-->

MENARA AIR TIRTANADI: Saksi Bisu 120 Tahun Transformasi Medan dari Kampung ke Kota Modern

Berdiri kokoh setinggi 42 meter dengan berat 330 ton di persimpangan Jalan Sisingamangaraja - Jalan Pandu, Menara Air Tirtanadi bukan sekadar bangunan

Editor: PoskotaSumut.id author photo


                                                         Ditulis oleh : Harunsyah Arsyad

Berdiri kokoh setinggi 42 meter dengan berat 330 ton di persimpangan Jalan Sisingamangaraja - Jalan Pandu, Menara Air Tirtanadi bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah ikon paling otentik, penanda kapan Medan mulai berubah dari permukiman sederhana di tepi Sungai Deli menjadi kota modern.

Dibangun Belanda Tanpa Pompa, Hanya Andalkan Gravitasi (dari ketinggian daerah Sibolangit kemudian di tampung di bak menara tinggi lalu didistribusikan)

Pembangunan menara ini diinisiasi oleh pemerintah kolonial Belanda pada 8 September 1905. Proyek ini dijalankan oleh perusahaan air bersih yang berpusat di Amsterdam, NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih, di bawah pimpinan Hendrik Cornelius Van Den Honert. Pembangunan rampung sepenuhnya pada akhir 1908.

Hebatnya, teknologi awalnya sangat ramah lingkungan dan canggih di zamannya. Tidak pakai mesin pompa.

Air bersih diambil dari mata air Rumah Sumbul di dataran tinggi Sibolangit, sekitar 45 kilometer dari Medan. Dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian, air dialirkan secara alami menggunakan sistem gravitasi hingga sampai ke menara di jantung kota. Dari tangki raksasa di atas menara itulah, air kemudian didistribusikan ke seluruh pelanggan.

Dulu Simbol Kesenjangan, Kini Milik Semua

Pada awalnya, fasilitas modern ini tidak untuk semua orang. Ini adalah simbol kesenjangan sosial kolonial yang nyata.

Air dari menara hanya dikhususkan untuk kantor pemerintahan Belanda, instansi publik, serta perumahan elit Eropa di kawasan Polonia. Sementara masyarakat bumiputera kebanyakan masih harus mengandalkan sumur timba, Sungai Deli, dan Sungai Babura untuk mandi, mencuci, dan minum.

Baru setelah Belanda angkat kaki pada tahun 1942, pengelolaan diserahkan bertahap ke pemerintah Indonesia. Tonggak sejarahnya terjadi pada 1979, melalui Perda Sumatera Utara No. 11 Tahun 1979, status kepemilikan resminya diubah di bawah kendali PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara.

Sejak saat itu, filosofinya berubah 180 derajat: dari eksklusif menjadi inklusif. Air menara dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang kasta sosial.

Masih Hidup Hingga Era Modern

Memasuki era modern, Menara Air Tirtanadi tidak pensiun. Ia tetap hidup dengan dua peran penting:

a. Fungsi Distribusi yang Masih Aktif

Menara ini masih tergabung aktif dalam sistem pasokan air bersih kota yang dikelola Perumda Tirtanadi. Hanya saja, sumber airnya kini tidak lagi hanya dari Sibolangit. Untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk, suplainya telah dikombinasikan dengan pasokan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sunggal dan Delitua.

b. Cagar Budaya dan Ikon Wisata Heritage

Arsitekturnya yang bergaya Eropa klasik, dengan kaki-kaki baja kokoh dan tangki raksasa berkelir merah-putih, menjadikannya landmark visual utama di jantung Kota Medan. Ia menjadi spot foto pusaka (heritage) favorit wisatawan dan fotografer urban.

Bahkan, di area luar menara, pengelola sempat menyediakan keran air siap minum gratis yang bisa dimanfaatkan langsung oleh pejalan kaki yang melintas — sebuah simbol bahwa air yang dulu hanya untuk elit, kini benar-benar kembali ke rakyat.

Dari 1905 hingga 2026, Menara Air Tirtanadi telah berdiri selama 120 tahun. Ia melihat Medan tumbuh, dijajah, merdeka, dan menjadi metropolitan. Jika dinding bajanya bisa bercerita, ia akan bercerita tentang kesenjangan, tentang teknologi gravitasi yang mendahului zamannya, dan tentang sebuah kota yang akhirnya belajar untuk berbagi air secara adil.

Share:
Komentar

Berita Terkini