-->

Pusing Kualuh, Ungkit Bilah, Lantam Panai

Duduklah sebentar di warung kopi pinggir Sungai Barumun, atau Sungai Bilah, atau Sungai Kualuh saat sore. Dengarlah percakapan orang-orang lama (tua).

Editor: PoskotaSumut.id author photo

Ketika Sungai Dikonotasikan Membentuk Watak Manusia Labuhanbatu Raya


Ilustrasi
                                                                Oleh: Harunsyah Arsyad

Duduklah sebentar di warung kopi pinggir Sungai Barumun, atau Sungai Bilah, atau Sungai Kualuh saat sore. Dengarlah percakapan orang-orang lama (tua). Pasti akan muncul satu kalimat yang sering muncul, setengah bercanda setengah serius:  

"Hati-hati... itu orang Kualuh, pusingya lihai. Itu orang Bilah, ungkitnya tajam. Itu orang Panai, lantamnya minta ampun."

Kalimat itu adalah "Pusing Kualuh, Ungkit Bilah, Lantam Panai".  

Sebuah anekdot sosial yang sudah lama hidup di tanah Labuhanbatu Raya. Ia bukan untuk memecah, tapi untuk memahami. Karena di balik tiga sungai besar itu, tersimpan tiga karakter manusia yang berbeda.

1. PUSING KUALUH: Sang Penjinak Arus

Bayangkan Sungai Kualuh. Dari hulu di Aek Kanopan, ia tidak pernah lurus. Mengelok, memutar, menyelinap di antara rawa dan hutan, baru kemudian meluas di sekitar Teluk Pule bagaikan pusaran (pusingan) lalu bermuara ke Selat Malaka di kuala Tanjung Leidong.

Begitu juga orangnya.  

"Pusing" adalah simbol kecerdikan dan keluwesan. Orang Kualuh sejak dulu banyak hidup dari berdagang dan berlayar. Untuk selamat, mereka harus pandai membaca arus, angin, dan watak orang.

Ciri khasnya: diplomatis. Saat ada konflik, mereka tidak maju dengan dada. Mereka "memusing" dengan kata-kata. Menengah. Mencari solusi. Dalam berniaga, orang Kualuh jago melobi. Bisa menjual barang yang sama dengan 3 cara berbeda sesuai siapa pembelinya.

Dulu, para juragan boat dari Kualuh lah yang paling cepat tahu harga karet di Asahan lalu harga kain di Penang. Karena mereka "memusing" jalurnya.  

Tapi ingat, "pusing" punya dua mata pisau. Jika dipakai untuk kebaikan ia jadi kebijaksanaan. Jika dipakai untuk menipu, ia jadi kelicikan. Karena itu orang tua Kualuh selalu berpesan: "Pusinglah untuk mencari jalan, bukan untuk menjebak orang."

2. UNGKIT BILAH: Sang Pembongkar Kebenaran

Sekarang geser ke Sungai Bilah. Airnya lebih deras, lebih merah. Mengaliri pusat peradaban lama: dari hulu di Paluta masuk ke Rantauprapat, melewati Negeri Lama hingga bertemu mengungkit Sungai Barumun di Tanjung Lumba Lumba dekat Labuhan Bilik sana.

Wataknya pun demikian.  

"Ungkit" artinya mengorek sampai ke akar. Orang Bilah tidak suka hal yang menggantung. Ada yang janggal, harus dibongkar. Ada yang salah, harus diluruskan.

Sejak zaman Kesultanan, wilayah Bilah adalah pusat administrasi. Lahirlah para penghulu, pemuka adat, dan cerdik pandai yang terbiasa berdebat. Mereka kritis. Blak-blakan. Kalau berdiskusi bisa sampai malam karena satu data belum cocok. 

Di pasar Rantauprapat, pedagang paling ditakuti adalah "orang Bilah" yang beli barang. Karena ia akan mengungkit: "Ini timbangannya pas? Ini barangnya asli? Suratnya mana?"  

Sisi baiknya: mereka penjaga kebenaran dan prinsip. 

Sisi gelapnya: kalau tidak dikontrol, "mengungkit" bisa jadi kebiasaan buruk. Mengungkit masa lalu, mengungkit aib, atau mengungkit hanya untuk cari panggung. Padahal tugas "ungkit" sejati adalah menegakkan keadilan.

3. LANTAM PANAI: Sang Penjaga Marwah

Terakhir, turunlah ke tempat bertemunya Sungai Bilah dengan Sungai Barumun di Panai Tengah (Labuhan Bilik) lalu bermuara ke Selat Malaka di Panai Hilir (Sei. Berombang). Dahulu ini pusat Kesultanan Panai. Bandar dagang yang kapalnya hilir mudik ke Malaka, Penang, dan Singapura.

Dari kemakmuran laut lahirlah karakter "Lantam". 

Lantam artinya berwibawa, bergaya, dan menjaga penampilan. Orang Panai punya prinsip: "Muka boleh pas-pasan, tapi pakaian harus rapi. Dompet boleh tipis, tapi wibawa jangan."

Lihat saja kalau ada pesta adat di Panai. Baju Melayu lengkap, tanjak di kepala, bicara lantang dan berwibawa. Itu bukan sombong. Itu cara mereka menjaga "marwah" kampung dan keluarga. 

Dalam berunding, orang Panai tidak mau kalah pamor. Mereka akan datang paling rapi dan bicara paling tegas. Karena bagi mereka, kehormatan adalah mata uang.

Namun "lantam" juga perlu rem. Jika berlebihan ia jadi pamer, angkuh, dan kosong. Lantam yang benar adalah wibawa yang ada isinya. Bukan kulit tanpa isi.

KETIKA TIGA KARAKTER BERTEMU DI SATU MEJA

Orang tua dulu sering membuat perumpamaan jenaka:  

Ada masalah di kampung. 

1.  Suruh orang Kualuh yang negosiasi. Karena dia akan "memusing" agar semua pihak tidak tersinggung dan dapat jalan keluar.

2.  Suruh orang Bilah yang mengaudit. Karena dia akan "mengungkit" semua berkas sampai ketahuan siapa yang benar.

3.  Suruh orang Panai yang jadi juru bicara. Karena dia akan tampil "lantam" agar keputusan kampung dihargai orang luar.

Lihat? Tidak ada yang lebih baik. Semuanya saling butuh.

PENUTUP: SUNGAI YANG MENGALIR, WATAK YANG MENGAJAR

"Pusing Kualuh, Ungkit Bilah, Lantam Panai" adalah bukti bahwa alam membentuk manusia. Sungai mengajari kita cara hidup.

Dari Kualuh kita belajar fleksibilitas.  

Dari Bilah kita belajar integritas.  

Dari Panai kita belajar tentang harga diri.

"Semuanya berpulang pada individunya. Ambil baiknya, tinggalkan buruknya. Itu lebih baik."

Hari ini Labuhanbatu Raya sudah jadi tiga kabupaten. Tapi sungai-sungainya masih mengalir. Selama sungai itu mengalir, cerita tentang "Pusing, Ungkit, Lantam" akan terus diceritakan. 

Bukan untuk membeda-bedakan. Tapi untuk mengingatkan: Kita berbeda, tapi kita satu Labuhanbatu.

Share:
Komentar

Berita Terkini