Dahulu kala hiduplah seorang ibu bersama seorang anak laki lakinya yg semata wayang. Mereka berdua tinggal disebuah gubuk kecil yg berdinding bambu berlantaikan kayu beratapkan atap dari daun nipah yg tersusun rapat dan rapi.
Gubuk kecil itu terletak di sebuah tepian teluk yg tidak begitu besar pada sebuah di sisi sebuah sungai besar berair dalam. Sungai besar dan deras itu mengalir dari daratan tinggi pulau Andalas (sekarang pulau Sumatera) yg airnya bersumber dari sebuah danau besar Tao Toba (danau kaldera dataran tinggi terbesar kedua di dunia) lalu bermuara ke laut ke sebuah selat yg cukup besar memisahkan antara pulau Andalas dan Tanah Semenanjung (sekarang Malaysia).
Sungai besar itu sehari hari disebut oleh si ibu Simardan dengan "Aek Doras" memakai logat daerah asalnya di hulu bercampur bahasa pesisir seperti kebanyakan penduduk yg tinggal disitu.
Sang ibu menamakan sungai besar itu dengan Aek Doras, karena arusnya yg sangat deras mengalir dari hulu yg terletak di sebelah Barat Daya bila dari gubuk mereka menuju ke Utara bermuara ke Selat Besar (sekarang Selat Malaka).
Ayah Simardan sudah lama meninggalkan mereka. Sang ayah meninggal dunia karena terserang penyakit malaria sehabis pulang dari ladang ketika itu bersama istri dan anaknya Simardan yg masih bayi sedang menyusui. Sang ayah jatuh sakit sepulang mencari rotan dari hutan yg mudah dicari dan banyak terdapat di sepanjang daratan tepian sungai itu. Kala itu kawasan sepanjang tepian Sungai Asahan baik di sebelah Barat maupun di sebelah Timurnya masih ditutupi hutan hutan lebat.
Ayah Simardan meninggal ketika anak tunggalnya itu masih kecil belum tahu apa apa berumur sekitar setahun lebih. Pada waktu itu mereka bertiga pun belum lama pula meninggalkan kampung asalnya dari hulu. Hanya baru sekitar delapan purnama yang lalu mereka meninggalkan kampung kelahiran di hulu Aek Doras (sekarang sekitar Porsea). Ketika itu mereka berangkat ke luar kampung asal dengan menyusuri Aek Doras (Sungai Asahan) menggunakan rakit bambu yg diberi kajang sekadarnya sebagai pelindung dari panas dan hujan. Kajang itu dijalin dari daun rumbia sebagai naungan untuk tempat berlindung pada siang dan malam hari selama perjalanan. Semua sudah dipersiapkan sebelumnya terutama untuk melindungi anak mereka yg masih sangat muda.
Setelah ayah Simardan meninggal, untuk menghidupi dirinya bersama sang
anak tercinta yang sedang pada masa masa pertumbuhannya itu pada waktu siang
hari sang ibu rela keluar masuk hutan bersama sang bayi di dalam gendongannya
mencari hasil hasil hutan yang dapat dijual di pasar ataupun di barter
dengan bahan bahan
makanan atau barang
lainnya yg mereka perlukan.
Bila hasil penjualan yg didapatkannya pada hari itu berlebih maka sesekali ia tukarkan dengan bahan bahan keperluan sandang mereka. Bila ke pasar maupun ke ladang si ibu harus membawa Simardan di gendongan belakangnya. Begitu pula saat keluar masuk hutan untuk mencari hasil hasil hutan yg dapat dijual atau ditukar di pasar esok paginya.
Pasar tempat ibu Simardan menolak hasil hasil ladang maupun hasil hasil hutannya terletak pada sebuah tanjung di pertemuan sungai Aek Doras ini dengan Sungai Silau. Kampung itu sudah lebih ramai penduduknya dibanding dengan kampung kampung lainnya yg banyak dijumpai di daerah pesisir di hilir kedua sungai itu.
Kampung ini disebut penduduk disana dengan Kampung Tanjung yg mempunyai pasar terletak di tepian Sungai Silo bertemu dengan Aek Doras. Sungai Silau ini membelah sisi Selatan dan sisi Utara kampung itu, ia mengalir dari Barat menuju ke Timur ke Aek Doras.
Karena posisi Sungai Silau yg mengalir dari Barat ke Timur itu menyebabkan sinar matahari sepanjang hari senantiasa menaungi permukaannya sejak matahari mulai terbit di waktu pagi hari sampai tenggelamnya pada waktu sore hari. Sinar matahari yg dipantulkan permukaan air Sungai Silau ini menyilaukan mata penduduk kampung tanjung oleh karenanya merekapun menamakan sungai itu dengan Sungai Silau.
Setelah sang suami meninggal dunia, supaya ia dan anaknya Simardan tinggal tidak begitu jauh dari kampung tempat keberadaan pasar itu maka sang emak membawa puteranya pindah dari tanah perladangan lalu mendirikan gubuk kecil di luar kampung tanjung di sebuah teluk kecil yg sedikit ke hulu dari Kampung Tanjung.
Sebelumnya ia bersama mendiang suami ketika masih hidup bersama dahulu mereka mendirikan gubuk di sekitar daerah perladangan yg baru mereka buka sebagai tempat tinggal bersama sang bayi.
Disana di daerah perladangan baru mereka itu pada hamparan tanah yg lain memang sudah ada pula beberapa perladangan penduduk lainnya. Daerah perladangan mereka itu terletak di atas Kampung Tanjung yg lebih ke hulu dari Aek Doras pada daratan di sekitar tepian sebuah teluk yg airnya cukup dalam (sekarang Teluk Dalam). Disinilah dahulunya mereka sekeluarga pertama sekali bermukim setelah meninggalkan kampung kelahiran di hulu. Kawasan peladangan baru merekapun letaknya tak begitu jauh dari gubuknya itu.
Setelah ditinggal sang suami sang ibu harus hidup sendiri
dalam membesarkan Simardan. Ia tidak begitu khawatir akan kebutuhan pangan
mereka karena tersedianya lahan yang cukup luas untuk bercocok tanam. Namun
karena tubuhnya yg sudah tak begitu kuat lagi karena tergerus usia yg sudah
semakin menua maka ia mengerjakan ladangnya seperlunya untuk bercocok tanam
semampunya saja. (Bersambung)
