Oleh : Harunsyah Arsyad
"Haa, Wak Atan Sajoja! Udah sampek kita di Labuhan Bilek. Camana ja? Mau kami naekkan kagheta ko ka atas? Kali ka mananjak na, Wak. Silap sikit kagheta mu mundogh, torjun payung ia sama mu ka lauten!" teriak buruh tangkahan Labuhan Bilik yang sudah mendapat operan cerita lewat hp dari kawan mereka di Tanjung Sarang Elang.
Wak Atan Sajoja yang masih sakit pinggang akibat insiden menabrak karung beras tadi, langsung menegakkan punggungnya. Gengsinya yang setinggi menara masjid tak boleh runtuh di kampungnya Labuhan Bilik.
"Ehh, usah banyak cakap ko! Kagheta ku ka biaghpun joman, tanaganya macam lumba-lumba mangojagh mangsa. Indak poghlu ko soghong-soghong macam mandoghong lombu mau kurban!" sahut Wak Atan Sajoja sambil memijit engkol motornya. Creeek... breemmm... prek... prek... asap hitam mengepul dari knalpot berikat karetnya.
Penumpang lain yang ikut menyeberang hanya menggeleng-gelengkan kepala dari dalam boat. "Biaghkan sijolah ia, dinasihati pun koghasnya macam batu giling."
Wak Atan Sajoja bersiap di depan papan titian yang miring ke atas. Dia mengambil ancang-ancang dari ujung paling belakang boat. Matanya menatap tajam ke atas dermaga bak pembalap motor cross profesional.
"Bapogangan kamu samua! Ika ghaja jalanan mau lewat do!" seru Wak Atan Sajoja.
Dia menarik gas sedalam-dalamnya. Motor bebeknya menjerit melengking, asap hitam makin pekat. Wak Atan Sajoja melepas kopling spontan. Motor itu meloncat maju meniti papan kayu yang licin.
Baru sampai di tengah-tengah papan titian yang menanjak, roda belakang motornya mulai kehilangan keseimbangan karena sisa lumpur. Sreeettt... sreeettt... Ban belakang berputar di tempat (spinning) menciptakan efek air mancur lumpur hitam yang sukses menyembur tepat ke wajah cincu boat dan penumpang lain di belakangnya.
"Oii... Wak! Gas terus, Wak! Mangapa maen lumpogh ko!" teriak orang-orang sambil menutup muka.
"Indak bisa naek! Boghat kali pantat kagheta ka, iyoh!" jerit Wak Atan Sajoja panik.
Tenaga motornya habis. Alih-alih maju, motor itu mulai bergerak mundur secara perlahan. Mengingat remnya blong total, Wak Atan Sajoja tidak punya pilihan selain menahan beban motor dengan kedua kakinya yang kurus. Dia tertahan di tengah papan titian yang curam, gemetaran seperti anak kucing basah kuyup.
"Tolong... tolong do....kamu di boat ka, jangan sek manengok sijo! Mundugh ika, woi! Indak tahan ku layi!" ratap Wak Atan Sajoja, suaranya turun dua oktav, hilang sudah kegarangannya tadi.
Cincu boat, dengan wajah yang penuh bintik-bintik lumpur putih, berjalan santai mendekati papan titian. Dia melipat tangan di dada sambil tersenyum lebar.
"Tain katanya tanaganya macam lumba-lumba, Wak? Kok sakaghang macam undur-undur ja jalan mundur ia?" ejek buruh bongkar muat.
"Jangan banyak kombugh do mangapa! Lipas udah kughasa sondi lututku ka! Tolonglah, kutambah saghibu peghak layi!" tawar Wak Atan Sajoja sambil meringis menahan berat motor.
"Ah, mana maen saghibu peghak Wak. Gengsi pambalap Pane masak cuma saghibu?"
"Iyo lah! Lima ghibu! Copatlah ko naekkan, sabolum aku tacampak jadi umpan buaya Sungai Barumun ka!" jerit Wak Atan Sajoja akhirnya menyerah kalah pada keadaan.
Sambil tertawa terbahak-bahak, buruh Labuhan Bilik langsung melempar tali nilon, mengikat stang motor Wak Atan Sajoja, dan bersama-sama menariknya ke atas dermaga dalam sekali sentakan. Hup! Motor dan Wak Atan Sajoja akhirnya selamat mendarat di beton dermaga Labuhan Bilik.
Wak Atan Sajoja langsung terduduk di lantai dermaga, napasnya ngos-ngosan, wajahnya pucat pasi. Dia meraba kantongnya, mengambil uang lima ribu perak yang sudah agak lecek, lalu melemparkannya ke kaki buruh dermaga.
"Hah! Ambil ika! Upah ko managhek kagheta sang juara!" kata Wak Atan Sajoja, masih mencoba menyelamatkan sisa-sisa gengsinya.
Buruh dermaga mengambil uang itu sambil tersenyum puas. "Makasih na, Wak. Laen kali kalo manyaborang layi, taghifnya naek jadi sapuluh ghibu na. Taghif khusus oghang koghas kapala!"
Wak Atan Sajoja cuma bisa menjulurkan lidahnya sambil menuntun motornya menjauh, berjanji dalam hati besok-besok dia akan memperbaiki rem motornya dulu sebelum nekat menyeberang lagi.
