-->

Reli Dakkar Jalur Bubur Ayam Labura : Cerita Komedi Perjuangan Menuju Kualuh Hilir - Tanjung Leidong

Jalur darat menuju Kualuh Hilir, khususnya rute ke Tanjung Leidong, memang sudah punya reputasi legendaris soal urusan lumpur. Kalau musim hujan tiba,

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                        Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Jalur darat menuju Kualuh Hilir, khususnya rute ke Tanjung Leidong, memang sudah punya reputasi legendaris soal urusan lumpur. Kalau musim hujan tiba, jalanan di sini berubah wujud jadi "bubur ayam raksasa" yang siap menguji iman, kesabaran, dan ketahanan mental siapa saja yang nekat lewat.

Pagi itu si Encet berniat gagah menjemput pacarnya di Tanjung Leidong. Kendaraannya sepeda motor matic kesayangan yang masih kinclong. Sebelum berangkat dia sudah berdandan maksimal: kemeja flanel disetrika licin, rambut klimis pakai pomade wangi jeruk, dan sepatu putih bersih. Di kepalanya dia merasa seperti pangeran yang mau menjemput putri kerajaan.

Tapi baru lewat gerbang perbatasan kecamatan, senyum Encet langsung luntur. Di depannya terbentang "Jalur Neraka Lumpur".

Di sana suasananya mirip pasar malam, tapi versi penuh penderitaan. Ada truk sawit yang rodanya spin di tempat sambil memuntahkan air mancur lumpur gratis. Ada ibu-ibu yang motornya mogok sambil ngomel pakai bahasa daerah. Dan ada sekelompok pemuda setempat yang mendadak alih profesi jadi "Tim SAR Motor" alias tukang dorong bayaran.

Encet menarik napas panjang. "Demi cinta, apa pun kulakukan!" gumamnya mantap. Lalu dia tancap gas menerobos kubangan.

“Breeemmm... Sluuurrrpp!” Baru jalan lima meter, motor matic-nya langsung amblas. Bannya berputar kencang tapi motornya tidak maju satu senti pun. Knalpotnya malah bunyi gelembung-gelembung seperti akuarium bocor.

Dari belakang muncul Wak Koling naik motor bebek Supra tahun 2002 tanpa kap body. Penampilannya jauh lebih siap tempur: celana pendek, bertelanjang dada, dan wajahnya sudah belang-belang lumpur seperti tentara mau perang. Dia ini pembalap lumpur profesional jalur Kualuh Hilir.

"Woi Cet! Turun kau! Jangan kau paksa matic-mu itu, biso rontok mosinnyo! Sini ikut taktikku!" teriak Wak Koling.

Wak Koling langsung mempraktikkan gaya berkendara khas Kualuh Hilir yang disebut "Gaya Mendayung". Kedua kakinya diturunkan ke lumpur jadi dayung darurat, sementara tangannya menggas pelan-pelan. Motor bebeknya meliuk-liuk lincah seperti belut sawah.

Encet yang sayang sama kemeja flanelnya terpaksa turun dan mendorong. Tapi lumpurnya terlalu pekat. Sepatunya lepas dan tertinggal di dasar kubangan sedalam 30 cm, lalu diambilnya dan bersama sebelah lagi digantungkan di stang. Akhirnya Encet nyeker juga.

Tiba-tiba di depan mereka ada truk Fuso muat sawit yang mencoba menggas paksa karena ban depannya masuk ke lubang sedalam hampir satu meter. “BROOOMMM!!!” Roda raksasa itu spin kencang di tempat.

Seketika itu juga cipratan lumpur tebal terbang ke udara setinggi tiga meter dan menghantam Encet seperti ombak tsunami mini.

“PLAKKK!!!”

Dalam satu detik penampilan pangeran Encet berubah total. Kemeja flanelnya berubah jadi cokelat pekat. Rambut klimisnya penuh tanah liat. Wajahnya ketutup lumpur sampai yang kelihatan cuma bola matanya yang berkedip-kedip. Dia berdiri mematung seperti patung candi yang baru digali dari perut bumi.

Wak Koling yang selamat karena sembunyi di balik pohon kuini langsung menepuk jidat. "Bah Cet... Kutengok kau sekarang ni udah tak cocok lagi manjoput cewek kau. Lobih topat kau ikut audisi jadi piguran pilem horor hantu lumpur!"

Karena sudah kepalang basah dan kotor, Encet malah dapat kekuatan gaib. Rasa takutnya hilang. Dia langsung nyemplung, bantu Wak Koling dorong motor, dan ikut tertawa bersama warga lain yang sama-sama senasib di kubangan itu. Di jalan ini penderitaan massal memang selalu berubah jadi kebersamaan penuh tawa.

Tiga jam kemudian Encet akhirnya sampai di ujung jalan berbeton dekat rumah pacarnya. Dia berhenti di depan pos ronda dan cuci muka pakai air parit yang agak bening.

Pas pacarnya keluar dan lihat Encet berdiri dengan baju lumpur kering yang sudah retak-retak, si pacar langsung teriak panik. "Omakkk... Ado setan rawo mau masuk rumah kito!"

Encet cuma bisa senyum pasrah sambil nunjukin giginya yang masih putih bersih di tengah wajah yang cokelat semua. "Ini abang Dek... Abang baru saja lulus ujian SIM jalur darat Kualuh Hilir!" 

Di Jalur Bubur Ayam ini, motor boleh mogok, sandal boleh hilang, tapi semangat dan tawa warga Labura tidak pernah tenggelam oleh lumpur.

Share:
Komentar

Berita Terkini