MEDAN — Meningkatnya kasus malaria di Sumatera Utara pada awal tahun 2026 memunculkan sorotan terhadap kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut. Meski berbagai kebijakan strategis telah disiapkan, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya celah dalam penanganan.
Berdasarkan data Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 536 kasus positif malaria di Sumatera Utara. Dari jumlah tersebut, satu kasus kematian dilaporkan terjadi di Kabupaten Dairi. Di wilayah itu sendiri, ditemukan 46 kasus positif malaria dalam periode yang sama, dengan satu di antaranya berujung kematian.
Sekretaris Dinkes Sumut, Hamid Rizal, mengakui bahwa malaria masih menjadi persoalan serius, khususnya di daerah berisiko tinggi seperti Kabupaten Dairi.
“Memang kasus malaria ini masih menjadi tantangan bagi kami, terutama di wilayah tertentu. Kami terus berupaya memperkuat deteksi dini dan memastikan penanganan berjalan sesuai standar,” ujar Hamid Rizal saat memberikan keterangan, Jumat (24/4/2026).
Target Eliminasi 2030 Dipertanyakan
Meningkatnya jumlah kasus memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas langkah-langkah yang telah dijalankan selama ini. Pemerintah pusat sendiri telah menetapkan roadmap eliminasi malaria sejak 2014 dengan target Indonesia bebas malaria pada tahun 2030.
Program tersebut menargetkan setiap kabupaten/kota secara bertahap memperoleh sertifikat eliminasi malaria melalui penguatan sistem kesehatan di tingkat daerah.
Secara kebijakan, berbagai langkah teknis telah disiapkan, mulai dari penguatan diagnostik, pengobatan sesuai standar, hingga surveilans penyakit yang disebut sebagai langkah utama. Distribusi kelambu serta promosi kesehatan juga terus dilakukan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan implementasi kebijakan tersebut belum sepenuhnya optimal. Penemuan kasus yang masih cukup tinggi serta adanya korban jiwa mengindikasikan kemungkinan lemahnya deteksi dini dan respons di tingkat pelayanan dasar.
Surveilans Jadi Kunci, Tapi Evaluasi Dipertanyakan
Hamid Rizal menegaskan bahwa pihaknya terus mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan peran aktif dalam pengendalian malaria.
“Surveilans menjadi kunci. Kami mendorong Dinas Kesehatan kabupaten/kota, Puskesmas hingga kader kesehatan untuk aktif menemukan kasus, melakukan penyelidikan epidemiologi, dan meningkatkan kualitas data,” katanya.
Meski demikian, pernyataan tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan utama di lapangan, terutama terkait sejauh mana pengawasan dan evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan program di daerah.
Untuk wilayah berisiko tinggi seperti Dairi, Dinkes Sumut mengklaim telah melakukan sejumlah langkah penguatan, termasuk memastikan ketersediaan obat hingga ke wilayah terpencil serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan.
“Kami memastikan obat tersedia dan tenaga kesehatan mendapatkan pelatihan khusus agar penanganan lebih optimal,” tambahnya.
Komitmen Anggaran Daerah Jadi Sorotan
Selain intervensi teknis, pemerintah daerah juga didorong untuk memasukkan program penanggulangan malaria ke dalam dokumen perencanaan pembangunan seperti RPJMD dan rencana kerja tahunan.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat komitmen serta dukungan anggaran dalam upaya pengendalian malaria.
Namun, tingginya kasus yang masih ditemukan menunjukkan bahwa integrasi program serta penganggaran di sejumlah daerah kemungkinan belum berjalan optimal.
Sejumlah pengamat kesehatan menilai, tanpa pengawasan ketat serta evaluasi yang transparan, target eliminasi malaria pada 2030 berpotensi sulit tercapai.
Ujian Nyata bagi Dinkes Sumut
Dengan kondisi saat ini, masyarakat diimbau untuk tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga aktif melakukan pencegahan secara mandiri, seperti menggunakan kelambu, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala malaria.
Situasi ini menjadi ujian serius bagi Dinkes Sumut untuk membuktikan bahwa kebijakan yang telah dirancang tidak sekadar menjadi dokumen, melainkan benar-benar memberikan dampak nyata di lapangan.
