Kisah Listrik dan Api di Tepian Kota Kerang
![]() |
TANJUNGBALAI – Jika melintas di Kecamatan Tanjungbalai Utara, Kota Tanjungbalai, ada satu nama kelurahan yang cukup unik dan kerap memancing rasa penasaran, yakni S. Dengki.
Nama tersebut tak jarang menimbulkan pertanyaan. Apakah S. Dengki merupakan singkatan dari “Sungai Dengki”? Apakah ada kaitannya dengan kata “dengki”? Atau jangan-jangan berhubungan dengan keberadaan pabrik es di kawasan tersebut?
Ternyata, di balik nama S. Dengki tersimpan cerita sejarah yang panjang.
Kisahnya berkelindan dengan masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, peristiwa bumi hangus, hingga kehadiran sebuah kapal pembangkit listrik dari Jepang yang disebut pernah bersandar di tepian Sungai Asahan.
Lantas, bagaimana nama S. Dengki bisa muncul dan bertahan hingga sekarang?
S. Dengki di Tengah Kota Tanjungbalai
Kelurahan S. Dengki berada di kawasan Kecamatan Tanjungbalai Utara, Kota Tanjungbalai.
Wilayah ini berbatasan dengan Beting Seroja dan Sungai Tualang Raso di sebelah utara. Di sebelah barat berbatasan dengan Stasiun Kereta Api Tanjungbalai, sedangkan di sebelah selatan terdapat Jembatan Sungai Silau dan kawasan Pasar Monza. Sementara di sebelah timur, wilayahnya bersentuhan langsung dengan Sungai Asahan.
Kawasan S. Dengki dikenal sebagai salah satu wilayah permukiman yang cukup padat. Rumah-rumah panggung dan bangunan semi permanen berdiri berdekatan, terutama di kawasan pesisir Sungai Asahan dan Sungai Tualang Raso yang oleh masyarakat setempat juga dikenal sebagai Sungai Kapias.
Kondisi permukiman yang padat tersebut juga membuat kawasan ini memiliki catatan terkait peristiwa kebakaran.
Rumah yang sebagian menggunakan material kayu dan berdiri berdekatan membuat api berpotensi dengan cepat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya, terutama ketika musim kemarau dan kondisi angin cukup kencang.
Jejak Sejarah Tanjungbalai pada Masa Belanda
Untuk memahami cerita di balik nama S. Dengki, perjalanan sejarah Tanjungbalai perlu ditarik jauh ke masa pemerintahan kolonial Belanda.
Sebelum pendudukan Jepang, Tanjungbalai merupakan bagian dari wilayah Asahan yang berada dalam Keresidenan Sumatra Timur.
Pada masa itu, pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas untuk menunjang aktivitas pemerintahan dan perekonomian, termasuk jalan, jembatan, bangunan pemerintahan, serta fasilitas kelistrikan.
Keberadaan listrik menjadi bagian penting dalam perkembangan Tanjungbalai sebagai kota pelabuhan dan pusat aktivitas ekonomi.
Namun, situasi berubah ketika Jepang mulai memasuki Sumatra.
Ketika Perang Membawa Kegelapan
Pada 1942, kekuasaan kolonial Belanda di Sumatra berakhir setelah Jepang menguasai wilayah tersebut.
Dalam situasi perang, sejumlah fasilitas penting yang dianggap strategis menjadi sasaran penghancuran. Kebijakan bumi hangus dilakukan agar fasilitas yang ada tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak lawan.
Salah satu fasilitas yang disebut ikut terdampak adalah pembangkit listrik di kawasan Tanjungbalai dan Asahan.
Akibatnya, pasokan listrik terganggu. Kota yang sebelumnya mulai mengenal penerangan listrik kembali menghadapi kondisi gelap.
Dalam situasi tersebut, pemerintah pendudukan Jepang membutuhkan sumber listrik untuk mendukung aktivitas pemerintahan dan fasilitas militernya.
Di sinilah cerita mengenai SS. Denki mulai muncul.
SS. Denki, Kapal yang Disebut Membawa Listrik
Menurut kisah yang berkembang dalam sejarah lisan masyarakat setempat, pemerintah militer Jepang mendatangkan sebuah kapal pembangkit listrik dari Jepang.
Kapal tersebut disebut bernama SS. Denki.
Istilah “SS” lazim digunakan sebagai singkatan dari Steam Ship, sedangkan “Denki” dalam bahasa Jepang berkaitan dengan listrik.
Kapal tersebut dikisahkan bersandar di tepian Sungai Asahan, di kawasan yang berada di sekitar wilayah S. Dengki saat ini.
Dari kapal tersebut, sumber listrik kemudian dimanfaatkan untuk mendukung sejumlah fasilitas penting yang digunakan pemerintah pendudukan Jepang.
Bagi masyarakat pada masa itu, kehadiran kapal besar dengan mesin yang terus beroperasi tentu menjadi pemandangan yang tidak biasa.
Suara mesin, kepulan asap, serta cahaya listrik yang muncul dari kawasan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Dari sinilah, menurut cerita yang berkembang, kawasan tempat kapal itu bersandar mulai dikenal dengan sebutan Kampung SS. Denki.
Dari SS. Denki Menjadi S. Dengki
Setelah Jepang menyerah pada 1945 dan Indonesia memasuki era kemerdekaan, keberadaan kapal tersebut kemudian tidak lagi terlihat di kawasan itu.
Namun, nama yang telanjur melekat pada kawasan permukiman tersebut tetap bertahan dalam ingatan masyarakat.
Dalam perkembangan bahasa dan pengucapan sehari-hari, sebutan “SS. Denki” disebut mengalami perubahan.
Lambat laun, penyebutan “SS. Denki” kemudian menjadi “S. Dengki”.
Perubahan pengucapan tersebut dipercaya berlangsung secara alamiah melalui kebiasaan masyarakat dalam menyebut nama kawasan dari generasi ke generasi.
Hingga akhirnya, nama S. Dengki dikenal sebagai nama wilayah yang kemudian digunakan sebagai nama kelurahan.
Dengan demikian, nama yang sekilas terdengar seperti kata “dengki” ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Ironi Sejarah: Nama Listrik, tetapi Rawan Kebakaran
Ada sisi menarik sekaligus ironis dari perjalanan sejarah kawasan tersebut.
Nama S. Dengki yang dikaitkan dengan sebuah kapal pembangkit listrik justru kemudian melekat pada kawasan permukiman yang memiliki persoalan lain, yakni risiko kebakaran.
Kepadatan permukiman, bangunan yang berdiri berdekatan, serta penggunaan material kayu di sejumlah rumah menjadi faktor yang dapat mempercepat penyebaran api ketika kebakaran terjadi.
Sejumlah peristiwa kebakaran besar pernah melanda kawasan tersebut dari masa ke masa.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan terus berubah mengikuti perjalanan zaman. Dari kawasan yang dahulu dikisahkan menjadi tempat bersandarnya kapal pembangkit listrik, S. Dengki berkembang menjadi kawasan permukiman padat dengan dinamika kehidupan masyarakatnya sendiri.
S. Dengki, Nama yang Menyimpan Tiga Zaman
Pada akhirnya, nama S. Dengki bukan sekadar nama sebuah kelurahan.
Di dalamnya tersimpan cerita tentang perjalanan sebuah kawasan yang melewati berbagai zaman.
Pertama, masa kolonial Belanda, ketika Tanjungbalai berkembang sebagai kota pelabuhan dan mulai mengenal berbagai infrastruktur modern, termasuk kelistrikan.
Kedua, masa pendudukan Jepang, ketika perang dan penghancuran sejumlah fasilitas membuat kebutuhan terhadap sumber energi menjadi semakin penting. Pada masa inilah muncul kisah mengenai kapal pembangkit listrik SS. Denki.
Ketiga, masa kemerdekaan, ketika kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman yang dihuni masyarakat hingga sekarang.
Karena itu, ketika melintasi Jembatan Sungai Silau dan melihat papan nama Kelurahan S. Dengki, nama tersebut dapat dilihat bukan sekadar penunjuk wilayah.
Ia merupakan bagian dari sejarah lokal yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Sebuah nama yang konon bermula dari kehadiran kapal pembangkit listrik pada masa pendudukan Jepang, kemudian bertahan melewati pergantian zaman hingga menjadi nama kelurahan yang dikenal masyarakat Tanjungbalai hari ini.
Sumber rujukan yang disebut dalam naskah: Arsip Keresidenan Sumatra Timur 1887, literatur sejarah pendudukan Jepang di Sumatra 1942–1945, serta Data Monografi Kelurahan S. Dengki 2024.
