-->

Cerita Bersambung Simardan: Restu Dua Raja untuk Simardan

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                         B Oleh: Harunsyah Arsyad 

Para penonton sudah mulai berdatangan tak sabarmenunggu kelanjutan pertandingan puncak itu. Merekasudah memenuhi arena sekeliling lapangan di belakangtempat duduk tamu tamu kehormatan yg berjejer.Raja Tumasik didampingi beberapa pengawal sudahpunduduk di meja kehormatan, tetapi satu bangku disebelahkirinya itu masih terlihat kosong. 

Tak tampak puteri sematawayangnya disana.Rupanya sang Puteri Tumasik tak ikut serta menyaksikankelanjutan pertandingan itu. Ia sedari tadi mengurung diridi kamar di kapal ayahnya. Disana ia menangis seorangdiri sambil berdoa memohon kiranya tim SimardandiberikanNYA kemenangan.

Sang Puteri sudah tak sanggup lagi untuk menontonbabak akhir pertandingan puncak itu. Ia malu pada sangayah yg tak mampu tegar sampai akhir pertandingansesuai janjinya semula. 

Juga merasa sedih ternyataSimardan tak jua menunjukkan perhatian dan rasa cintapadanya. Iapun meragukan Simardan tertarik padadirinya. Sedangkan ia begitu mendambakan Simardan.

Rasa sedih bercampur malu membuat jiwanya menjadirapuh.Sementara itu di seberang lapangan tampak bangku RajaAceh masih kosong juga. Timnya belum kelihatan hadir dilapangan sedangkan Simardan dan timnya tampak sudahbersiap-siap di pinggir lapangan.

Simardan terlihat tenang ia tak ingin menunjukkan sesuatuyg sudah diketahuinya. Sesekali ia mencuri pandang kebangku Raja Tumasik, dilihatnya disana bangku sangPuteri masih kosong yg sampai sekarang belum juga hadirmenyaksikan.Lalu pandangannya beralih ke bangku Raja Aceh, disanajuga masih juga kosong. 

Dia bertanya tanya dalam hatiada apa gerangan. Simardan kuatir jangan-jangan RajaAceh telah berubah fikiran.Para juri masih menunggu kehadiran tim Aceh. RajaTumasik yang sudah terduduk menunggu sedari tadidengan dipayungi pengawal kelihatan sudah tak tenangduduknya pun gelisah.

Setelah beberapa waktu menunggu kemudian tampaklahdari kejauhan di pantai sana sebuah sekoci sedang didayung beberapa pengawal mulai merapat ke pantai.Kemudian tampak Raja Aceh dengan diiringi beberapaorang pengawal turun dengan gagahnya dari sekoci itulalu dengan tenang berjalan menuju arena lapangan.

Tapi tak kelihatan timnya satu orangpun turut disana.Kemudian dia berjalan menghampiri tim juri. Sebelumnyaia memohon izin pada Raja Tumasik untuk dapatmenyampaikan sesuatu dihadapan semua pihak sertapara tetamu undangan dan penonton yang sedari tadisudah tak sabar ingin menyaksikan kelanjutanpertandingan. 

Mereka semua ingin tahu bagaimana hasilakhirnya nanti.Dengan membalas penghormatan raja Aceh lalu rajaTumasik memperkenankan sahabatnya raja Aceh untukmenyampaikan sesuatu yg ingin disampaikannya.Di pinggir lapangan tampak Simardan bersama timnyasudah bersiap siap untuk memulai pertandingan. 

Di pojoklapangan Simardan berdiri terpaku sambil menunggu rajaAceh menyampaikan suatu maklumat.Raja Aceh pun memulai penyampaiannya dengan terlebihdahulu menghaturkan permintaan maaf kepada RajaTumasik beserta rombongan juga kepada para juri danpara tetamu undangan serta para penonton yang berhadirbegitu pula pada Tim Simardan dan rombongannya ygsudah rela menunggu mereka.

Dengan berat hati ia menyatakan bahwa timnya tidakdapat melanjutkan pertandingan itu lagi karena dua orangdiantara tiga pemainnya mengalami cedera yg saat inisedang dalam perawatan mereka di kapal. Sesuai denganperaturan pertandingan sebelumnya yang disepakati bersama telah menentukan bahwa tidak ada penggantianpemain selama pertandingan. 

Oleh karena itu ia atasnama timnya menyatakan menyerah pada Tim Simardan.Maka pertandingan itu dimenangkan oleh tim Simardan.Maka tanpa menunggu keputusan dari pihak mana iatelah merestui Simardan menjadi pendamping hidup puteriraja Tumasik. 

Dia selaku Raja Aceh sejak saat itu sampaiseterusnya nanti berjanji senantiasa akan berada bersama mereka baik dikala suka maupun duka.Melalui kesempatan itu Raja Aceh secara tidak resmimenyatakan pada khalayak bahwa Simardan adalahbahagian dari keluarga Kerajaan Samudera Pasai yg nantinya akan diberi gelar kebangsawanan sebagai suatugelar kehormatan dari keluarganya dan dilingkunganbangsawan negerinya.

Spontan membahana lah sorak sorai dan tepuk tanganpara penonton yang hadir disitu riuh rendah suaranya. Mereka semua mengucapkan selamat pada Simardanserta paduka Raja Tumasik.Simardan lalu menghampiri raja Aceh yang sudah berdiriberdampingan dengan raja Tumasik yg tadi mendekatinya.



Simardan lalu membungkukkan badannya sebagai tandapenghormatan kemudian menyalami kedua raja satupersatu. Simardan lalu dipeluk mereka bergantian tandatelah mendapat restu dari mereka berdua.

Kemudian Raja Aceh pon memberikan ucapan selamatkepada raja Tumasik. Di kesempatan itu ia mengundangsang raja Tumasik sahabatnya sekaligus calon besannyadengan bersama sang Puteri untuk kiranya berkenanhadir malam nanti dalam acara jamuan makan malambersama di kapalnya. (Bersambung)

Share:
Komentar

Berita Terkini