Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad
Aroma Kopi dan Bualan-Bualan Setinggi Langit Orang Labusel di Perbatasan Kalau jembatan beton sudah berhasil memotong panjangnya antrean ponton di *Sungai Barumun dan *Sungai Rokan, maka ada satu hal yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa dipotong oleh kemajuan zaman: yaitu kebiasaan membual di kedai kopi.
Bagi masyarakat Labusel dari Tepian Barumun sampai ke Rokan Hilir sana, kedai kopi itu bukan cuma tempat ngisi perut. Kedai kopi adalah "gedung parlemen tidak resmi" tempat adu gengsi, adu logika, dan tempat paling sah di dunia di mana seekor ikan sepat bisa berubah ukuran menjadi sebesar sampan yang ditarik pakai dayung.
Membual bagi orang Labusel itu bukan berbohong untuk menipu. Membual itu seni bersastra lisan. Semakin tinggi langit bualannya, maka semakin tinggi pula harga diri dan tepuk tangan yang dia dapat.
Di sebuah kedai kopi berdinding papan di tepian *Sungai Barumun di Kotapinang*, duduklah tiga orang pemancing kawakan yang sedang tertahan hujan. Ada *Wak Jayak*, mandor kebun. Ada *Cek Leman*, nelayan sungai asli keturunan hilir Bilah. Dan ada *Lae Sutan*, pemilik kedai yang sudah merantau kemana-mana.
*REZEKI NOMPLOK DI SUNGAI BARUMUN*
Perbincangan dibuka oleh Cek Leman sambil menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepul panas. Matanya menerawang jauh seakan kembali ke masa ia masih menjaring di Sungai Barumun.
"Kalian tahu," buka Cek Leman sambil melebarkan kedua tangannya selebar-lebarnya, "dulu aku menjaring di hilir Barumun dokat Tanjungmedan. Pas kutarik jaringku, boratnya bukan main. Kupikir yang yasangkut tu buaya. Rupanya pas kuangkat? Dapatku ikan baung raksasa! Pas kutimbang di pangkalan, jarum timbangannya mentok di angka seratus dua puluh kilo!"
Wak Jayak mendengus pelan sambil memutar gelas kopinya. "Ah, kecil itu Leman. Baung seratus kilo di Sunge Barumun tu masih kategori ikan teri."
Cek Leman langsung tersinggung. "Mana ada baung seratus kilo dibilang teri Wak! Cobalah uak buktikan kalau uak lebih hebat!"
Wak Jayak membetulkan duduknya, lalu wajahnya mendadak serius seperti waktu dia masih jadi mandor kebun. "Babarapa taun lalu pas aku manyaborang pakai ponton di Sungai Rokan, mesin ponton tu mati pas di tengah sunge. Arus doras, ponton mau karam. Panumpang udah menjorit-jorit histeris, termasuk sopir bus ALS tu yang biasanya paling berani."
"Lalu apa hubungannya sama ikan Wak?" tanya Lae Sutan dari balik meja kasir sambil lap-lap gelas.
"Sabar Tan! Pas semua orang sudah pasrah mau mati, tiba-tiba dari dasar sungai muncul seekor ikan gabus atau orang bilang haruan. Besarnya tak pala sabarapa, tapi kapalanya sebosar kabin truk Fuso! Nah ikan tu dengan sukarela baronang di bawah ponton, manggendong kami samua sampek salamat ke saborang. Pas udah sampek di darat, ikan tu sompat pulak mangodipkan mata sama ku, macam mambilang: 'Aman Mandor!'"
Cek Leman ternganga. Lalu dia mengumpat pelan dalam logat Labusel karena sadar bualannya sudah kalah telak.
*SUTAN NASUTION TIDAK MAU KALAH*
Melihat Cek Leman mati kutu, Sutan Nasution keluar dari balik meja sambil membawa sepiring pisang goreng panas. Sebagai orang Mandailing yang sukses buka usaha di tanah Melayu, dia punya reputasi logika yang wajib dijaga.
"Ah kalau cerita ikan-ikan itu sudah biasa," kata Sutan Nasution sambil tersenyum tipis. "Ini aku cerita tentang kobun karet opungku dulu di Silangkitang, zaman tanah Labuhanbatu masih subur-suburnya."
"Kanapa rupanya kobun gotah atokmu tu Sutan? Babuah durian iyo?" sindir Cek Leman.
"Bukan. Kobun opungku itu luasnya tak katulungan. Saking luasnya, kalo kita lopas anak kucing di sabolah utara kobun, pas itu kucing bajalan sampek ke sebelah selatan, dia udah barubah jadi arimo tua yang giginya udah ompong karena saking lamanya bajalan menombus kobun tu!"
Wak Jayak tertawa terbahak-bahak sampai tersedak pisang goreng. "Bah! Itu kobun gotah ato mosin waktu Sutan?"
"Bolum salose Wak!" potong Sutan Nasution penuh semangat. "Saking pokat dan banyaknya gotah karet di kebun kami masa tu, nyamuk-nyamuk di sana kalau mangisap batang karet, besok torbangnya polan sakali. Kanapa? Karona sayap orang tu lengket kona gotah! Jadi kalau kami mau mambunuh nyamuk, tak porlu ditopuk. Tinggal panggil saja pakek paluit, nanti orang tu baris sandiri di atas meja dengan tortib."
*PUNCAK BUALAN: LENTERA YANG TETAP MENYALA*
Cek Leman yang merasa harga dirinya sebagai orang pesisir jatuh karena bualan baung seratus kilonya kalah telak, langsung memutar otak. Dia harus membalas dengan cerita yang tidak masuk akal tapi tidak bisa dibantah.
"Kalian badua boleh hebat," kata Cek Leman sambil mengetuk meja kayu. "Tapi atokku dulu punya carita yang tacatat di catatan kaluarga kami. Tahun 1940 kakekku menjaring malam hari di muara Sunge Bilah. Karona golap gulita, dia pakek lampu lentera minyak tanah."
"Lalu?" tanya Wak Jayak penasaran.
"Lentera tu lopas dari ikatan sampannya, lalu jatuh tanggolam ka dasar sunge yang dalamnya moh tiga puluh meter. Atokku sodih, tapi ya udah, diikhlaskan saja."
"Torus lucunya di mana Leman?" Lae Sutan mulai mengernyit.
"Taun lalu," Cik Leman tersenyum penuh kemenangan, "anakku manjaring di titik yang porsis sama. Pas jaring ditarik ke atas, rupanya lampu lentera atokku yang tenggelam lapan puluh onam tahun lalu tu ikut tasangkut!"
Wak Jayak tersenyum sinis. "Ah kalo cuma dapat lentera tua karatan di sungai, apa hebatnya?"
Kepala Cik Leman maju ke depan, menatap mata Wak Jayak dan Lae Sutan lekat-lekat. "Masalahnya Wak... Sutan... pas lentera tu diangkat ke atas sampan, apinya masih manyala torang bandorang!"
Suasana kedai kopi mendadak hening. Wak Jayak membelalakkan mata, sementara Lae Sutan memegang jidatnya. Bualan Cek Leman kali ini sudah melanggar semua hukum fisika sedunia.
Wak Jayak menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk bahu Cek Leman sambil berbisik, "Leman... bagini sajalah. Domi pasahabatan kita di Labusel ini, dan biar buku sajarah kita ini enak dibaca orang..."
"Kenapa Wak?"
"Kau matikanlah sadikit api di lenteramu itu. Biar kukurangi satongah ukuran kepala ikan haruan sebesar kabin truk Fuso-ku tadi. Cammana? Pas kan?"
Kedai kopi itu pun pecah oleh tawa ketiganya. Di luar, hujan di Kotapinang mulai reda. Namun bualan orang Labusel akan terus mengalir, seolah tak pernah kehabisan bahan bakar sepanjang jalur Lintas Timur.