-->

Gambaran Kecil Masuknya Pendatang dari Utara ke Bumi Melayu Pesisir Timur Sumatera

Ada kisah tentang orang-orang dari tanah Toba yang datang ke Pesisir Timur Sumatera bukan dengan kendaraan, bukan pula membawa modal besar. Sebagian

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Foto : Ilustrasi pendatang pencari kerja di daerah pesisir

Kisah 3 Generasi Buka Tanah di Asahan, Labuhanbatu Raya sampai Rokan dan Kampar di Riau

Oleh: Harunsyah Arsyad

Ada kisah tentang orang-orang dari tanah Toba yang datang ke Pesisir Timur Sumatera bukan dengan kendaraan, bukan pula membawa modal besar. Sebagian datang hanya dengan pakaian di badan, tekad dan keberanian untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Mereka berjalan kaki berhari-hari menuju Kisaran. Sebagian lainnya memilih Tanjungbalai, bekerja sebagai buruh, ikut nelayan atau menjadi tenaga kasar di perkebunan dan jermal. Dari tanah yang ketika itu masih banyak hutan, mereka perlahan membangun kehidupan. Kisah itu kemudian berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari 5 hektare tanah yang dibeli seorang perantau pada sekitar 1930-an, berkembang menjadi puluhan bahkan ratusan hektare kebun dan sawah yang dikelola keluarga pada generasi cucunya.

Inilah gambaran kecil tentang bagaimana sebagian pendatang dari kawasan Utara Sumatera ikut membuka ruang ekonomi di wilayah Melayu Pesisir Timur, mulai dari Asahan, Tanjungbalai, Labuhanbatu Raya, hingga Rokan dan Kampar di Riau.

Generasi Pertama: Opung Datang dengan Jalan Kaki

Sekitar tahun 1930-an, seorang pemuda dari Toba memutuskan meninggalkan kampung halamannya.

Usianya masih remaja. Ia mendengar kabar bahwa wilayah Pesisir Timur Sumatera memiliki tanah yang subur, hutan yang masih luas dan hasil laut yang melimpah. Berbekal tekad mengubah nasib, ia berjalan kaki menuju Kisaran.

Perjalanan itu tidak sebentar.

Konon, sekitar dua minggu perjalanan ditempuhnya dengan berjalan kaki. Sesampainya di Kisaran, ia tidak langsung memiliki tanah ataupun usaha. Ia bekerja sebagai buruh penyadap karet di perkebunan milik Belanda dengan upah sekitar 10 sen per hari.

Teman seperjalanannya memilih Tanjungbalai. Ia bekerja bersama nelayan dan pengusaha Tionghoa di kawasan jermal. Kehidupan mereka jauh dari kata mudah. Di Kisaran, si Opung tidur di barak pekerja. Makanannya pun sederhana, sering kali hanya singkong rebus.

Namun ada satu prinsip yang terus dipegang:

"Unang pola tu huta muli, molo so adong hepeng."

Jangan pulang ke kampung kalau belum membawa uang. Sepuluh tahun bekerja dan menabung.

Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan. Hingga akhirnya, pada sekitar 1935, ia mampu membeli tanah sekitar 5 hektare dari masyarakat Melayu setempat. Harganya sekitar 25 ringgit. Tanah itu masih berupa kawasan hutan sehingga harganya relatif murah.

Bersama saudara-saudaranya yang kemudian datang dari Toba, tanah tersebut dibuka secara bertahap. Tidak ada alat berat. Tidak ada modal besar. Hanya tenaga, parang, cangkul dan semangat untuk bertahan hidup. Dari situlah perjalanan sebuah keluarga dimulai.

Generasi Kedua: Dari Petani Menjadi Pengusaha

Waktu terus berjalan. Anak-anak si Opung tumbuh dan mendapatkan pendidikan. Sebagian bersekolah hingga tingkat SMP di Tanjungbalai atau Rantauprapat. Ketika memasuki usia produktif pada sekitar 1960-an hingga 1990-an, generasi kedua mulai melihat bahwa kehidupan tidak harus berhenti sebagai petani kecil.

Mereka melihat peluang baru.Perkebunan kelapa sawit mulai berkembang di Pesisir Timur Sumatera. Lahan yang sebelumnya digunakan untuk sawah atau masih berupa hutan secara perlahan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Dengan modal dari hasil kerja dan usaha kecil-kecilan, kebun mulai diperluas. Sebagian membuka kedai di persimpangan jalan. Keuntungan dari kedai tidak dihabiskan seluruhnya untuk kebutuhan konsumtif. Uangnya diputar kembali untuk membeli tanah dari masyarakat yang hendak menjual lahannya.

Dari 5 hektare berkembang menjadi 20 hektare. Kemudian 50 hektare. Dan terus berkembang sesuai kemampuan.

Merantau, tetapi Tidak Sendirian

Salah satu kekuatan generasi kedua adalah sistem kekeluargaan. Ketika usahanya mulai berkembang, saudara, adik, ipar, keponakan hingga teman dari kampung halaman diajak datang. Mereka diberi pekerjaan di kebun sekaligus tempat tinggal.

Lama-kelamaan terbentuklah sebuah komunitas. Orang-orang yang awalnya berasal dari satu huta di Toba akhirnya menetap di wilayah Pesisir Timur Sumatera. Namun proses tersebut tidak berlangsung dengan mengabaikan masyarakat setempat.

Untuk menjaga hubungan sosial, mereka mengurus administrasi kepemilikan tanah, membayar pajak, serta berkomunikasi dengan kepala desa dan tokoh adat Melayu. Hubungan baik dengan masyarakat yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Generasi Ketiga: Cucu-Cucu Mulai Masuk Kampus

Kini generasi ketiga telah tumbuh. Anak-anak dan cucu dari para perintis tersebut tidak lagi hanya mengandalkan tenaga fisik untuk mengelola kebun. Sebagian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Medan, Pulau Jawa, bahkan hingga ke luar negeri.

Sebagian kemudian menjadi PNS, TNI dan Polri. Sebagian lainnya memilih kembali ke kampung halaman untuk meneruskan dan mengembangkan usaha keluarga. Cara mengelola perkebunan pun berubah.

Jika generasi pertama membuka lahan menggunakan tenaga dan peralatan sederhana, generasi ketiga mulai menggunakan traktor, membangun tempat penampungan tandan buah segar (TBS), serta mengembangkan sistem pengelolaan yang lebih modern.

Sebagian lahan juga dikembangkan melalui pola kemitraan atau plasma. Misalnya, dari sekitar 20 hektare lahan, sebagian dijadikan kebun plasma yang melibatkan masyarakat sekitar. Hasilnya kemudian dibagi sesuai kesepakatan.

Artinya, perkebunan keluarga tidak hanya menjadi sumber ekonomi bagi pemilik lahan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk ikut menikmati manfaatnya.

Tanah yang Dulu 5 Hektare Kini Menjadi 120 Hektare

Ada keluarga yang kisahnya menjadi gambaran bagaimana sebuah aset kecil dapat berkembang dalam rentang hampir satu abad. Dari sekitar 5 hektare yang dibuka dan dimiliki pada generasi pertama, pada generasi ketiga berkembang menjadi sekitar 120 hektare kebun sawit dan sawah.

Yang bekerja di dalamnya pun bukan hanya satu kelompok etnis. Ada orang Toba, Melayu, Jawa hingga Banjar. Mereka bekerja berdampingan di atas tanah yang dahulu masih berupa hutan. Di sekitar kawasan itu tumbuh pula sekolah, masjid, gereja, warung, kedai dan berbagai fasilitas masyarakat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa proses migrasi tidak selalu berarti menggantikan masyarakat yang lebih dahulu tinggal. Dalam banyak kasus, terjadi proses pertemuan, penyesuaian dan kerja sama antara pendatang dengan masyarakat lokal.

Apa Rahasianya Bisa Bertahan Tiga Generasi?

Ada beberapa prinsip sederhana yang membuat sebagian keluarga mampu mempertahankan aset hingga tiga generasi.

Pertama, tidak menjual aset inti.

Tanah dianggap sebagai aset utama keluarga. Jika membutuhkan uang, aset sebisa mungkin tidak langsung dijual. Dalam keadaan tertentu, mereka memilih menggadaikan atau mencari sumber pembiayaan lain.

Kedua, menghormati pemilik tanah dan masyarakat terdahulu.

Hubungan dengan keluarga pemilik tanah pertama maupun tokoh masyarakat setempat tetap dijaga. Tradisi silaturahmi dan saling menghormati menjadi bagian penting. Bagi sebagian keluarga pendatang, hubungan tersebut bahkan dirawat dari generasi ke generasi.

Ketiga, anak harus sekolah.

Prinsipnya sederhana: kebun harus dikelola oleh orang yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki pengetahuan. Karena itu, pendidikan menjadi investasi keluarga.

Keempat, memiliki dua kaki.

Satu kaki di kebun, satu kaki lagi di usaha lain. Ketika harga sawit turun, keluarga masih memiliki kedai, usaha angkutan atau usaha lainnya sebagai penyangga ekonomi. Dengan begitu, kehidupan keluarga tidak sepenuhnya bergantung pada satu komoditas.

Pesisir Timur, Tanah yang Membuka Ruang bagi Banyak Orang

Kisah kecil ini sesungguhnya menggambarkan perjalanan panjang Pesisir Timur Sumatera. Wilayah Asahan, Kualuh, Bilah, Panai hingga kawasan Rokan dan Kampar di Riau memiliki sejarah panjang sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat.

Ada masyarakat Melayu yang telah lebih dahulu hidup dan membangun peradaban. Kemudian datang para pendatang dari berbagai wilayah. Ada orang Toba, Jawa, Banjar, Minang, Tionghoa dan kelompok masyarakat lainnya.

Mereka datang dengan latar belakang dan tujuan berbeda. Namun ketika tanah dibuka, kebun ditanam dan perdagangan berkembang, mereka bertemu dalam ruang ekonomi yang sama. Tanah yang dahulu berupa hutan kemudian berubah menjadi kebun, sawah dan permukiman.

Di atasnya berdiri sekolah tempat anak-anak Melayu belajar. Ada warung yang dikelola orang Jawa. Ada lapo milik orang Batak. Ada masjid. Ada gereja. Dan semuanya berada dalam satu lanskap kehidupan masyarakat Pesisir Timur.

Dari Satu Perantau Menjadi Sebuah Generasi

Pada akhirnya, kisah seorang Opung yang berjalan kaki dari Toba menuju Kisaran pada sekitar 1930-an bukan hanya cerita tentang seorang perantau. Ini adalah cerita tentang keberanian, kerja keras, pendidikan dan kemampuan menjaga aset lintas generasi.

Satu orang datang dengan keberanian. Satu bidang tanah menjadi modal awal. Puluhan tahun bekerja menjadi fondasi. Kemudian anak-anaknya membangun usaha. Cucu-cucunya melanjutkan dengan pendidikan dan teknologi. Begitulah sebuah keluarga dapat bertahan melewati zaman. Dan mungkin, di situlah salah satu wajah Pesisir Timur Sumatera.

Tanah yang sejak dahulu menjadi ruang pertemuan banyak manusia,tempat siapa pun yang datang dengan niat bekerja, menghormati masyarakat setempat dan mau membangun kehidupan, memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama.

Share:
Komentar

Berita Terkini