![]() |
| Foto : Ikan Gamak dari Sungai Bilah di sekitar Negeri Lama_ |
LABUHANBATU – Di tepian Sungai Bilah, kawasan Negeri Lama, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, terdapat satu tradisi unik yang masih dikenal masyarakat hingga kini, yakni “mananggok gamak”.
Tradisi tersebut berkaitan dengan kemunculan ikan gamak, ikan air tawar berukuran kecil yang secara musiman muncul dalam jumlah besar di aliran Sungai Bilah.
Bagi masyarakat Negeri Lama, ikan gamak bukan sekadar ikan kecil yang dapat dikonsumsi. Keberadaannya telah menjadi bagian dari identitas budaya, kuliner, sekaligus kearifan lokal masyarakat di sekitar sungai.
Ikan gamak dikenal memiliki tubuh kecil dan ramping, menyerupai ikan seluang atau ikan sungai kecil lokal. Sebagian masyarakat di daerah lain mungkin mengenalnya sebagai jenis ikan kecil yang memiliki karakter mirip ikan tali-tali atau teri sungai.
Dagingnya yang lembut dan rasanya yang lezat membuat ikan gamak dapat diolah menjadi berbagai hidangan tradisional. Di antaranya pepes atau pais, campuran sup kuah bening, hingga dicampurkan ke dalam adonan bakwan ikan dan rempeyek.
Muncul Hanya Beberapa Kali dalam Setahun
Keunikan ikan gamak terletak pada kemunculannya yang tidak berlangsung setiap hari.
Masyarakat setempat menyebut ikan tersebut biasanya muncul sekitar dua hingga tiga kali dalam setahun. Saat musimnya tiba, gerombolan ikan gamak dapat terlihat dalam jumlah besar di titik atau lubuk sungai tertentu di kawasan Negeri Lama.
Menariknya, menurut penuturan masyarakat setempat, gerombolan ikan gamak tersebut tidak selalu ditemukan di bagian hulu maupun muara Sungai Bilah.
Fenomena itu membuat kemunculan ikan gamak dipandang sebagai berkah musiman yang menjadi kekhasan kawasan Negeri Lama.
Waktunya pun tidak memiliki tanggal atau bulan yang pasti setiap tahun. Kemunculan ikan gamak dipercaya sangat dipengaruhi kondisi alam, pergerakan arus, serta siklus pasang surut air sungai.
Karena itu, masyarakat setempat lebih mengandalkan tanda-tanda alam untuk mengetahui kapan musim menanggok gamak akan tiba.
Tradisi Menanggok Gamak
Ketika musimnya datang, warga biasanya berbondong-bondong menuju tepian Sungai Bilah dengan membawa tanggok, alat tangkap tradisional berbentuk seperti serok atau jaring tangan.
Tanggok umumnya dibuat menggunakan kain atau kasa halus yang dipasang pada bingkai berbahan rotan atau kayu.
Dengan alat sederhana tersebut, warga menangkap ikan gamak yang bergerombol dan merapat ke tepian sungai.
Aktivitas menangkap ikan itu kemudian dikenal sebagai mananggok gamak.
Tradisi ini tidak hanya menjadi kegiatan mencari ikan untuk dikonsumsi. Bagi masyarakat Negeri Lama, mananggok gamak juga menjadi momentum sosial yang mempertemukan warga di tepian sungai ketika musimnya tiba.
Dikaitkan dengan Sejarah Kerajaan Bilah
Dalam cerita dan penuturan masyarakat serta budayawan lokal, keberadaan ikan gamak disebut memiliki kaitan dengan sejarah Kerajaan Bilah.
Ikan gamak diyakini telah dikenal sejak masa Kerajaan Bilah. Pada masa lampau, ikan kecil tersebut bahkan dalam cerita lokal kerap diasosiasikan sebagai “Ikan Raja”, yakni hidangan istimewa yang disajikan bagi kalangan istana.
Cerita tersebut juga menggambarkan adanya kearifan lokal masyarakat dalam menjaga keberadaan ikan gamak di sepanjang aliran Sungai Bilah.
Namun, kisah mengenai asal-usul dan kaitan ikan gamak dengan Kerajaan Bilah lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari tradisi lisan dan cerita budaya masyarakat setempat, yang masih membutuhkan kajian sejarah dan akademis lebih lanjut untuk memastikan aspek historisnya.
Kearifan lokal mengenai ikan gamak dan tradisi menangkapnya juga telah mendapat perhatian dalam upaya pelestarian budaya. Kisah “Mananggok Gamak” bahkan telah dibukukan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara dalam bentuk buku cerita anak.
Membaca Tanda-Tanda Alam
Masyarakat Negeri Lama memiliki cara tersendiri untuk mengenali datangnya musim gamak.
Salah satu indikator yang diperhatikan adalah perubahan warna air sungai. Kondisi tersebut biasanya muncul pada masa peralihan musim dan dipercaya berkaitan dengan kondisi perairan yang mendukung kehidupan organisme yang menjadi sumber makanan ikan.
Tanda lainnya adalah riakan air di tepian Sungai Bilah.
Ketika gerombolan ikan mulai mendekati tepian, permukaan air terlihat lebih banyak bergerak dan beriak akibat aktivitas ikan-ikan kecil yang berenang secara berkelompok.
Selain itu, kehadiran burung-burung air juga menjadi salah satu petunjuk yang diamati warga.
Burung-burung yang menukik dan berkumpul untuk mencari makanan di titik tertentu dapat menjadi tanda bagi masyarakat bahwa gerombolan ikan telah berada di kawasan tersebut.
Jika tanda-tanda alam itu mulai terlihat, tepian Sungai Bilah kawasan Negeri Lama biasanya berubah menjadi lebih ramai.
Warga datang membawa tanggok masing-masing untuk menangkap ikan gamak yang muncul secara musiman.
Warisan yang Perlu Dijaga
Tradisi mananggok gamak menunjukkan hubungan erat antara masyarakat Negeri Lama dengan Sungai Bilah sebagai sumber kehidupan.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut bukan hanya menyimpan cerita tentang makanan khas, tetapi juga pengetahuan masyarakat dalam membaca alam, menggunakan alat tangkap tradisional, serta menjaga hubungan sosial di lingkungan sekitar sungai.
Ikan gamak dan tradisi mananggok gamak pada akhirnya menjadi bagian dari kekayaan budaya Labuhanbatu yang patut dikenali dan dilestarikan.
Bagi generasi muda, kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang menangkap ikan kecil di sungai. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal tentang alam, tradisi, pangan, sejarah, dan identitas masyarakat Negeri Lama.
Jika dikelola dan didokumentasikan dengan baik, mananggok gamak berpotensi menjadi salah satu warisan budaya khas Labuhanbatu yang dapat terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
