MEDAN – Jika masih ada yang menganggap keterbatasan menjadi penghalang untuk berkarya, Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 memberikan jawaban yang berbeda. Di tempat ini, pengunjung tidak diajak untuk merasa iba, melainkan dibuat kagum oleh karya-karya luar biasa hasil tangan siswa sekolah luar biasa (SLB).
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah songket khas Batu Bara yang ditenun langsung oleh siswa-siswi tuna rungu dari SLB Negeri Batu Bara. Motif yang indah, tenunan yang rapi, serta kualitas kain yang dihasilkan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya bernilai tinggi.
Mewakili Kepala Bidang SLB Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Edy Junianto mengatakan empat siswa terlibat dalam proses pembuatan songket tersebut.
"Karya yang dipamerkan bukan sekadar kain tenun, tetapi hasil dari kesabaran, ketelitian, dan kerja keras para siswa," ujarnya.
Songket tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp550 ribu per lembar. Selama penyelenggaraan PRSU, empat lembar songket telah terjual kepada pengunjung.
Kepala SLB Negeri Batu Bara, Siti Maryam, menjelaskan pihaknya menyediakan beberapa pilihan produk. Songket berbentuk kain dijual sekitar Rp450 ribu, sedangkan paket lengkap dengan selendang dipasarkan seharga Rp550 ribu.
"Kalau dihitung proses pembuatannya, yang paling bernilai sebenarnya adalah ketelatenan anak-anak dalam menenun hingga menghasilkan karya seperti ini," katanya.
Tidak hanya songket, Hall Dinas Pendidikan Sumut juga menampilkan berbagai hasil karya kreatif lainnya. Di antaranya keranjang dari kertas daur ulang seharga Rp50 ribu, tandok hasil anyaman mulai Rp10 ribu, hingga berbagai produk jahitan yang dibuat siswa tuna rungu.
Kemampuan menjahit menjadi salah satu keterampilan yang terus dikembangkan. Beberapa siswa seperti Farel dan Putri berhasil menghasilkan berbagai produk jahitan yang menunjukkan bahwa keterampilan dapat berkembang melalui latihan dan kesempatan.
Sementara itu, siswa tuna grahita juga menghasilkan keset yang dipasarkan dengan harga Rp17 ribu. Adapun siswa tuna daksa terus mengembangkan berbagai keterampilan sesuai potensi masing-masing. Sebagian di antaranya bahkan aktif mengikuti pembinaan olahraga melalui National Paralympic Committee (NPC).
Saat ini, SLB Negeri Batu Bara membina sekitar 200 siswa dengan berbagai kebutuhan belajar, mulai dari tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, hingga anak-anak dengan autisme. Pada tahun ajaran 2026, sekolah tersebut menerima 32 siswa baru yang didominasi peserta didik tuna grahita, tuna rungu, dan autis.
Menurut Siti Maryam, sekolah luar biasa bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sesuai potensi yang dimiliki.
"Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, sekolah menjadi tempat mereka belajar mandiri, berkomunikasi, berinteraksi dengan teman sebaya, dan menemukan kepercayaan diri melalui karya yang mereka hasilkan," ujarnya.
Keberadaan Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di bawah pembinaan Kepala Dinas Pendidikan Sumut Alexander Sinulingga, S.STP., M.Si., tidak sekadar menjadi ruang pamer produk kerajinan. Hall ini menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas fisik maupun kondisi seseorang.
Setiap karya yang dipamerkan menjadi bukti bahwa kesempatan, pembinaan, dan dukungan mampu melahirkan prestasi yang membanggakan.
Hall Disdik Sumut di PRSU ke-50 pun menghadirkan pelajaran sederhana namun bermakna: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru melalui karya-karya tersebut, para siswa menunjukkan bahwa yang sering kali kurang bukan kemampuan mereka, melainkan penghargaan kita terhadap hasil kerja dan potensi yang mereka miliki.
