Oleh : Harunsyah Arsyad
Sebelum rombongan berangkat, Simardan menunjuk sahabatnya sebagai pimpinan utusan. Ia berpesan agar segala maksud dan permintaannya disampaikan kepada sang paman dengan cara yang baik, santun dan penuh penghormatan.
Simardan berharap sang paman yang menjadi raja di Bandar Pulo dapat menggunakan kewenangannya untuk ikut mengawasi, menjaga serta melindungi keamanan dan kerukunan masyarakat Kampung Tanjung.
Kampung itu kini semakin ramai. Penduduknya datang dari berbagai suku dan negeri asal. Keramaian tersebut tentu membawa kemajuan, tetapi sekaligus menyimpan potensi persoalan apabila tidak dijaga dengan baik.
Simardan meminta sang paman mewaspadai orang-orang yang memiliki niat tidak baik, terutama mereka yang mungkin ingin menguasai bandar di ujung tanjung. Tempat itu merupakan titik pertemuan antara penduduk setempat dengan para pendatang, baik untuk berdagang maupun berbagai keperluan lainnya.
Di ujung tanjung tersebut terdapat pasar dan bagan tempat para nelayan menambatkan perahunya. Karena itulah kawasan tersebut menjadi urat nadi kehidupan Kampung Tanjung.
Simardan juga menyampaikan harapannya agar istana kerajaan sang paman di Bandar Pulo suatu hari dapat dipindahkan ke Kampung Tanjung.
Menurutnya, perpindahan pusat kerajaan akan memudahkan sang paman mengendalikan wilayah Aek Doras sekaligus memperluas hubungan dengan negeri-negeri lain dalam upaya memajukan kerajaan dan kesejahteraan rakyatnya.
Terlebih lagi, Selat Malaka kini telah aman dari ancaman perompakan setelah hancurnya komplotan lanun dan para anteknya. Kondisi itu membuat semakin banyak kapal saudagar dari berbagai negeri memanfaatkan jalur pelayaran tersebut.
Selat Malaka bagaikan kanal alami yang menghubungkan Laut Tiongkok, yang kini dikenal sebagai Laut China Selatan, dengan Samudera Hindia.
Kapal-kapal yang hendak berlayar dari kedua kawasan tersebut tidak perlu mengitari Pulau Andalas melalui pantai Barat. Dengan melintasi Selat Malaka, perjalanan dapat dipangkas sehingga menghemat jarak, waktu dan biaya.
Pulo Raja Tetap dalam Perlindungan
Untuk kawasan di seberang Bandar Pulo yang biasa digunakan sang raja sebagai tempat beristirahat dari kesibukan kerajaan, Simardan menyerahkannya kepada keturunan sang paman. Dalam kisah ini, kawasan tersebut kelak dikenal sebagai Pulo Raja.
Simardan berharap kawasan itu tetap berada dalam perlindungan dan pengawasan kerajaan Bandar Pulo. Namun, apabila sang paman belum bersedia memindahkan istananya dari Bandar Pulo, Simardan mempunyai pilihan lain.
Ia berharap sang paman segera membentuk sebuah kerajaan baru di Kampung Tanjung dengan menobatkan salah seorang keturunannya menjadi raja kecil di sana. Raja kecil tersebut nantinya menjadi perpanjangan tangan kerajaan Bandar Pulo dan tetap berada di bawah kendali sang paman.
Agar sahabatnya memiliki bahan yang cukup untuk menjelaskan maksud tersebut, Simardan kemudian menceritakan seluruh kisah keluarganya yang ia ketahui dari sang ibu sejak masih kecil.
Ia mengisahkan perjalanan keluarganya secara panjang lebar, mulai dari asal-usul ayahnya, kehidupan mereka di hulu Aek Doras, perpindahan keluarganya hingga kisah masa kecil bersama sang ibu.
Semua itu disampaikan agar sahabatnya dapat menjelaskan hubungan mereka dengan sang raja secara meyakinkan. Pada akhirnya Simardan menitipkan salam kepada sang paman. Ia meminta maaf karena tidak dapat datang sendiri.
Bukan karena tidak menghormati sang paman, tetapi karena saat itu ia memiliki tugas besar yang belum dapat ditinggalkan. Tugas tersebut berkaitan dengan kepentingan banyak orang, terutama menjaga keamanan jalur pelayaran Selat Malaka.
Kini tiba waktunya rombongan utusan Simardan berangkat. Mereka dibekali perbekalan yang cukup untuk perjalanan pergi dan pulang. Dari negeri Kijang di Pulau Bintan, rombongan kemudian bertolak menggunakan sebuah kapal layar berukuran sedang dan berlayar menuju selatan mengarungi Selat Malaka.
Tumasik Bersiap Menyambut Para Raja
Sementara itu, suasana berbeda terlihat di Kerajaan Tumasik. Kesibukan tampak di berbagai penjuru negeri. Persiapan kenduri besar kerajaan terus dikerjakan. Berbagai bingkisan dan cendera mata untuk para tamu undangan telah disiapkan dan disimpan dengan rapi.
Aula agung istana yang akan digunakan sebagai tempat pertemuan para raja dan tamu kehormatan ditata sedemikian rupa hingga tampak megah. Lampu-lampu kristal dengan berbagai bentuk dan ukuran dipasang di sejumlah tempat, mulai dari jalan-jalan hingga lorong-lorong istana.
Persiapan jamuan juga tidak kalah sibuk.
Berbagai hewan yang akan disembelih untuk hidangan para tamu telah dikumpulkan di sebuah lapangan luas yang dipenuhi rumput sebagai pakan. Bahan-bahan makanan dan berbagai rempah untuk keperluan dapur kerajaan juga telah ditimbun rapi di sebuah gudang besar.
Sementara itu, para tamu undangan dari negeri-negeri jauh mulai meninggalkan negeri masing-masing. Mereka mengatur perjalanan agar dapat tiba di Tumasik sebelum pesta besar kerajaan dibuka. Bagi para tamu yang datang dari daratan Eropa, Jazirah Arab, Tiongkok, India dan kawasan lainnya, perjalanan menuju Tumasik membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan beberapa purnama.
Raja Samudera Pasai Menuju Bintan
Di tengah persiapan tersebut, Raja Samudera Pasai juga merencanakan kehadirannya dalam pertemuan besar di Tumasik. Namun sebelum menuju Tumasik, sang raja mempunyai misi lain. Ia berencana singgah terlebih dahulu di Pulau Bintan untuk menemui Simardan.
Raja Samudera Pasai ingin mengundang Simardan naik ke kapal kerajaannya yang akan berlabuh tidak jauh dari Pulau Bintan.
Untuk keperluan, terlebih dahulu dikirim seorang utusan untuk menyampaikan kabar kedatangan sekaligus undangan kepada Simardan. Singkat cerita, beberapa waktu kemudian tampaklah sebuah kapal besar milik Raja Samudera Pasai berlabuh di perairan depan Pulau Bintan.
Simardan memenuhi undangan tersebut. Ia naik ke kapal kerajaan yang besar, mewah dan megah itu. Di atas kapal, Simardan dijamu secara istimewa oleh Raja Samudera Pasai. Pertemuan keduanya berlangsung dalam suasana penuh keakraban.
Banyak hal mereka bicarakan.
Simardan menceritakan keadaan negeri-negeri di sepanjang Aek Doras, terutama Kampung Tanjung, tanah tempat ia dibesarkan. Ia juga menceritakan keadaan masyarakat, perkembangan perdagangan dan berbagai persoalan yang terjadi di kawasan tersebut.
Pembicaraan kemudian beralih kepada situasi Selat Malaka, terutama menyangkut keamanan dan keselamatan para pelayar yang melintasi jalur perdagangan tersebut.
Raja Samudera Pasai Menawarkan Kewenangan kepada Simardan
Simardan merasa senang ketika Raja Samudera Pasai menyatakan kesediaannya memberikan dukungan terhadap upaya pengamanan kawasan Selat Malaka. Untuk mendukung tugas tersebut, sang raja bersedia memberikan kewenangan terbatas kepada Simardan untuk menarik sebagian upeti dari kerajaan-kerajaan kecil di kawasan yang memanfaatkan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan.
Kerajaan-kerajaan kecil tersebut selama ini berada dalam pengaruh Samudera Pasai. Pembicaraan berlangsung panjang. Keduanya saling bertukar pengalaman dan pandangan tentang perdagangan, keamanan serta perkembangan negeri-negeri di sekitar Selat Malaka.
Hingga akhirnya pembicaraan mulai menyentuh persoalan pribadi Simardan. Raja Samudera Pasai rupanya ingin mengetahui lebih jauh tentang sosok pemuda yang namanya semakin dikenal di kawasan tersebut.
Diam-diam, sang raja memiliki keinginan menjadikan Simardan bagian dari keluarganya. Namun Raja Samudera Pasai sendiri tidak memiliki putri. Karena itu, ia berencana menjodohkan Simardan dengan salah seorang putri dari saudara kandungnya.
Tidak hanya menawarkan hubungan keluarga, sang raja bahkan memiliki rencana lebih besar. Apabila Simardan bersedia menerima perjodohan tersebut, Raja Samudera Pasai berjanji akan memberikan kedudukan kepadanya sebagai sultan pada sebuah kerajaan baru yang kelak dibangun di tanah yang sangat dicintainya.
Tanah itu adalah kawasan Aek Doras yang selama ini diceritakan Simardan. Mendengar tawaran tersebut, Simardan tidak langsung memberikan jawaban. Dengan halus ia meminta waktu untuk mempertimbangkannya.
Simardan ingin memastikan bahwa jika kelak ia menerima kepercayaan tersebut, hal itu bukan semata-mata karena hubungan perkawinan dengan keluarga kerajaan. Ia meminta agar perhatian dan perlindungan terhadap Kampung Tanjung tetap diberikan.
Begitu pula dengan Kerajaan Bandar Pulo yang berada di hulu Aek Doras, yang rajanya tidak lain adalah pamannya sendiri. Simardan ingin tanah kelahirannya tetap mendapat tempat dalam rencana besar tersebut.
Raja Samudera Pasai memahami permintaan itu. Sang raja kemudian meminta Simardan agar tidak terlalu lama mengambil keputusan. Sebab, di hadapan mereka telah menunggu perjalanan menuju Tumasik, tempat para raja dari berbagai negeri akan berkumpul.
Sementara di tempat lain, utusan Simardan juga sedang menuju Bandar Pulo membawa pesan penting kepada sang paman. Tanpa disadari Simardan, dua kekuatan besar kini mulai membuka jalan bagi masa depannya.
Satu datang dari Tumasik dengan rencana perjodohan putri kerajaan. Yang lainnya datang dari Samudera Pasai dengan tawaran kekuasaan dan sebuah kerajaan baru. Di tengah kedua pilihan itu, hati Simardan justru masih tertambat pada satu hal: tanah tempat ia dibesarkan dan ibunya yang belum diketahui nasibnya.
(Bersambung)
