-->

Dari Solusi Awal 1970-an hingga Pengerukan Awal 2000-an: Ketika Sungai Asahan Menghadapi Masalah Baru

Dua sungai besar, Sungai Asahan dan Sungai Silau, sejak dahulu menjadi urat nadi kehidupan kota. Keduanya bukan sekadar bentang alam, tetapi juga jalu

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Foto ilustrasi besi tua bangkai Kapal Keruk yang tenggelam di tengah Sungai Asahan di depan dermaga Pelabuhan Teluk Nibung, Tanjungbalai dahulu, dan foto sebagian kecil boat boat penangkapan ikan modern yang bertambat di Sungai Asahan di Tanjungbalai


Ditulis oleh: Harunsyah Arsyad

Tanjungbalai tidak pernah bisa dipisahkan dari sungai. 

Dua sungai besar, Sungai Asahan dan Sungai Silau, sejak dahulu menjadi urat nadi kehidupan kota. Keduanya bukan sekadar bentang alam, tetapi juga jalur transportasi, perdagangan, perikanan dan pintu masuk berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun, sungai juga memiliki persoalannya sendiri. Sedimentasi yang berlangsung terus-menerus membuat dasar sungai semakin dangkal. Jalur pelayaran yang dahulu cukup dalam perlahan mengalami pendangkalan.

Pemerintah pun beberapa kali melakukan pengerukan. Pengerukan pertama berlangsung dalam skala besar pada awal dekade 1970-an. Beberapa puluh tahun kemudian, pengerukan kembali dilakukan. Namun, dari dua episode pengerukan tersebut muncul sebuah pelajaran penting:

menyelamatkan sungai bukan hanya soal bagaimana mengeruk lumpurnya, tetapi juga bagaimana mengelola material hasil pengerukan tersebut.

Bangkai Kapal Keruk di Teluk Nibung

Sekitar awal 1970-an, pemerintah melakukan pengerukan besar-besaran terhadap Sungai Asahan dan Sungai Silau.

Dua kapal keruk dikerahkan.

Satu bekerja di Sungai Asahan dan satu lagi melakukan pengerukan di Sungai Silau.

Pengerukan ketika itu dilakukan untuk mengatasi pendangkalan sungai sekaligus memperlancar aktivitas pelayaran menuju kawasan Pelabuhan Tanjungbalai.

Setelah pekerjaan selesai, salah satu kapal keruk tidak langsung dibawa keluar dari kawasan tersebut.

Kapal itu justru ditempatkan sementara di Sungai Asahan, tepat di depan Dermaga Pelabuhan Teluk Nibung.

Namun, waktu berjalan.

Kapal tersebut tidak lagi mendapatkan perhatian dan perawatan sebagaimana mestinya.

Hari berganti tahun.

Besi kapal mulai berkarat. Bagian-bagian kapal perlahan lapuk hingga akhirnya kapal keruk tersebut tenggelam dan menjadi bangkai besi di dasar sungai.

Bagi warga Tanjungbalai, khususnya mereka yang tumbuh besar di kawasan Teluk Nibung pada era 1980-an, keberadaan bangkai kapal tersebut bukan sesuatu yang asing.

Hingga akhir dekade 1980-an, bangkai kapal keruk itu masih dapat terlihat dari kawasan dermaga.

Ia menjadi semacam monumen diam yang mengingatkan masyarakat bahwa puluhan tahun sebelumnya sungai ini pernah menjadi bagian dari proyek pengerukan besar.

Kini kapal itu mungkin hanya tinggal cerita.

Namun ceritanya menyimpan pertanyaan tentang bagaimana aset dan peralatan proyek dikelola setelah pekerjaan selesai.

Pengerukan Jilid II pada Awal 2000-an

Memasuki awal dekade 2000-an, persoalan pendangkalan kembali muncul.

Kapal-kapal dengan ukuran lebih besar semakin kesulitan untuk masuk dan bersandar di Pelabuhan Tanjungbalai akibat kondisi alur pelayaran yang semakin dangkal.

Aktivitas kepelabuhanan kemudian semakin terkonsentrasi di kawasan Pelabuhan Teluk Nibung.

Kondisi tersebut tentu menjadi persoalan bagi kota yang kehidupan ekonominya sangat bergantung pada aktivitas sungai dan pelabuhan. Pengerukan kembali menjadi pilihan. Kali ini, fokus pengerukan diarahkan ke Sungai Asahan. Harapannya sederhana. Dasar sungai kembali diperdalam. Alur pelayaran terbuka. Boat-boat nelayan dapat bergerak lebih leluasa. Aktivitas ekonomi masyarakat kembali berjalan. Secara sederhana, pengerukan memang terlihat sebagai solusi. Tetapi persoalan kemudian muncul pada satu hal yang sering luput dari perhatian:

ke mana material hasil pengerukan dibuang?

Ketika Limbah Kerukan Menjadi “Pulau-Pulau” Baru

Pada pengerukan awal 2000-an tersebut, material yang diangkat dari dasar Sungai Asahan berupa lumpur, pasir dan sedimentasi dalam jumlah besar.

Berbeda dengan pengerukan pada era 1970-an yang materialnya sebagian dimanfaatkan untuk membentuk kawasan reklamasi, pengelolaan material hasil pengerukan pada periode berikutnya menghadapi persoalan tersendiri.

Sebagian material memang dimanfaatkan untuk penimbunan dan reklamasi, antara lain di kawasan waterfront sekitar lokasi Masjid Terapung Tanjungbalai.

Namun, tidak seluruh material dapat ditempatkan pada kawasan reklamasi yang tersedia.

Di sinilah persoalan mulai berkembang.

Material hasil pengerukan kemudian ditumpuk di sejumlah bagian alur Sungai Asahan.

Seiring waktu, gundukan lumpur dan pasir tersebut semakin tinggi.

Dari sekitar kawasan Pulau Simardan hingga melewati Pulau Buaya di Teluk Nibung, muncul gundukan-gundukan material hasil pengerukan.

Lama-kelamaan sebagian gundukan mulai muncul ke permukaan air.

Muncullah daratan-daratan kecil yang kemudian dikenal masyarakat sebagai pulau-pulau baru.

Bukan pulau yang terbentuk secara alami.

Melainkan daratan yang terbentuk dari timbunan material sedimentasi hasil pengerukan.

Ketika Arus Sungai Membawa Sedimentasi Baru

Masalah tidak berhenti ketika gundukan tersebut muncul ke permukaan.

Sungai memiliki karakter alamiahnya sendiri.

Air terus bergerak.

Arus membawa lumpur, pasir dan material sedimentasi baru dari hulu menuju hilir.

Ketika material tersebut bertemu dengan gundukan-gundukan hasil pengerukan yang berada di tengah atau sekitar alur sungai, sebagian sedimentasi kemudian tertahan.

Sedikit demi sedikit, material baru menumpuk.

Gundukan bertambah besar.

Jarak antar-gundukan semakin menyempit.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola arus sungai.

Alur yang semestinya menjadi jalur air dan pelayaran dapat semakin menyempit apabila proses sedimentasi terus berlangsung tanpa pengelolaan yang baik.

Dengan kata lain, pengerukan yang seharusnya mengurangi pendangkalan justru dapat menyisakan persoalan apabila material hasil kerukan tidak ditempatkan pada lokasi yang tepat.

Sungai Asahan dan Persoalan Baru di Tengah Aktivitas Nelayan

Persoalan tersebut kini semakin kompleks karena kawasan di sekitar pulau-pulau timbunan itu juga dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas.

Salah satunya sebagai tempat bertambat atau parkir boat-boat penangkap ikan modern.

Perahu dan boat yang bertambat secara berkelompok membuat sebagian permukaan Sungai Asahan terlihat semakin padat.

Di satu sisi, keberadaan boat-boat tersebut menunjukkan bahwa sungai masih menjadi sumber kehidupan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, apabila tidak diatur dengan baik, aktivitas tambat kapal juga dapat menambah persoalan tata ruang sungai dan kelancaran alur pelayaran.

Artinya, persoalan Sungai Asahan hari ini bukan hanya mengenai sedimentasi.

Ada persoalan alur pelayaran, reklamasi, pemanfaatan tepian sungai, lokasi tambat kapal, hingga pengelolaan material hasil pengerukan.

Semua saling berkaitan.

Dari Solusi Menjadi Peringatan

Jika kita melihat kembali sejarahnya, pengerukan pada awal 1970-an sebenarnya dilakukan dengan tujuan yang sama: mengatasi pendangkalan dan menjaga fungsi Sungai Asahan serta Sungai Silau.

Hasil material pengerukan ketika itu bahkan menjadi bagian dari pembentukan sejumlah kawasan reklamasi.

Dari material pengerukan Sungai Asahan lahir kawasan reklamasi seperti Boting Seroja dan Patembo.

Sementara hasil pengerukan Sungai Silau turut membentuk Boting Semelur dan kawasan Lapangan Pasir.

Artinya, material yang dikeruk tidak selalu harus menjadi masalah.

Ia dapat menjadi sumber material pembangunan apabila direncanakan dan dikelola dengan baik.

Persoalannya kemudian bukan pada kegiatan pengerukan semata.

Persoalannya adalah bagaimana material hasil pengerukan itu ditempatkan dan dimanfaatkan.

Sungai Asahan Tidak Hanya Butuh Dikeruk

Sungai Asahan hari ini mungkin kembali membutuhkan perhatian serius.

Namun, solusinya tidak cukup hanya dengan mengeruk sungai setiap kali terjadi pendangkalan.

Jika pengerukan kembali dilakukan tanpa perencanaan menyeluruh, pertanyaan yang sama akan kembali muncul:

Ke mana lumpur dan pasir hasil kerukan akan dibuang?

Apakah akan menjadi material reklamasi?

Apakah akan digunakan untuk memperkuat tanggul?

Apakah akan dimanfaatkan untuk penataan kawasan pesisir?

Atau justru kembali ditumpuk di dalam badan sungai dan beberapa tahun kemudian berubah menjadi daratan baru?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab sebelum pengerukan berikutnya dilakukan.

Sebab, mengeruk sungai membutuhkan biaya besar.

Jangan sampai biaya besar dikeluarkan untuk mengatasi pendangkalan, tetapi beberapa tahun kemudian masalah yang sama muncul kembali karena sedimentasi terus berlangsung.

Jangan Sampai Sungai Asahan Kehilangan Alurnya

Sejarah pengerukan Sungai Asahan memberikan pelajaran sederhana.

Sungai tidak cukup hanya dibersihkan. Sungai harus direncanakan.

Alurnya harus dijaga.

Material sedimentasinya harus dikelola.

Kawasan reklamasi harus memiliki peruntukan yang jelas.

Lokasi tambat kapal perlu ditata.

Dan yang tidak kalah penting, setiap proyek pengerukan harus memiliki perencanaan jangka panjang, bukan hanya menyelesaikan persoalan untuk beberapa tahun.

Dulu, manusia mengeruk sungai untuk menyelamatkan jalur pelayaran.

Hari ini, kita harus belajar agar pengerukan tidak justru menciptakan masalah baru.

Karena jika tidak, bukan mustahil suatu hari nanti generasi mendatang akan melihat Sungai Asahan dengan wajah yang berbeda.

Bukan lagi sungai yang mengalir lebar menuju laut, tetapi sungai yang perlahan kehilangan alurnya karena sedimentasi dan daratan baru yang tumbuh di tengah-tengahnya.

Jangan sampai solusi hari ini menjadi masalah bagi anak cucu di kemudian hari.

Sebab Sungai Asahan bukan hanya milik Tanjungbalai hari ini.

Ia adalah warisan alam, jalur kehidupan dan bagian dari sejarah yang harus tetap mengalir untuk generasi yang akan datang.

Share:
Komentar

Berita Terkini