Gambar : Ilustrasi Sungai Duo yang melalui Selat Lancang dan Pulo Simardan bermuara ke Sungai Asahan di Tanjungbalai_
Oleh: Harunsyah Arsyad
Kalau ditanya orang-orang lama di Tanjungbalai, mereka pasti masih ingat. Dulu di kawasan "Sunge Duo" disini bertambat perahu-perahu nelayan pengambil kerang ke Selat Malaka di Kuala Bagian Asahan, anak-anak bisa berenang, ibu-ibu mencuci sambil bergosip, dan di pinggirnya tumbuh rimbun pohon-pohon nipah. Kini? Yang tersisa hanya nama dan saluran beton.
Sunge Duo. Nama itu berarti "Dua Sungai". Kawasan di Kecamatan Datuk Bandar Timur ini dulu memang benar-benar punya dua sungai kecil. Satu, Sungai Semenanjung, mengalir ke Sungai Silau. Satu lagi, Sungai Selat Lancang, bermuara ke Sungai Asahan. Tapi kota terus berubah.
Dari Tempat Mandi Jadi Saluran Banjir
"Zaman dulu itu sungai tempat kita mandi, main, bahkan MCK. Perahu-perahu nelayan pun lewat situ," kenangku.
Sekarang pemandangan itu tinggal kenangan. Jalan Sudirman yang dulu tepinya dipenuhi nipah, kini sudah menjadi jalan utama masuk ke inti kota. Terminal yang dulu di Jalan Pahlawan di ujung Jalan S. Parman Tanjungbalai sudah pindah ke KM 7 di Sijambi Tanjungbalai.
Pemerintah lalu membangun "tali air" dari Sungai Bandar Jopang Sijambi. Fungsinya ganda: irigasi sekaligus kanalisasi untuk mengantisipasi banjir. Kanal ini jadi penghubung darurat. Kalau Sungai Silau meluap, airnya dibuang ke Asahan. Kalau Asahan yang banjir, dibalik. Kedengarannya solusi. Tapi ada jebakannya.
"Celakanya, bila kedua sungai besar itu sama-sama banjir. Maka terendamlah Sunge Duo dan kawasan sekitarnya," ujar Harunsyah.
Fenomena yang Tak Hanya Terjadi di Tanjungbalai
Kasus Sunge Duo bukan satu-satunya. Di banyak kota Nusantara, sungai-sungai kecil "dikorbankan" demi pembangunan. Alih fungsi lahan, normalisasi jadi saluran beton, dan tekanan penduduk membuat sungai kehilangan wujud asalnya.
Padahal dulu sungai kecil punya 4 fungsi sekaligus: sumber air, tempat sosial, transportasi, dan penahan banjir alami. Sekarang tinggal 1 fungsi: membuang air secepatnya.
Antara Pembangunan dan Jati Diri
"Kota tetaplah sebagai kota, ia akan berubah sejalan dengan perkembangan penduduk dengan segenap keperluannya".
Tapi ia mengingatkan satu hal penting: _"Untuk itu kita dituntut untuk menyelaraskan tuntutan pembangunan dengan etika leluhur sebagai jati diri."_
Artinya, membangun boleh. Tapi jangan sampai kita lupa dari mana asal kota ini. Jangan sampai generasi selanjutnya hanya kenal Sunge Duo dari cerita, bukan dari airnya.
Hingga kini, belum ada data resmi berapa banyak sungai kecil di Tanjungbalai yang sudah hilang atau tertutup. Padahal mendata dan melindungi sisa-sisanya bisa jadi langkah awal agar banjir tidak terus berulang, dan memori kota tidak ikut tergerus beton.
Fakta Singkat Sunge Duo:
Lokasi: Kel. Bunga Tanjung, Kec. Datuk Bandar Timur
Batas: Selatan Teluk Dalam-Asahan, Barat Sungai Semenanjung, Utara Jl. Sudirman, Timur Kel. Gading
2 Sungai: Sungai Semenanjung → Silau. Sungai Dua → Asahan
Infrastruktur Baru: Kanal Bandar Jopang Sijambi, KM 7
Bagaimana menurutmu?
Apakah di kotamu juga ada Sungai-sungai kecil yang sudah hilang?
