MEDAN – Jalur alternatif Paritohan kini menjadi salah satu pilihan bagi pengendara yang ingin menghindari kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Lintas Timur Sumatra (Jalinsum). Rute ini melintasi kawasan pegunungan di sekitar Danau Toba dengan menyuguhkan panorama alam yang indah, namun juga memiliki medan yang cukup menantang.
Jalur tersebut menghubungkan Medan – Pematangsiantar – Parapat – Porsea – Paritohan (Kecamatan Pintu Pohan Meranti) – Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan – Pulo Raja, Kabupaten Asahan, sebelum kembali tersambung ke Jalinsum.
Sebagian besar ruas jalan di kawasan operasional strategis telah beraspal dengan kondisi yang baik. Namun, pada beberapa titik penghubung antarkabupaten masih ditemukan ruas jalan yang rusak maupun berbatu sehingga pengendara diminta tetap berhati-hati.
Secara geografis, jalur Paritohan didominasi tanjakan curam, turunan panjang, serta tikungan tajam berkelok mengikuti kontur perbukitan di sepanjang Sungai Asahan. Kondisi tersebut membuat pengemudi harus memiliki kemampuan mengemudi yang baik, terutama saat melintasi medan ekstrem.
Di balik tantangan tersebut, jalur ini menawarkan pemandangan alam yang memukau. Pengendara akan disuguhi panorama lembah hijau, kawasan hutan, hingga pemandangan kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Keunggulan utama jalur Paritohan adalah mampu memangkas potensi terjebak kemacetan panjang yang kerap terjadi di Jalinsum, terutama di kawasan Tebing Tinggi, Batu Bara, dan Kisaran pada masa libur panjang maupun arus mudik.
Selain itu, udara di sepanjang jalur ini terasa lebih sejuk karena berada di kawasan dataran tinggi, sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman dibandingkan melintasi jalur pantai timur yang cenderung panas.
Meski demikian, pengendara juga perlu mewaspadai sejumlah risiko. Pada malam hari, jalur ini relatif sepi dengan penerangan jalan yang terbatas. Fasilitas umum seperti SPBU, bengkel, maupun tempat istirahat juga tidak sebanyak di jalur utama.
Saat musim hujan, kawasan Paritohan juga memiliki potensi longsor akibat kontur tanah yang berbukit. Karena itu, pengendara disarankan memantau kondisi cuaca sebelum melakukan perjalanan.
Sebelum melintasi jalur ini, pastikan kendaraan berada dalam kondisi prima, terutama sistem pengereman, ban, dan kopling, mengingat medan yang didominasi tanjakan dan turunan curam.
Jalur alternatif Paritohan lebih direkomendasikan bagi pengguna mobil pribadi yang ingin menikmati perjalanan pada siang hari sambil menghindari kepadatan kendaraan berat di Jalinsum. Dengan persiapan yang matang, jalur ini dapat menjadi pilihan perjalanan yang lebih lancar sekaligus menawarkan pengalaman menikmati keindahan alam pegunungan Sumatera Utara.
