TAPANULI UTARA – Hujan deras menerjang kawasan pembangunan Bendungan Sarulla di Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (26/9/2026). Arus air disebut nyaris menutup kawasan proyek dan membuat sejumlah peralatan pekerjaan sulit diselamatkan.
Informasi yang diperoleh dari warga setempat menyebutkan, kawasan pembangunan bendungan yang diproyeksikan untuk mengantisipasi persoalan banjir justru ikut terdampak derasnya arus air.
“Hancur lae,” ujar seorang warga saat menginformasikan kondisi proyek kepada redaksi.
Kepala Desa Parsaoran Samosir, Kecamatan Pahae Jae, Fernando Siburian, mengatakan hujan mulai turun sekitar pukul 16.00 WIB. Derasnya hujan kemudian menyebabkan kawasan proyek nyaris tertutup arus air.
Fernando yang memantau kondisi di lokasi menyebut tidak banyak peralatan proyek yang dapat diselamatkan.
Dampak cuaca ekstrem tersebut berpotensi memengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Namun, hingga kini belum terdapat penjelasan teknis dari kontraktor maupun pihak pengawas mengenai sejauh mana kejadian tersebut berdampak terhadap target penyelesaian, kondisi pekerjaan, maupun metode pelaksanaan proyek.
Nilai Proyek Hampir Rp25 Miliar
Pembangunan Bendungan Sarulla di Kecamatan Pahae Jae disebut memiliki nilai anggaran hampir Rp25 miliar. Dalam penelusuran sebelumnya, terdapat pula informasi mengenai salah satu paket pekerjaan dengan nilai sekitar Rp9 miliar.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga sekitar, paket pekerjaan senilai sekitar Rp9 miliar tersebut diduga dikerjakan melalui subkontraktor dengan nilai sekitar Rp6 miliar.
Selisih sekitar Rp3 miliar itu menjadi salah satu hal yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, terutama terkait struktur pelaksanaan pekerjaan, mekanisme pembayaran, ruang lingkup pekerjaan, serta dasar penghitungan nilai pekerjaan.
Namun, informasi yang tersedia belum dilengkapi dokumen kontrak, dokumen pengadaan, RAB, maupun dokumen pembayaran yang dapat digunakan untuk memastikan angka dan struktur pekerjaan tersebut.
Karena itu, informasi mengenai nilai sekitar Rp9 miliar dan sekitar Rp6 miliar tersebut masih perlu ditempatkan sebagai informasi yang berasal dari sumber lapangan, bukan sebagai kesimpulan mengenai adanya pelanggaran.
Persoalan Lahan dan Material
Pelaksanaan pembangunan Bendungan Sarulla sebelumnya juga menjadi perhatian setelah muncul sejumlah keluhan masyarakat terkait pekerjaan di sekitar lokasi.
Keluhan yang mencuat antara lain berkaitan dengan persoalan lahan yang bersinggungan dengan pembangunan bendungan serta harga batu kali yang dinilai kurang berpihak kepada masyarakat.
Media kemudian melakukan penelusuran ke lokasi pada Selasa (15/9/2026), termasuk melihat metode pengecoran, material yang digunakan, serta informasi mengenai nilai salah satu paket pekerjaan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penggunaan molen atau Site Mix untuk pekerjaan beton. Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan informasi bahwa pekerjaan seharusnya menggunakan Ready Mix.
Pengawas proyek, Rinaldi Sianturi, sebelumnya menjelaskan bahwa penggunaan molen kecil dilakukan karena masyarakat tidak mengizinkan atau tidak memberikan akses jalan bagi kendaraan Ready Mix menuju lokasi pekerjaan.
Menurut Rinaldi, kendala akses tersebut menjadi alasan pelaksana menggunakan molen kecil.
Ketika kembali dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, termasuk penggunaan material batu kali, Rinaldi belum memberikan respons atau penjelasan berdasarkan informasi yang tersedia.
Sepekan kemudian, Sabtu (26/9/2026), kawasan proyek kembali menjadi perhatian setelah hujan deras sekitar pukul 16.00 WIB menyebabkan lokasi pekerjaan diterjang arus air.
Bupati Pernah Turun ke Lokasi
Pembangunan Bendungan Sarulla melibatkan pelaksana pekerjaan atau kontraktor, pengawas proyek, pemerintah daerah, serta masyarakat di sekitar lokasi.
Rinaldi Sianturi disebut sebagai pengawas proyek dan sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai penggunaan molen kecil dalam pekerjaan beton.
Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Hutabarat juga telah melakukan kunjungan ke lokasi bersama perangkat daerah dan unsur pemerintahan setempat.
Masyarakat Pahae merupakan kelompok yang terdampak langsung oleh keberadaan proyek, termasuk dalam persoalan akses menuju lokasi pekerjaan, isu lahan, serta material yang muncul dalam penelusuran sebelumnya.
Namun, berdasarkan bahan yang tersedia, belum tercantum secara lengkap identitas badan usaha kontraktor, nomor kontrak, pemberi pekerjaan, konsultan pengawas, maupun struktur hubungan kontraktual di antara para pihak.
Metode Pengecoran Perlu Dilihat dari Spesifikasi Kontrak
Persoalan metode pengecoran menjadi salah satu titik yang perlu diperjelas dalam pelaksanaan pekerjaan Bendungan Sarulla.
Ready Mix merupakan beton yang pencampurannya dilakukan di batching plant berdasarkan komposisi tertentu sebelum dikirim ke lokasi menggunakan truck mixer.
Sementara Site Mix merupakan proses pencampuran material beton secara langsung di lokasi pekerjaan menggunakan molen atau concrete mixer.
Penggunaan Site Mix tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mutu beton tidak memenuhi persyaratan. Mutu beton antara lain bergantung pada ketepatan takaran material, proses pencampuran, kualitas bahan, pengendalian air, serta pengujian yang dipersyaratkan.
Dengan demikian, penggunaan molen kecil juga tidak cukup untuk menyimpulkan adanya pelanggaran teknis.
Hal yang perlu diperiksa adalah kesesuaian metode tersebut dengan spesifikasi teknis dan dokumen kontrak, pemenuhan mix design, proses pengendalian mutu, serta pelaksanaan pengujian beton sesuai persyaratan pekerjaan.
Kondisi tersebut menjadi penting untuk memastikan apakah metode yang digunakan di lapangan memang sesuai dengan ketentuan teknis pekerjaan Bendungan Sarulla atau terdapat hal yang perlu diperbaiki oleh pihak pelaksana.
.jpg)