sahabat gaibnya. Sebagian lagi merupakan jamuan yang diminta oleh sang penguasa Aek Doras melalui utusannya. Dengan demikian, malam itu Emak Simardan seperti berada di tengah sebuah hubungan tiga lapis:
Emak Simardan ↔ sahabat-sahabat gaibnya ↔ utusan Raja Aek Doras ↔ Raja Aek Doras dan bala tentaranya.
Namun, ada satu hal yang membuat perjanjian tersebut menjadi semakin rumit. Emak Simardan sendiri memiliki permintaan kepada para sahabat gaibnya. Ia meminta mereka mengembalikan seorang anak bandel yang sebelumnya dibawa atau ditahan oleh makhluk-makhluk dari alam mereka.
Sang nenek tidak meminta anak itu dikembalikan sampai ke rumah orang tuanya. Ia hanya meminta agar anak tersebut dipulangkan sampai ke batas kampung terdekat. Sebagai imbalannya, Emak Simardan bersedia menambah sesajian berupa bubur pulut hitam dan putih.
Ia bahkan sudah mengikhlaskan buah-buahan dari kebunnya yang dahulu dicuri anak tersebut. Dalam hati, sang nenek hanya berharap satu hal: semoga kebaikan yang dilakukannya malam itu kelak menjadi jalan bagi balasan baik untuk putranya, Simardan, yang telah lama hilang. Dan dari bisikan sahabat gaibnya, ia memperoleh kabar yang membuat dadanya bergetar.
Simardan masih hidup.
Putranya tidak mati. Simardan disebut masih berlayar jauh di tengah lautan bersama sekelompok orang. Namun tempatnya berada jauh di luar jangkauan para makhluk gaib yang malam itu berkumpul di sekitar gubuk Aek Doras. Itulah sebabnya para sahabat gaib Emak Simardan pun tidak dapat membawa Simardan pulang. Mereka hanya dapat menyampaikan kabar tentang keberadaannya.
Sementara itu, lelaki paruh baya yang dibawa ke gubuk masih terbaring tidak sadarkan diri. Ia merupakan manusia yang sedang ditolong Emak Simardan. Untuk kesembuhan lelaki itu, para sahabat gaibnya meminta sesajian tertentu sebagai bagian dari perjanjian pengobatan.
Tetapi ketika syarat tersebut disampaikan, muncul permintaan yang lebih besar dari pihak penguasa Aek Doras.
Sang utusan mengatakan bahwa Raja Aek Doras beserta bala tentaranya telah menunggu jamuan. Sang nenek diminta menyiapkan beras bertih, bubur pulut hitam dan putih, serta sepasang ayam. Seekor ayam jantan berwarna hitam. Seekor ayam betina berwarna putih. Keduanya harus disembelih di tepian sungai.
Menurut pesan yang disampaikan sang utusan, sebagian darah kedua ayam itu harus dihanyutkan ke Aek Doras sebagai persembahan kepada penguasa sungai dan bala tentaranya.
Sementara sebagian lainnya akan digunakan dalam ritual pengobatan lelaki paruh baya tersebut. Ancaman pun disampaikan. Jika seluruh persyaratan itu tidak dipenuhi malam itu, Raja Aek Doras disebut akan murka dan dapat mendatangkan malapetaka di kawasan sekitar sungai.
Mendengar itu, hati Emak Simardan sempat ciut. Ia sadar bahwa kali ini persoalannya bukan hanya dengan sahabat-sahabat gaib yang selama ini dikenalnya. Ada penguasa yang lebih tinggi di balik mereka. Namun karena niatnya adalah menolong manusia yang sedang terbaring sakit, ia akhirnya bersedia. Ia menerima persyaratan tersebut.
Di luar gubuk, Simardong terus melolong. Anjing hitam itu tampaknya dapat merasakan kehadiran makhluk-makhluk yang tidak mampu dilihat manusia biasa. Berbeda dengan manusia, Simardong seolah-olah mampu mengetahui bahwa malam itu banyak penghuni alam lain sedang berkumpul di sekitar gubuk.
Sementara Simerdeng, monyet putih yang selama ini menjadi teman sekaligus anak asuh Emak Simardan, memilih bersembunyi di balik rimbunnya daun pohon sentul. Ia ketakutan. Namun ketika suara Emak Simardan memanggil keduanya, Simardong dan Simerdeng akhirnya datang.
“Simardong!”
“Simerdeng!”
Keduanya berlari menghampiri. Sang nenek kemudian memberikan perintah.
“Carikan aku ayam jantan hitam dan ayam betina putih.”
Kedua hewan itu seakan mengerti. Simardong segera berlari menuju tempat ayam-ayam peliharaan berkeliaran. Simerdeng menyusul dari arah lain. Mereka tidak tahu untuk apa ayam itu diperlukan. Namun mereka tahu bahwa perintah tersebut datang dari ibu asuh yang selama ini merawat mereka.
Lewat tengah malam, hujan semakin deras. Di dalam gubuk, Emak Simardan mulai memasak bubur pulut hitam dan putih. Beras bertih disiapkannya. Sementara lelaki paruh baya masih terbaring tak sadarkan diri.
Di luar, kilat menyambar-nyambar. Guntur menggelegar. Dari arah Aek Doras, suara arus sungai terdengar semakin keras. Seolah-olah sungai itu sendiri sedang menunggu sesuatu. Di tempat lain, jauh dari gubuk tersebut, badai besar juga sedang mengamuk di Selat Malaka.
Raja Rompak masih berada di tengah lautan. Kapal lanun dan kapal Sikantan berada dalam ancaman badai. Dan lebih ke utara lagi, Simardan sedang berjuang mengendalikan perahunya yang dihantam ombak ganas.
Tiga tempat. Tiga perjuangan. Satu malam yang sama. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari bawah tangga. Simardong muncul dalam kegelapan. Di rahangnya tergigit seekor ayam jantan hitam. Ayam itu masih hidup dan meronta-ronta. Dari arah lain, Simerdeng muncul membawa seekor ayam betina putih.
Keduanya menyerahkan hasil pencarian mereka kepada Emak Simardan. Sang nenek menatap kedua ayam tersebut. Kemudian pandangannya beralih ke arah Aek Doras. Ia tahu, setelah ini ia harus turun ke tepian sungai.
Ia harus memenuhi janji kepada sahabat-sahabat gaibnya. Namun lebih dari itu, ia harus memenuhi jamuan yang telah diminta utusan Raja Kerajaan Gaib Aek Doras. Sang nenek menarik napas panjang.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah sesajian itu dihanyutkan. Ia juga tidak tahu apakah lelaki paruh baya tersebut benar-benar akan sembuh. Tetapi satu hal terus terngiang dalam pikirannya:
Simardan masih hidup.
Jauh di tengah lautan, putranya sedang berjuang menghadapi badai. Dan tanpa diketahui siapa pun, pada malam yang sama, sebuah perjanjian gaib sedang membuka jalan menuju pertemuan kembali yang telah bertahun-tahun dinantikan.
Bersambung...
