
Foto (80an) : Dua anak Labuhan Bilik sedang menunggu tumpukan Nenas Pane yang akan di seberangkan ke Tanjung Sarangelang untuk dikirim ke berbagai kota di Sumatera Utara
Ditulis Oleh: Harunsyah Arsyad
Nenas Panai atau yang oleh sebagian masyarakat disebut Nenas Pane, bukan sekadar buah yang tumbuh subur di kawasan pesisir Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Buah ini telah menjelma menjadi komoditas unggulan sekaligus bagian dari identitas budaya masyarakat Panai.
Namun, di balik rasa manis, aroma khas dan teksturnya yang rapuh, tersimpan pertanyaan menarik mengenai asal-usul tanaman yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat pesisir Labuhanbatu tersebut.
Salah satu hipotesis yang berkembang menyebutkan bahwa Nenas Panai kemungkinan berasal dari wilayah Kampar, Riau, yang kemudian dibawa ke kawasan Panai melalui proses migrasi dan perpindahan masyarakat pada masa lalu.
Hipotesis tersebut sekaligus menjadi pembanding terhadap cerita yang berkembang di tengah masyarakat yang mengaitkan asal-usul nenas tersebut dengan Bogor pada sekitar 1902.
Dugaan keterkaitan Panai dengan Kampar antara lain diperkuat oleh kemiripan karakteristik lingkungan tumbuh, terutama ekosistem lahan gambut dan kawasan pesisir yang memungkinkan tanaman nenas berkembang dengan baik.
Meski demikian, asal-usul tersebut masih membutuhkan penelitian sejarah, botani dan genetika yang lebih mendalam untuk dapat memastikan jalur persebarannya.
Jejak Nenas di Tanah Kesultanan Panai
Nama Panai sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Kawasan Panai dikenal sebagai bagian dari wilayah pesisir yang memiliki sejarah Kesultanan Panai, dengan pusat pemerintahan dan aktivitas perdagangan yang antara lain berkembang di Labuhanbilik.
Di kawasan inilah masyarakat Melayu Panai sejak masa lalu memanfaatkan lahan di sekitar sungai, rawa dan kawasan pesisir untuk berbagai aktivitas pertanian dan perkebunan.
Nenas kemudian berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Lama-kelamaan, buah tersebut tidak hanya menjadi tanaman yang dibudidayakan masyarakat, tetapi juga melekat dengan nama wilayah tempat ia tumbuh.
Dari sinilah sebutan Nenas Panai semakin dikenal.
Keterkaitan antara tanaman dan wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Bagi masyarakat Panai, nenas bukan sekadar tanaman penghasil buah. Ia menjadi bagian dari cerita kehidupan masyarakat pesisir yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tanah Pesisir dan Cita Rasa yang Khas
Salah satu alasan Nenas Panai memiliki daya tarik tersendiri adalah karakteristik buahnya.
Kawasan Panai Tengah dan sekitarnya memiliki bentang alam yang dipengaruhi lingkungan pesisir, lahan pasang surut dan karakteristik tanah tertentu yang mendukung pertumbuhan tanaman nenas.
Buah Nenas Panai dikenal memiliki sisik yang relatif tebal dengan daging buah yang bertekstur khas.
Rasanya manis, dengan aroma yang kuat dan mudah dikenali.
Karakteristik tersebut membuat Nenas Panai memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat dan penikmat buah.
Namun, rasa khas tersebut tentu tidak semata-mata ditentukan oleh tanah. Varietas tanaman, bahan tanam, umur panen, tata cara budidaya dan kondisi lingkungan juga berperan dalam menentukan kualitas buah.
Karena itu, menjaga karakter asli Nenas Panai bukan hanya persoalan mempertahankan tanaman, tetapi juga menjaga seluruh ekosistem dan tradisi budidayanya.
Dari Buah Menjadi Identitas Budaya
Nenas Panai akhirnya berkembang jauh melampaui fungsi sebagai komoditas pertanian.
Buah ini telah menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Labuhanbatu.
Bahkan, simbol Nenas Panai telah diangkat dalam karya seni dan kerajinan daerah. Salah satunya melalui motif tenun songket khas Ika Bina En Pabolo, yang memadukan motif Nenas Panai dengan kelapa sawit.
Ragam hias berbentuk sisik dan buah nenas tersebut tidak sekadar menjadi ornamen. Di dalamnya terkandung simbol kesuburan, kemakmuran dan kekayaan alam daerah.
Dengan demikian, Nenas Panai memiliki dua wajah sekaligus.
Di satu sisi, ia adalah produk pertanian yang memberikan penghasilan bagi masyarakat.
Di sisi lain, ia merupakan simbol kebudayaan yang merepresentasikan karakter masyarakat dan lingkungan pesisir Labuhanbatu.
Tidak mengherankan jika dalam berbagai kegiatan promosi daerah, termasuk keikutsertaan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di Medan, Nenas Panai kerap ditampilkan sebagai salah satu produk unggulan dan identitas daerah.
Ketika Petani Berhadapan dengan Pasar
Di balik popularitasnya, perjalanan Nenas Panai tidak selalu manis.
Para petani di kawasan pesisir masih menghadapi berbagai persoalan, terutama dalam mata rantai perdagangan.
Ketergantungan terhadap tengkulak atau pedagang perantara membuat posisi tawar petani terkadang menjadi lemah. Ketika harga berada di bawah harapan petani, hasil kerja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk merawat tanaman tidak selalu berbanding lurus dengan pendapatan yang diperoleh.
Persoalan lainnya adalah menjaga kualitas dan keaslian cita rasa.
Praktik pemeraman menggunakan bahan tertentu, termasuk karbit, menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian apabila ingin menjaga citra Nenas Panai sebagai buah dengan kualitas dan cita rasa khas.
Karena itu, penguatan edukasi kepada petani mengenai panen, penanganan pascapanen dan standar kualitas menjadi penting.
Menyelamatkan Nenas Panai dari Sekadar Cerita
Jika Nenas Panai ingin tetap menjadi ikon Labuhanbatu, maka pelestariannya tidak cukup hanya dengan menjadikannya oleh-oleh atau pajangan pada setiap pameran.
Harus ada upaya serius untuk menjaga sumber daya genetik tanaman, memperkuat petani, memperbaiki tata niaga dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Pengembangan produk turunan juga menjadi pilihan yang menjanjikan.
Nenas Panai dapat dikembangkan menjadi selai, sirup, dodol, keripik dan berbagai produk olahan lainnya. Dengan begitu, nilai ekonomi buah tidak berhenti ketika buah segar terjual.
Lebih jauh lagi, pengembangan industri olahan berbasis Nenas Panai dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk melihat pertanian bukan sebagai pekerjaan tradisional semata, melainkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan industri pangan lokal.
Dari Kampar, Panai, hingga Menjadi Warisan Labuhanbatu
Jika benar Nenas Panai memiliki hubungan sejarah dengan tanaman nenas dari wilayah Kampar yang dibawa melalui perpindahan masyarakat pada masa lalu, maka perjalanan buah ini merupakan bagian menarik dari sejarah migrasi dan pertukaran budaya di kawasan pesisir timur Sumatera.
Namun, hipotesis tersebut masih terbuka untuk diteliti lebih jauh.
Sejarah lisan masyarakat, arsip kerajaan dan pemerintahan kolonial, catatan perdagangan, penelitian botani, hingga analisis genetika tanaman dapat menjadi pintu untuk mengungkap perjalanan Nenas Panai secara lebih objektif.
Apakah benar berasal dari Kampar?
Apakah ada jalur persebaran dari wilayah lain?
Atau justru Nenas Panai berkembang melalui beberapa jalur migrasi tanaman sekaligus?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak dijawab melalui penelitian yang serius.
Sebab, menemukan asal-usul Nenas Panai bukan hanya tentang mencari dari mana sebuah tanaman berasal.
Lebih dari itu, ia adalah upaya membaca kembali perjalanan masyarakat pesisir Sumatera, bagaimana manusia berpindah, membawa tanaman, membangun permukiman, mengembangkan pertanian dan akhirnya menciptakan identitas baru di tempat yang mereka tinggali.
Kini, Nenas Panai telah menjadi milik masyarakat Labuhanbatu.
Dari tanah pesisir Panai, buah itu tumbuh, berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Manisnya Nenas Panai bukan hanya terletak pada rasa buahnya, tetapi juga pada sejarah panjang manusia dan tanah yang membesarkannya.