-->

Wingfut : Ketika Nama Menjadi Sejarah di Aek Nabara Labuhan Batu

Sebutlah "Wingfut" kepada orang Labuhanbatu yang lahir tahun 70-an ke bawah. Dijamin mereka langsung mengangguk.

Editor: PoskotaSumut.id author photo

 

Oleh: Harunsyah Arsyad

Sebutlah "Wingfut" kepada orang Labuhanbatu yang lahir tahun 70-an ke bawah. Dijamin mereka langsung mengangguk.  

"Ooo... Aek Nabara kan maksudnya?"

Padahal di peta resmi, tidak ada nama "Wingfut". Yang ada hanya Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu.  

Lalu dari mana asal nama itu? Dan mengapa ia bertahan puluhan tahun di memori kolektif?

Jawabannya terletak pada dua zaman: zaman perkebunan dan zaman distribusi.

1. BABAK PERTAMA: KETIKA KAKI BERSAYAP (WINGFOOT) MENDARAT DI BILAH HULU 

Jauh sebelum sawit jadi raja, tanah di Aek Nabara adalah hamparan karet milik perusahaan asing asal Amerika Serikat: Goodyear.

Goodyear punya satu logo yang sangat ikonik dan mudah diingat anak-anak hingga orang tua: gambar kaki yang bersayap. Dalam bahasa internasional logo itu disebut "Wingfoot" = Kaki Bersayap.

Bagi pekerja dan masyarakat lokal saat itu, melafalkan "Wingfoot" terlalu sulit. Lidah Melayu Pesisir dan Toba lebih fasih menyebutnya  "Wingfut".

Sedikit demi sedikit, nama itu melekat. 

"Kerja di mana?" → "Di Wingfut".  

"Rumah di mana?" → "Di komplek Wingfut".  

Nama perusahaan perlahan menjadi nama wilayah. 

Itu terjadi dari era kolonial hingga pasca kemerdekaan. Sampai akhirnya tahun 1970-an datang gelombang nasionalisasi. Aset Goodyear diambil alih negara dan masuk ke dalam PPN/PTPN. 

Nama resmi pun dikembalikan ke akar geografis: Aek Nabara.  

Aek = air/sungai. Nabara = merah/keruh. Nama yang menggambarkan warna Sungai Bilah dan Sungai Barumun saat musim hujan.

Logo kaki bersayap itu sudah lama dicopot dari gerbang daerah. Tapi nama "Wingfut" tetap hidup di warung kopi, di surat, dan di cerita orang tua.

2. BABAK KEDUA: KETIKA NAMA LAMA BERTEMU LOGISTIK BARU 

Puluhan tahun berlalu. Aek Nabara kini bukan lagi hanya kebun. Ia menjelma jadi titik simpul di Jalur Lintas Timur Sumatera.

Di sinilah letak historynya yang indah bagaikan kebetulan. 

Hari ini, di Aek Nabara berdiri gudang-gudang besar logistik. Salah satunya milik PT Wings Food, perusahaan FMCG nasional yang produknya mulai dari mie, sabun, hingga minuman ada di setiap warung dan pajak di Labuhanbatu.

Dari gudang inilah truk-truk berangkat. Mengantar kebutuhan pokok ke Rantauprapat, ke Kualuh, ke Panai, bahkan sampai ke Panipahan  perbatasan Sumut-Riau.

Bahkan saat pemerintah mengukuhkan Kampung Siaga Bencana (KSB) di pelataran Kantor Camat Bilah Hulu, bantuan logistik makanan dari Wings Food turut hadir. Nama "Wingfut" kembali terdengar lantang di tanah yang dulu sudah akrab dengan sebutan itu".

3. WINGFUT: JEMBATAN ANTARA MEMORI DAN MASA KINI

Jadi, apa itu "Wingfut"? 

Ia bukan perusahaan. Ia adalah kenangan. 

Kenangan akan era ketika satu logo perusahaan bisa menjadi nama satu kawasan.  

Kenangan akan keringat para penyadap karet di bawah pohon milik Wings Foot yang kini sudah ganti jadi sawit milik PTPN.  

Dan kini, kenangan itu bertemu dengan realitas baru: Aek Nabara sebagai pusat niaga dan distribusi PT. Wings Food. Angkat topi buat perusahaan ini yang jeli mengamati pasar, perpaduan antara mindset lokal dan jalur distribusi strategis. 

"Wingfut" adalah perpaduan unik antara memori kolektif masyarakat terhadap sejarah perkebunan korporasi global di masa lalu, dan hub logistik komersial di masa kini.

Nama boleh berubah di papan nama kantor. Tapi nama yang lahir dari mulut rakyat, seringkali lebih kuat dan lebih awet.

Hari ini kalau Anda melintas di Aek Nabara, cobalah berhenti sebentar. Tanyakan pada abang motor atau ibu warung: "Dulu ini daerah apa, Buk?" 

Jawabannya pasti sama: "Ini dulunya Wingfut, Nak..."

Dan di satu kalimat sederhana itu, tersimpan satu abad sejarah Labuhanbatu.

Share:
Komentar

Berita Terkini